Monday, 26 October 2026 kolkita79@gmail.com
TERKINI
TIGA EMAS TATI, DOA SEORANG IBU

TIGA EMAS TATI, DOA SEORANG IBU

KOLKITA-KEFAMENANU, Tiga medali emas berhasil diraih Graciana Tati Oematan (22), atlet Shorinji Kempo asal Kefamenanu-TTU-Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memperkuat Kota Semarang, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 di GOR Kridanggo, Salatiga. Di balik keberhasilan perempuan yang akrab disapa Tati itu, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu di Kefamenanu-Timor yang bertahun-tahun membesarkan empat anak seorang diri.

 

    Ibu itu bernama Ancila Nino Bahan, guru agama Katolik di SDK Kiupukan II, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Beliau tinggal di Kefamenanu, setiap hari menggunakan sepeda motornya ke sekolah yang jarak tempuhnya sekitar 20-an km.

 

    Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, Ancila menjalani dua tanggung jawab besar sekaligus. mendidik anak-anak di sekolah dan memperjuangkan masa depan keempat anaknya di rumah.

 

    Penghasilannya sebagai guru honorer komite terbatas. Namun dari keterbatasan itulah tumbuh seorang putri yang kini mampu berdiri di podium kemenangan dengan tiga medali emas.

 

    Bagi Ancila, alumnus STP St. Petrus Keuskupan Atambua, kabar kemenangan Tati bukan sekadar berita olahraga. Itu adalah jawaban atas perjuangan panjang, pengorbanan yang tidak selalu terlihat dan doa yang terus dipanjatkan seorang ibu.

Tiga Emas dari Tiga Nomor Pertandingan

    Prestasi Graciana menjadi salah satu sorotan dalam cabang olahraga Shorinji Kempo pada Porprov XVII Jawa Tengah 2026.


    Berdasarkan laporan SemarangNetwork.com dari Salatiga, Graciana berhasil menyapu bersih tiga medali emas dari tiga nomor pertandingan yang diikutinya yakni randori putri kelas 50–55 kilogram, embu berpasangan putri Kyukenshi dan embu berpasangan campuran Kyukenshi.

 

    Perjuangan itu tidak ringan. Jadwal pertandingan yang berdekatan memaksanya berpindah dari satu tatami ke tatami lainnya, dengan tuntutan teknik, konsentrasi dan ketahanan fisik yang berbeda.

 

    “Saya bermain di tiga nomor, jadi fisik saya betul-betul diuji. Saya harus pindah dari tatami A, B, dan C, tetapi puji Tuhan akhirnya bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan meraih tiga medali emas,” ungkap Graciana, sebagaimana dikutip SemarangNetwork.com.

 

    Prestasi tersebut bukan keberhasilan yang datang secara tiba-tiba.

Tati telah mengenal olahraga Shorinji Kempo sejak berusia 10 tahun. Untuk menghadapi Porprov Jawa Tengah 2026, ia menjalani persiapan selama lebih dari dua tahun.

 

    Rekam jejak prestasinya juga telah mencapai tingkat nasional. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh–Sumatera Utara 2024, ia berhasil meraih medali emas. Sementara dalam PON Beladiri di Kudus, Tati memperoleh satu medali perak dan dua medali perunggu.

 

    Dalam Porprov kali ini, Tati bersama dua atlet Kota Semarang lainnya, Sabilu Habiburrahman Zarkasi (21) dan Gilang Ramadan Al-Fayed (21), mengumpulkan total delapan medali emas. Sabilu meraih tiga emas, sedangkan Gilang menyumbangkan dua emas.

 

    Di tengah persaingan olahraga yang ketat, keberhasilan Tati memperlihatkan bahwa ketekunan dan disiplin mampu membawa seorang anak dari Kefamenanu-TTU-Timor menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun daerah tempatnya kini menetap.

 

Seorang Ibu Katekis, Empat Anak dan Satu Perjuangan

    Jauh dari arena pertandingan di Salatiga, Ancila menjalani kehidupan yang berbeda. Di SDK Kiupukan II sebagai katekis, ia mengajarkan pendidikan agama Katolik kepada murid-muridnya. Namun sepulang mengajar, tanggung jawab lain menantinya, memastikan keempat anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan.

 

    Sejak kepergian suaminya, Ancila menjadi penopang utama keluarga. Ia harus menjalankan peran sebagai ibu sekaligus pencari nafkah, dengan penghasilan yang tidak selalu mampu menjawab seluruh kebutuhan rumah tangga.

