Sunday, 08 November 2026 kolkita79@gmail.com
TERKINI
PELITA SAMA, NASIB BEDA

PELITA SAMA, NASIB BEDA

PELITA SAMA, NASIB BEDA

Keb 6:12–17; Mat 25:1–13

 

    Ada satu kata penting dalam Injil hari ini yakni “minyak.” Sepuluh gadis membawa pelita untuk menyambut mempelai. Semuanya menunggu. Semuanya mengantuk. Semuanya tertidur. Tetapi ketika mempelai datang, hanya lima yang siap.

    Apa yang membedakan mereka? Bukan pelitanya. Bukan pula kesediaan mereka menunggu. Perbedaannya terletak pada persiapan. Lima gadis bijaksana membawa minyak cadangan. Lima lainnya hanya membawa pelita.

    Mereka yang bijaksana memperhitungkan kemungkinan mempelai terlambat. Mereka yang bodoh hanya memikirkan keadaan saat itu. Yang satu mempersiapkan diri untuk bertahan. Yang lain merasa cukup dengan apa yang ada.

    Di sinilah bacaan pertama menemukan hubungannya dengan Injil. Kitab Kebijaksanaan mengajarkan bahwa kebijaksanaan ditemukan oleh orang yang sungguh mencarinya. Orang bijaksana bukanlah orang yang mengetahui segala sesuatu. Orang bijaksana adalah orang yang tahu apa yang penting dan mempersiapkannya sebelum terlambat.

    Minyak dalam perumpamaan dapat membantu kita memahami kebijaksanaan itu. Minyak menjaga pelita tetap menyala. Kebijaksanaan menolong iman tetap hidup ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

    Ketika lima gadis meminta minyak, yang lain tidak dapat membaginya. Bukan karena tidak peduli. Yesus sedang menunjukkan bahwa ada persiapan hidup yang tidak dapat dipinjam dari orang lain.

    Orang tua dapat mengajarkan iman tetapi tidak dapat menggantikan iman anaknya. Guru dapat memberikan pengetahuan tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab muridnya. Orang lain dapat menasihati kita tetapi keputusan untuk berubah tetap berada pada diri kita.

    Kita sering pandai mempersiapkan banyak hal tetapi kurang bijaksana mempersiapkan hati. Kita menabung untuk masa depan tetapi menunda perdamaian dengan keluarga. Kita sibuk mengejar keberhasilan tetapi lupa menjaga kejujuran. Kita rajin mengikuti doa tetapi masih sulit mengampuni.

    Minyak itu kita persiapkan melalui kesetiaan dalam hal-hal kecil. Berdoa meskipun sibuk. Jujur meskipun merugikan diri. Mengampuni meskipun terluka. Mengasihi meskipun tidak mendapat balasan.

    Yesus menutup Injil dengan pesan, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Berjaga bukan berarti takut menghadapi hari esok. Berjaga berarti bijaksana menjalani hari ini. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Jangan menunggu kesulitan untuk berdoa. Jangan menunggu terlambat untuk berubah.

    Sebab lima gadis itu gagal bukan karena tidak memiliki pelita melainkan karena tidak mempersiapkan minyak. Kita juga begitu, jangan sampai terlihat siap di hadapan manusia tetapi ternyata belum siap menyambut Tuhan.

    Pelita padam bukan karena malam terlalu gelap tetapi karena minyaknya habis. Demikian pula iman kita. Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan ada tetapi tetap setia ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Minyak iman tidak disiapkan saat malam tiba tetapi melalui doa, kejujuran, pengampunan dan kasih setiap hari. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang. Namun kita dapat mempersiapkan hati. Sebab iman yang sejati bukan hanya terang ketika hidup mudah melainkan tetap menyala ketika hidup menjadi gelap. Amin.

***Renungan HMB XXXIIA, kamarKU Hutan Keramat, 08/11/2026