Wednesday, 28 October 2026 kolkita79@gmail.com
TERKINI
JEJAK TANGAN AYAH

JEJAK TANGAN AYAH

JEJAK TANGAN AYAH

(Sumpah Atoen Munif Pah Meto)


Pagi itu, untuk pertama kalinya, Nando merasa malu memiliki seorang ayah yang bekerja di kebun.

Bukan karena ayahnya miskin. Bukan pula karena pakaiannya lusuh. Ia malu karena tiga hari sebelumnya, ketika teman-teman kuliahnya bertanya tentang pekerjaan orang tuanya, ia menjawab dengan begitu mudah, “Bapak saya punya usaha di kampung.”

Ia tidak sepenuhnya berbohong. Ayahnya memang punya usaha. Setiap pagi lelaki itu mengusahakan tanah yang keras agar keluarganya tetap bisa makan.

Hanya saja, Nando tidak pernah menganggap pekerjaan itu cukup pantas untuk diceritakan.

Bus terakhir dari Kefamenanu menurunkannya di pertigaan desa menjelang petang. Angin Oktober membawa debu ke wajahnya. Di kejauhan, bukit-bukit berdiri kecokelatan. Beberapa pohon asam tampak seperti orang tua yang kelelahan menunggu hujan.

Nando mengangkat tas ranselnya. Sepatunya yang putih segera berubah warna.

“Baru turun sudah marah dengan tanah sendiri?”

Suara itu datang dari belakang.

Mira berdiri di dekat kios kecil, memegang kantong berisi minyak goreng dan garam. Teman masa kecilnya itu masih seperti dulu. Rambut diikat seadanya, mata tajam, senyum yang selalu membuat orang sulit menyembunyikan sesuatu.

“Bukan marah. Debunya terlalu banyak.”

“Dari dulu juga begitu.”

“Makanya orang pergi.”

Mira memandangnya sebentar.

“Tidak semua yang pergi berhasil meninggalkan tanahnya, Nando.”

Nando tertawa pendek. Ia mengira Mira sedang bercanda.

Mereka berjalan bersama melewati rumah-rumah beratap seng, pagar batu, dan halaman yang mulai dibersihkan menjelang musim tanam. Di sebuah lopo, beberapa lelaki tua duduk mengunyah sirih pinang. Salah seorang mengangkat tangan.

“Nando! Sudah jadi orang kota?”

Nando tersenyum sambil mempercepat langkah.

Mira memperhatikannya.

“Kau sekarang malu disapa orang?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

“Sudahlah, Mir.”

Mira tidak bertanya lagi.

Ayah sedang duduk di depan rumah ketika Nando tiba.

Namanya Ama Leu. Usianya mendekati enam puluh, tetapi wajahnya tampak lebih tua. Kerut di dahinya dalam, kulit tangannya kasar, kuku-kukunya menyimpan warna tanah yang sulit hilang meskipun sudah dicuci.

Di sampingnya terletak sebuah cangkul dengan gagang yang mulai licin karena terlalu lama digenggam.

“Kau sudah datang?”

“Iya, Bapak.”

“Sudah makan?”

“Belum.”

Ayahnya berdiri, mengambil tas Nando, lalu memanggil istrinya.

“Biar dia makan dulu. Perjalanan jauh.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan tentang nilai kuliah. Tidak ada sambutan istimewa.

Nando masuk ke rumah dengan perasaan yang sukar dijelaskan.

Di meja makan tersedia jagung bose, sayur daun kelor, dan sambal lu'at. Ibunya, Mama Sako, menambahkan sepotong ikan kering ke piringnya.

“Makan yang banyak. Di kota mungkin kau jarang makan begini.”

Nando menatap ikan itu.

“Bapak belum makan?”

“Sudah,” jawab ibunya.

Namun ketika ia menoleh ke dapur, Nando melihat ayahnya mengambil jagung bose tanpa ikan.

Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung.

Malam itu, di dalam kamar, ia membuka telepon genggam. Sebuah pesan masuk dari teman kuliahnya.

Bro, liburan di kampung? Kirim foto tempat wisata, dong.

Nando memandang dinding rumahnya yang mulai retak.

Ia tidak membalas.

Keesokan paginya, suara cangkul membangunkannya.

Dari jendela, Nando melihat ayahnya berjalan menuju kebun. Matahari bahkan belum muncul sepenuhnya.

Mama Sako sedang menyiapkan air minum dalam jeriken kecil.