 

    Ada saat-saat ketika persoalan ekonomi menghadapkan dirinya pada pilihan yang menyakitkan.

 

    “Mau beli beras atau mau bayar uang sekolah,” tuturnya, menggambarkan keadaan yang pernah dihadapinya.

 

    Kalimat sederhana itu menyimpan kenyataan yang dialami banyak keluarga berpenghasilan terbatas, kebutuhan makan tidak dapat ditunda, sementara pendidikan anak-anak juga tidak boleh terhenti.

 

    Namun Ancila tidak membiarkan keadaan menentukan batas cita-cita anak-anaknya. Tati, sebagai putri sulung, terus didorong untuk belajar dan mengembangkan kemampuan olahraga. Sementara adik-adiknya sedang menempuh pendidikan di bidang kesehatan dan teknologi informasi dan sekolah dasar.

 

    Ancila berharap anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan dan kelak membangun kehidupan yang lebih baik daripada kesulitan yang mereka alami hari ini. Karena itulah, setiap prestasi Tati membawa harapan yang lebih besar daripada sebuah medali.

Dari Tanah Timor, Berprestasi untuk Semarang

    Perjalanan pendidikan dan pekerjaan membawa Tati meninggalkan kampung halamannya Kefamenanu-TTU-NTT dan menetap di Jawa Tengah.

 

    Menurut Ancila, keputusan untuk memindahkan administrasi kependudukan putrinya dilakukan atas kesepakatan keluarga demi kelangsungan pendidikan, pekerjaan dan kesempatan mengembangkan karier olahraga.

 

    Kini, Graciana tercatat sebagai atlet asal Bongsari, Kota Semarang. Walaupun tampil membawa nama Kota Semarang, asal-usul Tati tetap menjadi kebanggaan ibunya.

 

    “Kita bangga anak NTT bisa tampil membanggakan Jawa Tengah,” ungkap Ancila.

 

    Baginya, keberhasilan seorang anak tidak kehilangan makna hanya karena nama daerah yang dibawanya dalam pertandingan telah berubah.

 

    Justru di situlah kebanggaan itu bertambah, seorang anak yang dibesarkan dengan segala keterbatasan di Timor mampu memperoleh kesempatan, berkembang dan memberikan prestasi bagi daerah tempatnya menjalani kehidupan.

Pelatih dari Jauh yang Tidak Mengerti Kempo

    Di balik keseriusan latihan dan pertandingan, ada kisah kecil yang memperlihatkan kedekatan Tati dengan ibunya.

 

    Ketika berada di Jawa, Tati sesekali memperlihatkan gerakan latihan kempo melalui panggilan video. Ancila memperhatikan putrinya dari layar telepon. Ia bahkan terkadang memberikan komentar dan penilaian terhadap gerakan yang diperagakan Tati.

 

    Padahal, dengan nada bercanda, ia mengaku tidak memahami teknik kempo sama sekali. Kisah itu mengundang tawa, tetapi sekaligus memperlihatkan sesuatu yang mendalam.

 

    Seorang ibu tidak harus menguasai olahraga yang ditekuni anaknya untuk dapat memberikan dukungan. Kehadirannya, meskipun hanya melalui layar telepon, menjadi bentuk kasih yang terus menyertai perjalanan putrinya.

 

    Ancila mungkin tidak mengetahui cara melakukan randori atau embu. Namun ia memahami arti perjuangan, ketekunan dan keberanian menghadapi kesulitan. Nilai-nilai itulah yang terus ditanamkannya kepada anak-anaknya.

Sebuah Alkitab yang Menemani Perjalanan

    Ada satu kisah yang secara khusus membuat Ancila terharu ketika mengenang perjalanan Tati.

 

Saat putrinya berangkat ke Jawa, keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan dirinya memberikan banyak bekal materi. Ia menyerahkan sesuatu yang dianggapnya sangat berharga yakni sebuah Alkitab.

 

    “Saat dia ke Jawa, saya hanya kasih pegang Alkitab. Karena saya jauh, saya pesan, kuatkan dirimu, Nak, dengan Alkitab,” kenangnya.

