Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku
akan datang kepada-Ku.” Memberikan. Yesus memandang manusia sebagai
pemberian Bapa kepada-Nya. Hidup manusia bukan sekadar perjalanan menuju
kematian melainkan anugerah yang dipanggil menuju kehidupan kekal.
Pandangan ini mengubah cara kita menghadapi
kehilangan. Ketika seseorang meninggal, kita merasa ada bagian dari hidup yang
ikut pergi. Rumah terasa sepi. Kursi tetap ada, tetapi orang yang biasa
mendudukinya tidak lagi kembali. Injil mengingatkan bahwa orang yang
kita cintai bukanlah milik kita untuk selamanya. Mereka adalah anugerah Tuhan
yang pernah dipercayakan kepada kita. Kini, dengan iman, kita menyerahkan
mereka kepada kerahiman-Nya.
Bacaan pertama memperlihatkan Yudas Makabe yang
mengumpulkan persembahan untuk mendoakan mereka yang telah gugur. Ia percaya
akan kebangkitan. Doa bagi orang meninggal adalah kasih yang tetap bekerja
ketika tangan kita tidak lagi mampu menjangkau mereka. Kita tidak dapat
mengubah masa lalu, tetapi masih dapat memohonkan belas kasih Allah bagi
mereka.
Hari ini kita datang ke makam, membawa bunga,
menyalakan lilin dan berdoa. Bahkan ada yang duduk dan makan bersama keluarga
di atas pusara. Mengapa kita sering begitu sungguh menghormati seseorang
setelah meninggal tetapi kurang menghargainya ketika masih hidup?
Kita mampu menyediakan waktu untuk banyak urusan
tetapi sering menunda mengunjungi orang tua. Kita mudah mengirim pesan kepada
banyak orang tetapi lupa menanyakan kabar keluarga. Kita rela mengeluarkan
biaya besar untuk mengenang yang telah pergi tetapi kadang sulit menyediakan
sedikit perhatian bagi mereka yang masih bersama kita.
Kematian mengajarkan bahwa waktu tidak dapat diputar
kembali. Kasih yang terus ditunda dapat berubah menjadi penyesalan yang tak
mampu diperbaiki.
2 November, lonceng peringatan. Peringatan hari ini
bukan hanya mengajak kita mendoakan orang yang telah meninggal tetapi juga
memperbarui cara kita mengasihi mereka yang masih hidup. Kunjungilah orang tua
selagi mereka dapat menyambutmu. Berdamailah sebelum perpisahan datang. Ucapkan
terima kasih ketika seseorang masih dapat mendengarnya. Jangan menunggu
kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadiran.
Yesus menjanjikan kehidupan kekal dan kebangkitan bagi
mereka yang percaya kepada-Nya. Inilah dasar pengharapan kita. Kubur menandai
batas kehidupan duniawi tetapi bukan batas kuasa keselamatan Kristus. Kita
menyerahkan mereka yang telah meninggal kepada kerahiman Allah dengan penuh
harapan.
Hari ini bawalah pulang dua hal yakni doa bagi mereka yang telah pergi dan kasih yang lebih nyata bagi mereka yang masih ada. Sebab, penghormatan terindah kepada orang yang telah meninggal bukan hanya bunga yang kita letakkan di makamnya, melainkan kasih yang kita teruskan dalam kehidupan. Amin.
***Renungan 2 Nov. 2026, 2Mak 12:43-46; Yoh
6:37-40, Hutan Keramat, KU