“Bapak ke kebun lagi?”

“Iya.”

“Setiap hari?”

Ibunya menoleh.

“Kalau tanah menunggu orang yang tidak sibuk, kita tidak pernah menanam.”

Nando diam.

“Kau bantu Bapak hari ini,” lanjut ibunya.

“Ma, saya baru sampai kemarin.”

“Bapakmu juga baru pulang dari kebun kemarin.”

Jawaban itu membuatnya kehilangan alasan.

Setengah jam kemudian, Nando berjalan menyusul ayahnya.

Kebun mereka terletak di lereng kecil. Tanahnya keras, sebagian tertutup rumput kering. Batu-batu tersebar seperti tulang yang muncul dari tubuh bumi.

Ayah sedang membalik tanah.

Cangkul terangkat. Menghantam permukaan. Tanah terbelah. Bongkahan terangkat. Gerakan itu berulang, perlahan, hampir tanpa suara.

“Bapak masih pakai cara begini?”

Ayah berhenti.

“Cara apa?”

“Cangkul. Orang sekarang sudah pakai mesin.”

“Kalau kau punya mesin, bawa ke sini.”

Nando terdiam.

Ayah kembali bekerja.

Beberapa menit kemudian, ia menyerahkan cangkul kepada anaknya.

“Coba.”

Nando menggenggam gagangnya. Ia mengangkat cangkul tinggi-tinggi, lalu menghantam tanah.

Bunyinya keras.

Tanah hanya tergores sedikit.

Ia mencoba lagi. Kali ini cangkul terpental mengenai batu.

Ayah segera mendekat.

“Jangan paksa tenaga melawan batu. Lihat tanahnya.”

“Tanah begini mau dilihat apa?”

Ayah mengambil cangkul.

“Di sini keras. Di sebelahnya ada celah. Masukkan mata cangkul dari sini. Angkat perlahan.”

Sekali gerakan, sebongkah tanah terbalik.

Nando memperhatikan.

“Itu namanya Ta’foe,” kata ayahnya. “Membalik tanah.”

Ayah menunjuk bongkahan yang baru terangkat.

“Gumpalan hasil pembalikan ini kami sebut tanbua'.”

Nando mengangguk sekadarnya.

“Kau pikir tanah ini mati karena kering?”

Nando mengangkat bahu.

“Lihat baik-baik.”

Ayah memecahkan sedikit bagian gumpalan itu. Di dalamnya terdapat akar-akar halus dan seekor serangga kecil yang segera bersembunyi.

“Tidak semua yang kelihatan kering sudah kehilangan kehidupan.”

Nando ingin menjawab, tetapi ayahnya sudah menyerahkan cangkul kembali.

“Sekarang coba.”

Menjelang pukul sembilan, telapak tangan Nando mulai melepuh.

Punggungnya basah. Napasnya pendek. Setiap kali mengangkat cangkul, ia merasa tanah sengaja menolak dirinya.

“Sudah, Bapak. Tanah ini terlalu keras.”

Ayah tidak menjawab.

“Buat apa dipaksa? Belum tentu hujan juga turun.”

Ayah menancapkan cangkulnya.

“Betul. Belum tentu.”

“Kalau begitu, kenapa kita kerja?”

Ayah memandang bukit di seberang.

“Karena hujan tidak menunggu kita selesai menyiapkan kebun.”

Jawaban itu membuat Nando kesal.

“Bapak selalu bicara begitu. Seolah-olah semua masalah bisa selesai dengan kerja keras.”

Ayah menoleh.

“Memang tidak semua selesai dengan kerja keras.”

“Lalu?”

“Tetapi banyak masalah menjadi lebih berat karena orang berhenti berusaha.”

Nando meletakkan cangkul.

“Saya tidak mau hidup begini terus.”

Ayah memandangnya lama.

“Bapak juga tidak mau kau hidup susah.”

“Makanya saya kuliah. Supaya tidak seperti Bapak.”

Kalimat itu keluar begitu cepat.

Sesudahnya, angin terasa berhenti.

Ayah menunduk, membersihkan tanah dari mata cangkul dengan ibu jarinya.

“Bagus,” katanya pelan.

Nando tidak menyangka jawaban itu.

“Kalau pendidikanmu membuat hidupmu lebih baik, Bapak senang.”

Ayah mengangkat wajah.

“Tetapi jangan sampai sekolah membuatmu merasa lebih tinggi daripada orang yang membiayainya.”

