DIAM?
Luk 14:1–6
Ada
satu kata menarik dalam Injil hari ini yaitu “diam.” Ketika Yesus bertanya
apakah diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari Sabat, mereka memilih diam. Berarti
mereka tetap diam atau tidak memberikan jawaban. Dalam konteks Injil, diam ini
memperlihatkan keengganan mengambil sikap, meskipun mereka dihadapkan pada
penderitaan seseorang.
Sikap
ini mengingatkan kita pada kehidupan. Ada yang diam bukan karena tidak mampu
melainkan karena takut mencoba, takut salah, takut dikritik atau terlalu nyaman
dengan kebiasaan yang ada. Tugas dikerjakan sekadar selesai, kesempatan belajar
dilewatkan, kesulitan sedikit saja membuat semangat menyerah.
Padahal masa muda bukan waktu untuk memelihara kenyamanan melainkan kesempatan untuk
membangun keberanian dan daya juang. Yesus tidak berhenti pada perdebatan. Ia
bertindak dan menyembuhkan.
Dari-Nya kita belajar bahwa pertumbuhan membutuhkan keberanian keluar dari kebiasaan yang membatasi diri. Mulailah dengan hal sederhana seperti berani bertanya ketika tidak memahami, membaca ketika orang lain memilih bermalas-malasan, menyelesaikan tanggung jawab tanpa terus diingatkan dan bangkit ketika mengalami kegagalan.
Jangan sampai kita memiliki banyak kesempatan untuk bertumbuh tetapi memilih diam sampai kesempatan itu berlalu. Sebab masa depan tidak dibentuk oleh kenyamanan yang terus dipertahankan melainkan oleh perjuangan yang berani dijalani.