METO me TABUA
KERING tapi BERSAMA
Kami, anak Pah Meto
Lahir dari tanah kering
besar bersama batu dan debu
hidup menanti hujan
bertahan dalam musim panjang
Tanah kami punya cerita
Meto tanpa air sulit menyatu
Digenggam, ia terurai
Ditiup angin, ia berhamburan
Tak ada bua’ (gumpalan),
hanya debu kehilangan ikatan
Hujan pertama turun
Tanah mulai lembap
Debu saling melekat
Segenggam tanah menjadi bua’.
Dari bua’, kami mengenal tabua’ (bersama)
Tanah menyatu karena air
Manusia bersatu karena kasih.
Di dalam ume (rumah), kami mengenal
asal-usul
Di bawah lopo (lumbung), kami duduk bersama
Di hadapan hau teas (kayu bercabang tiga)
kami mengingat leluhur,
tanah, keluarga, kehidupan
Kami mengenal susah
Panen tak selalu berhasil
Lumbung tak selalu penuh
Air tak selalu tersedia
Namun pintu rumah tetap terbuka
Sirih pinang tetap disuguhkan
Beban saudara tetap dipikul bersama
Itulah tabua’
Bukan sekadar berkumpul
bukan sekadar berasal dari satu tanah
Tabua’ hidup
dalam tangan yang membantu
dalam hati yang menerima
dalam kesediaan menanggung beban sesama
Uis Neno (Tuhan)
Engkau mengenal tanah kami
Engkau mengetahui kerasnya musim
beratnya hidup,
dalamnya harapan
Turunkan hujan bagi tanah kami
Turunkan kasih bagi hati kami
Jangan biarkan kami menjadi debu
di tengah saudara sendiri
Au, anah Pah Meto kau
(Saya, anak dari tanah kering ini)
Kelak kembali menjadi tanah
Tak banyak harta ditinggalkan
Cukuplah satu kenangan:
pernah hidup bersama
pernah berbagi dalam kekurangan
pernah menjadi saudara
Pah Meto adalah tanah kami
Bua’ adalah pelajaran kami
Tabua’ adalah cara hidup kami
Tanah kering merindukan air
Hati Atoni Pah Meto merindukan saudara
Palate……aue….
=KU=