Nando berdiri kaku.

Ayah mengambil cangkul, lalu kembali bekerja.

Untuk pertama kalinya, Nando menyadari bahwa diam dapat terdengar lebih keras daripada kemarahan.

Siang itu, Mira datang membawa air dan ubi rebus.

Bersamanya ada Yohan, pemuda kampung yang pernah satu sekolah dengan Nando. Yohan tidak melanjutkan kuliah. Ia membantu orang tuanya berkebun dan sesekali bekerja sebagai tukang bangunan.

“Mahasiswa sudah kalah?” goda Yohan melihat tangan Nando.

“Tanahnya keras sekali.”

“Memang. Kalau lembek semua, kami tidak perlu banyak belajar.”

Mereka tertawa, kecuali Nando.

Mira duduk di atas batu.

“Bapakmu sudah mulai membalik tanah sejak minggu lalu,” katanya.

Nando menatap ayahnya yang sedang minum.

“Sendiri?”

“Sebagian besar.”

“Kenapa tidak minta bantuan?”

Yohan menyahut, “Bapakmu sudah terlalu sering membantu kebun orang lain. Sekarang giliran kami datang.”

Nando mengerutkan dahi.

“Kapan?”

“Besok. Kami sudah bicara dengan beberapa teman.”

“Memangnya Bapak minta?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Yohan memandangnya heran.

“Harus menunggu orang minta baru kita boleh membantu?”

Nando tidak menjawab.

Mira mengambil sepotong ubi.

“Dulu waktu bapakku sakit, siapa yang membantu menyiapkan kebun kami?”

Nando teringat samar-samar. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya sering pulang larut karena membantu keluarga Mira.

“Ayahmu,” jawab Mira sendiri. “Bapakmu datang tanpa kami panggil.”

Angin melewati daun-daun kering.

“Di kampung ini,” kata Yohan, “orang bisa mengerjakan kebunnya sendiri. Tetapi tidak berarti semua kesulitannya harus ditanggung sendiri.”

Nando menatap cangkul di dekat kaki ayahnya.

Ia mulai memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliahnya.

Malam harinya, Nando menemukan ayahnya duduk di bawah lampu kecil, menggosok minyak pada telapak tangan.

Ada bagian kulit yang pecah. Beberapa luka tampak masih baru.

“Bapak sakit?”

“Biasa.”

“Kenapa tidak istirahat?”

“Besok ada pekerjaan.”

Nando duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya mendengar suara jangkrik.

“Bapak marah dengan saya?”

“Untuk apa?”

“Soal yang saya bilang tadi.”

Ayah tersenyum tipis.

“Orang muda harus punya mimpi.”

“Tetapi saya sudah bicara kasar.”

Ayah menatap tangannya sendiri.

“Bapak juga pernah muda. Pernah merasa hidup orang tua terlalu kecil untuk mimpi saya.”

Nando menoleh.

“Bapak dulu mau jadi apa?”

“Guru.”

Nando terkejut.

“Bapak ingin jadi guru?”

“Iya.”

“Kenapa tidak jadi?”

Ayah memandang halaman yang gelap.

“Kakekmu meninggal waktu Bapak masih sekolah. Adik-adik masih kecil. Nenekmu tidak sanggup mengurus semuanya.”

“Bapak berhenti sekolah?”

Ayah mengangguk.

“Tidak menyesal?”

“Kadang-kadang.”

Itulah pertama kalinya Nando mendengar ayahnya mengakui penyesalan.

“Tetapi Bapak masih bisa mengajar,” lanjut lelaki itu.

“Mengajar siapa?”

“Kau.”

Nando menunduk.

Ayah mengusap gagang cangkul yang terletak di dekat kursinya.

“Bapak tidak punya banyak buku. Hanya tanah ini yang paling lama Bapak pelajari.”

Nando menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya.

“Besok saya ikut lagi.”

Ayah menoleh.

“Tanganmu masih sakit.”

“Biar.”

“Tidak perlu membuktikan apa-apa kepada Bapak.”

“Saya bukan mau membuktikan, Pak.”

Nando berhenti sejenak.

“Saya mau belajar.”

Pagi berikutnya, tujuh orang datang ke kebun.

Yohan membawa cangkul. Mira datang bersama dua perempuan muda. Ada pula Berto, yang baru pulang dari merantau, dan dua lelaki dari rumah tetangga.

Tidak ada upacara. Tidak ada sambutan.