 

    Bagi Ancila, Alkitab bukan sekadar benda yang dibawa dalam perjalanan. Ia berharap firman Tuhan menjadi pegangan bagi putrinya ketika harus menghadapi kehidupan jauh dari keluarga. Pesan tersebut ternyata dijalankan Tati dengan sungguh-sungguh.

 

    Menurut kesaksian ibunya, Tati membaca Alkitab secara tekun dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu. Bahkan ia menyelesaikan pembacaan tersebut sehari sebelum berangkat ke Salatiga untuk mengikuti pertandingan.

 

    Ancila menyebut pengalaman itu sebagai sebuah rahasia yang selama ini tersimpan di balik perjuangan putrinya.

 

    “Saya bangga. Puji Tuhan, anak itu tanding dengan kekuatan Roh Kudus,” ungkapnya penuh syukur.

 

    Bagi Ancila, iman tidak menggantikan latihan, disiplin atau kerja keras. Namun iman menjadi sumber keteguhan batin yang menolong putrinya menjalani proses panjang menuju keberhasilan.

 

    Ketekunan berlatih membentuk kemampuan Tati sebagai atlet. Sementara doa dan kehidupan rohani dalam keyakinan keluarganya, membantu menjaga keberanian serta harapan ketika menghadapi tantangan.

 

    Sebuah Alkitab yang dahulu diberikan sebagai bekal sederhana kini menjadi bagian dari cerita perjalanan seorang anak yang berhasil meraih tiga medali emas.

Tiga Emas, Empat Anak, Satu Harapan

    Bagi Ancila, keberhasilan Tati tidak berhenti pada perolehan medali. Ia berharap putrinya terus mengembangkan prestasi, menyelesaikan pendidikan dan memperoleh kesempatan yang lebih baik pada masa depan.

 

    Lebih dari itu, ia menyimpan harapan agar keberhasilan Tati kelak dapat membantu meringankan beban keluarga termasuk membiayai pendidikan adik-adiknya.

 

    “Semoga Tati terus tekun dengan pendidikan dan kegiatan kempo untuk mewujudkan masa depan adik-adiknya,” harap Ancila.

 

    Harapan tersebut memperlihatkan betapa luasnya makna sebuah kemenangan bagi keluarga sederhana.

 

    Tiga medali emas mungkin menjadi catatan prestasi olahraga bagi Kota Semarang. Namun, bagi Ancila, ketiganya juga menjadi lambang harapan bagi empat anak yang terus diperjuangkannya sejak kehilangan suami.

 

    Kisah ini sekaligus memperlihatkan bahwa prestasi olahraga tidak hanya lahir dari arena latihan dan pertandingan. Di belakangnya, sering kali ada keluarga yang bertahan dalam kesulitan, orang tua yang bekerja melampaui kemampuan serta pengorbanan yang tidak pernah tercatat dalam laporan pertandingan.

Emas di Podium, Kasih di Kefamenanu

    Ketika Graciana Tati Oematan berdiri sebagai peraih tiga medali emas, publik melihat keberhasilan seorang atlet berusia 22 tahun yang mampu menaklukkan tiga nomor pertandingan.

 

    Namun, di SDK Kiupukan II, ada seorang guru agama Katolik bernama Ancila Nino Bahan yang memiliki alasan tersendiri untuk bersyukur.

 

    Ia telah kehilangan suami, tetapi tidak kehilangan keberanian membesarkan anak-anaknya. Ia hidup dengan penghasilan terbatas tetapi tidak membatasi masa depan mereka. Ia tidak mampu selalu hadir di sisi putrinya, tetapi tetap menyertainya melalui perhatian, nasihat dan doa.

 

    Tati memang harus berpindah dari tatami A ke B dan C untuk meraih tiga medali emas. Sementara ibunya telah bertahun-tahun berpindah dari ruang kelas ke pekerjaan rumah tangga, dari tanggung jawab mencari nafkah ke perjuangan membayar pendidikan anak-anaknya.

 

    Keduanya menjalani pertandingan yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh ketekunan yang sama.

 

    Tiga medali emas kini menjadi milik Tati. Namun di balik kilauannya, ada kemenangan lain yang tidak diberikan di atas podium, kemenangan seorang ibu yang tetap setia membesarkan anak-anak, bahkan ketika kehidupan memaksanya berjuang seorang diri.

 

    Sebab sebelum Tati memenangkan emas di Salatiga, Ancila telah lebih dahulu mengajarkan arti kemenangan melalui kasih yang tidak menyerah. (KU)