Mereka meletakkan bekal di bawah pohon asam, membagi bagian pekerjaan, lalu mulai membalik tanah.

Nando memperhatikan cara mereka bekerja.

Yohan memilih bagian berbatu. Berto membuka tanah di dekat pagar. Mira dan teman-temannya membersihkan akar serta merapikan bagian yang telah diolah.

Ayah tidak banyak memberi perintah.

Sesekali ia menunjukkan cara menggunakan cangkul. Sesekali ia membiarkan orang muda mencoba sendiri.

Menjelang siang, Berto mengeluh.

“Bagian ini susah sekali.”

Nando mendekat.

“Coba dari samping. Ada celah dekat batu.”

Berto mengikuti petunjuknya.

Sebongkah tanah terangkat.

“Eh, mahasiswa sudah jadi guru kebun!”

Semua tertawa.

Nando ikut tertawa.

Ia memandang tangannya yang kotor. Ada kepuasan kecil yang tidak pernah ia rasakan ketika berhasil mendapat nilai tinggi.

Saat istirahat, mereka duduk melingkar di bawah pohon.

Ubi rebus dibagi. Air diedarkan. Seseorang mengeluarkan sirih pinang. Cerita berpindah dari harga jagung ke pertandingan sepak bola, dari pekerjaan di kota ke rencana memperbaiki jalan kebun.

Nando memandang wajah-wajah di sekelilingnya.

Mereka tidak memiliki pendidikan yang sama. Tidak memperoleh penghasilan yang sama. Tidak pula mempunyai mimpi yang serupa.

Namun di kebun itu, tak seorang pun bertanya siapa yang paling berhasil.

Mereka hanya memastikan pekerjaan selesai dan semua mendapat bagian makanan.

“Ini yang orang tua sebut tabua, ya?” tanya Nando kepada Mira.

Mira tersenyum.

“Kau baru tahu?”

“Saya kira bersama itu berarti semua orang harus mengerjakan hal yang sama.”

“Tidak,” jawab Mira. “Kadang orang membantu dengan tenaga. Kadang dengan pikiran. Kadang hanya datang membawa air.”

Ia menunjuk Mama Sako yang baru tiba membawa tambahan makanan.

“Coba bayangkan kalau semua orang hanya mau memegang cangkul. Siapa yang menyiapkan makan?”

Nando tertawa.

Dari kejauhan, ayahnya memperhatikan mereka.

Di wajah lelaki tua itu tampak sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Nando. Kegembiraan yang tenang.

Sore hari, ketika pekerjaan hampir selesai, hujan turun.

Mula-mula hanya beberapa tetes.

Lalu angin berubah dingin. Langit yang sejak pagi tampak pucat perlahan menggelap.

“Angkat barang!” teriak Yohan.

Mereka berlari menuju pohon asam. Sebagian tertawa. Sebagian berusaha menyelamatkan bekal.

Nando berdiri di tengah kebun.

Hujan mengenai wajahnya, membasahi rambut, masuk ke kerah bajunya.

Ia melihat gumpalan-gumpalan tanah yang sejak pagi mereka balik. Sebagian mulai menggelap oleh air. Di antara bongkahan itu, air meresap perlahan.

Ayah datang mendekat.

“Ayo berteduh.”

Nando tidak bergerak.

“Pak, lihat.”

Ayah mengikuti arah pandangnya.

“Hujan.”

“Iya.”

“Berarti pekerjaan kita tidak sia-sia?”

Ayah tersenyum.

“Belum tentu panen berhasil. Masih banyak yang harus dikerjakan.”

Nando menatapnya.

“Bapak tidak pernah bosan berharap?”

Ayah menarik napas panjang.

“Pernah.”

“Lalu bagaimana?”

“Besok pagi Bapak pergi ke kebun lagi.”

Nando tertawa kecil, tetapi matanya mulai basah.

Ia mendekati ayahnya.

“Maaf, Pak.”

Ayah mengerutkan dahi.

“Untuk apa lagi?”

“Karena saya pernah malu punya Bapak seorang petani.”

Ayah terdiam.

Hujan semakin deras.

“Saya pikir Bapak tidak berhasil menjadi siapa-siapa.”

Nando mengusap wajahnya.

“Padahal Bapak sedang mengusahakan hidup kami.”

Lelaki tua itu tidak segera menjawab.

Ia hanya meletakkan tangannya yang kasar di bahu anaknya.

“Kalau suatu hari kau berhasil,” katanya, “jangan malu pulang.”

Nando mengangguk.

“Dan jangan menunggu orang meminta bantuan sebelum kau melihat kesulitannya.”

Kali ini Nando tidak sanggup menjawab.

Ia memeluk ayahnya.

Di tengah kebun yang basah, dua lelaki itu berdiri lama. Seorang ayah yang pernah menguburkan mimpinya sendiri. Seorang anak yang baru mulai memahami harga sebuah pengorbanan.

Liburan Nando hampir selesai.

Pada malam terakhir, ia duduk di lopo bersama Mira dan Yohan. Di hadapan mereka, sebuah lampu menerangi buku catatan yang dibawanya dari kota.

“Apa itu?” tanya Yohan.

“Rencana.”

“Rencana apa?”

Nando menunjukkan beberapa halaman.

Ia menggambar pembagian lahan, mencatat kebutuhan benih, memperkirakan biaya, dan menyusun jadwal kerja. Ada pula catatan mengenai penampungan air hujan serta kemungkinan menjual hasil kebun secara bersama.

“Ini belum tentu berhasil,” katanya. “Saya harus cari informasi lagi.”

Mira membaca catatan itu.

“Kau mau bantu orang kampung?”

“Saya mau mulai dari kebun Bapak.”

“Lalu?”

“Kalau ada yang berguna, kita coba bersama.”

Yohan mengangguk.

“Bagus. Tetapi jangan cuma bagus di buku.”

Nando tersenyum.

“Makanya saya perlu kalian.”

Mereka berbicara hingga malam semakin larut. Beberapa rencana dianggap terlalu mahal. Ada gagasan yang ditolak. Ada yang diperbaiki. Nando mencoret beberapa halaman dan menulis ulang.

Tidak semua persoalan menemukan jawaban malam itu.

Namun mereka sepakat memulai dari sesuatu yang kecil.

Enam bulan kemudian, Nando kembali ke kampung.

Ia datang bukan karena liburan, melainkan karena ayahnya sakit.

Ama Leu terbaring di kamar. Tubuhnya lebih kurus. Tangan yang dahulu kuat menggenggam cangkul kini sering gemetar ketika mengangkat gelas.

Di dekat tempat tidur, Nando duduk sambil menceritakan kebun.

“Benih yang kita coba sebagian tumbuh baik. Sebagian gagal.”

Ayah tersenyum.

“Bagus.”

“Yang gagal juga bagus?”

“Kalau kau tahu sebabnya, itu juga pelajaran.”

Nando mengangguk.

“Yohan sekarang membantu mencatat hasil panen. Mira mengajak anak-anak muda menanam pohon di dekat sumber air. Kami masih belajar, Pak.”

Ayah memandangnya lama.

“Kau sudah menemukan pekerjaan?”

“Belum tetap.”

“Jangan habiskan masa mudamu hanya untuk kebun Bapak.”

Nando menggenggam tangan ayahnya.

“Saya tetap mau bekerja sesuai ilmu saya. Tetapi saya juga tidak mau ilmu itu berhenti di kepala saya.”

Ayah memejamkan mata.

Di luar, terdengar suara anak-anak bermain.

“Pak,” kata Nando pelan, “dulu Bapak bilang ingin menjadi guru.”

“Iya.”

“Bapak berhasil.”

Ayah membuka mata.

Nando tersenyum dengan bibir bergetar.

“Murid Bapak memang agak terlambat mengerti.”

Ama Leu tertawa kecil.

Lalu ia menangis.

Nando belum pernah melihat ayahnya menangis.

Beberapa minggu kemudian, Ama Benu meninggal.

Orang-orang datang sejak pagi. Mereka memenuhi halaman, membawa kayu bakar, beras, jagung, air, dan apa saja yang dapat membantu keluarga berduka.

Yohan mengurus tenda. Mira mendampingi Mama Lidia. Berto menjemput kerabat yang datang dari jauh.

Nando hampir tidak sempat memikirkan kebutuhannya sendiri.

Setiap kali ia merasa sesuatu belum dikerjakan, selalu ada orang yang telah mengerjakannya.

Menjelang malam, setelah para pelayat berkurang, Nando duduk sendirian di rumah.

Di samping dinding, cangkul ayahnya masih bersandar.

Ia mengambilnya.

Gagang kayunya terasa akrab. Bekas genggaman ayah masih tampak pada bagian yang mengilap.

Mira datang dan duduk tidak jauh darinya.

“Kau belum makan.”

“Nanti.”

Mira membiarkannya diam.

Beberapa saat kemudian, Nando berkata, “Dulu saya pikir Bapak hanya meninggalkan kebun.”

Mira menoleh.

“Ternyata?”

Nando memandang halaman.

“Lihat semua orang yang datang.”

Mira mengikuti pandangannya.

“Bapakmu pernah membantu banyak orang, Nando.”

“Saya baru tahu sebanyak ini.”

“Tidak semua kebaikan diceritakan kepada anak sendiri.”

Nando menunduk.

“Ada yang lebih berat daripada kehilangan Bapak.”

“Apa?”

“Mengetahui betapa banyak hal tentang dirinya yang belum sempat saya pahami.”

Mira tidak menjawab.

Ia hanya menggeser piring makanan lebih dekat kepada Nando.

Musim tanam berikutnya tiba.

Pada suatu pagi, Nando berdiri di kebun bersama beberapa anak muda. Di tangannya tergenggam cangkul tua peninggalan ayah.

Seorang anak bernama Deni, yang baru lulus SMA, memperhatikan tanah di hadapannya.

“Kak, kenapa tanah harus dibalik?”

Nando tersenyum.

Ia teringat pertanyaannya sendiri beberapa waktu lalu.

“Coba kau lihat tanah itu.”

“Keras.”

“Lalu?”

“Banyak batu.”

“Apa lagi?”

Deni mengangkat bahu.

Nando menancapkan cangkul pada celah tanah. Perlahan ia mengangkatnya. Sebongkah tanah terbalik.

“Ini namanya Ta’foe. Gumpalan hasil pembalikannya disebut tanbua’.”

Deni berjongkok, memegang bongkahan itu.

“Kalau begitu, tanah yang di bawah sekarang ada di atas?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Nando memandang lereng yang mulai menghijau.

“Karena kadang kita perlu mengubah cara memperlakukan sesuatu supaya bisa melihat apa yang selama ini tersembunyi.”

Deni tampak berpikir.

“Seperti apa?”

Nando memandang teman-temannya yang sedang bekerja. Ada yang mencangkul, mengangkat batu, menyiapkan benih, membawa air.

“Seperti orang-orang di sana. Kalau kau hanya melihat siapa yang memegang cangkul, kau mungkin mengira dialah yang paling banyak bekerja. Padahal kebun ini membutuhkan mereka semua.”

Deni mengangguk.

“Kalau begitu, saya bantu angkat batu.”

“Boleh.”

“Besok saya datang lagi.”

“Datanglah kalau kau bisa. Sekolah dan pekerjaan rumahmu juga penting.”

Anak itu berlari menyusul teman-temannya.

Nando berdiri sendirian sejenak.

Angin pagi bergerak melewati kebun. Di kejauhan, atap-atap rumah tampak di antara pepohonan. Dari sebuah lopo, terdengar suara orang bercakap-cakap.

Ia memandang tanah yang baru dibalik.

Dulu, ia ingin meninggalkan kampung karena mengira tidak ada masa depan di sana. Kini ia memahami bahwa masa depan tidak selalu menunggu di tempat yang jauh. Kadang ia dimulai ketika seseorang bersedia melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap tidak berharga.

Nando mengangkat cangkul.

Tanah terbelah.

Sebongkah tanbua’ terangkat ke permukaan.

Dari belakang, terdengar suara Yohan.

“Nando! Bagian sini berat. Bantu sebentar!”

Nando menoleh.

“Ayo!”

Ia berjalan mendekat.

Di bawah teriknya panas matahari Timor, beberapa tangan kembali bekerja.

Tidak semua tanah menjadi subur. Tidak semua benih akan tumbuh. Tidak semua rencana akan berhasil.

Namun pagi itu, tak seorang pun bekerja sendirian.

Dan di antara gumpalan tanah yang mereka balik, Nando akhirnya memahami warisan paling berharga dari ayahnya.

Tanah dapat diwariskan kepada anak-anak. Cangkul dapat berpindah tangan. Namun kehidupan hanya akan terus bertumbuh selama manusia bersedia memberi tempat bagi sesamanya.

Di kebun itu, suara cangkul kembali terdengar.

Nando tidak lagi malu mendengarnya.

Ia mengenali suara ayahnya di sana.


***SUMPAH PEMUDA atoen meto. Lasi-Tone, nheo ba le i. Palate.....aueee=KU=