Ada
satu kata yang menyentuh hati dalam Injil hari ini: “berdukacita.” Berdukacita,
menggambarkan kesedihan mendalam. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang
berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Ini aneh. Mengapa orang yang
menangis disebut berbahagia? Yesus tidak sedang memuji penderitaan. Ia juga
tidak mengajarkan bahwa air mata membuat manusia menjadi kudus. Ia justru
menjanjikan penghiburan bagi mereka yang sedang terluka. Artinya berbahagia
bukan berarti tidak pernah menangis, melainkan tetap memiliki harapan sekalipun
hidup sedang menyakitkan. Tuhan tetap membuka jalan pengharapan.
Kitab
Wahyu memperlihatkan kepenuhan janji itu. Yohanes melihat kumpulan besar
manusia berpakaian putih, berdiri di hadapan Allah. Mereka telah melewati
kesusahan besar. Pakaian mereka menjadi putih karena dibasuh dalam darah Anak
Domba. Mereka sampai di sana bukan karena tidak pernah menderita melainkan
karena rahmat Kristus, darah Anak Domba, menyelamatkan, membasuh dan mencuci
pakaian perjuangan yang mereka hidupi.
Kita
hidup di zaman yang gemar memperlihatkan kebahagiaan. Media sosial dipenuhi
senyuman, keberhasilan, cerita indah dan cerita heboh. Di balik semuanya,
banyak orang sedang berjuang dalam kesunyian. Ada orang muda yang terlihat
bahagia di media sosial, padahal sedang berjuang melawan kecemasan dan
ketakutan akan masa depan. Ada orang tua yang menyembunyikan kesulitan demi
anak-anaknya. Ada keluarga yang berusaha bertahan di tengah keterbatasan. Ada
keluarga yang bebas dari keterbatasan, tapi sedang tidak baik-baik saja. Tidak
semua yang tersenyum sedang bahagia. Ada luka yang tidak terlihat tetapi Tuhan
melihat semua luka itu.
Pengalaman
ini dekat dengan kehidupan kita. Tanah yang kering, hujan yang dinantikan, dan
kebun tidak selalu menghasilkan panen. Tanah kita kering tetapi tetap
menggumpal saat dibalik. Membentuk hidup kita seperti gumpalan-gumpalan itu. Hit
bua’-bua’ kit: sulit namun bersama. Ketika keluarga berduka, kerabat datang
membawa beras, membantu pekerjaan dan menemani dalam kehilangan. Kehadiran
tidak selalu mampu menghapus kesedihan. Kehadiran dapat membuat seseorang
merasa tidak sendirian. Di sinilah Sabda Bahagia mulai terasa dan menemukan
wujudnya. Penghiburan Allah hadir melalui kepedulian manusia.
Hari
Raya Semua Orang Kudus mengingatkan kita bahwa surga tidak hanya terbuka bagi
orang-orang besar yang namanya tercatat dalam sejarah Gereja. Ada begitu banyak
orang kudus yang tidak dikenal dunia. Mungkin mereka hidup di antara kita,
bekerja di kantor, pabrik, dan kebun, membesarkan anak-anak dalam kekurangan
atau menjalani kehidupan dengan banyak kesulitan. Mereka tidak selalu melakukan
pekerjaan luar biasa. Tetapi mereka menghidupi hal-hal biasa dengan iman dan
kasih yang luar biasa. Dunia mungkin tidak pernah mengenal nama mereka tetapi
Tuhan mengenal kesetiaan mereka.
Tanah
kita mengajarkan sebuah kebijaksanaan. Tanah yang kering belum tentu mati. Di
dalamnya masih tersimpan benih yang menanti hujan. Demikian pula hati manusia.
Luka tidak harus melahirkan kebencian. Kesulitan tidak harus mematikan harapan.
Bersama Kristus, penderitaan dapat menjadi tempat bertumbuhnya kesabaran,
kepedulian dan iman.
Hari
ini, Injil memperlihatkan jalan yang harus kita tempuh. Kitab Wahyu menunjukkan
tujuan yang kita rindukan. Ekaristi memberi kita kekuatan untuk menjalaninya.
Maka pulanglah dengan hati yang lebih peka. Ringankan beban seseorang. Kuatkan
yang mulai menyerah. Hargai mereka yang masih berada di sampingmu.
Sebab
orang kudus bukanlah mereka yang tidak pernah menangis melainkan mereka yang
tetap mengasihi di tengah air mata. Dan kelak, ketika perjalanan hidup
berakhir, semoga kita pun berdiri bersama semua orang kudus di hadapan Allah.
Di sanalah setiap kesetiaan dalam Kristus menemukan kepenuhannya, setiap luka
memperoleh pemulihan dan setiap air mata menemukan penghiburan abadi.
Renungan ini saya tutup dengan SABDA BAHAGIA UNTUK ZAMAN NOW:
Berbahagialah yang tetap jujur saat kebohongan
menguntungkan, sebab hati nurani tak dapat dibeli.
Berbahagialah yang hidup sederhana di tengah kemewahan,
sebab martabat tidak ditentukan oleh harta.
Berbahagialah yang berani mengakui kesalahan, sebab
kerendahan hati mengalahkan gengsi.
Berbahagialah yang tidak ikut menghina demi like dan
komentar, sebab martabat manusia lebih berharga daripada popularitas.
Berbahagialah yang terus berjuang tanpa pujian, sebab
kesetiaan tidak membutuhkan penonton.
Berbahagialah yang memilih mengampuni meski terluka, sebab
damai lahir dari hati yang berani melepaskan dendam.
Berbahagialah yang tetap berbagi dalam kekurangan, sebab
kasih tidak menunggu kaya.
Berbahagialah yang tidak terkenal tetapi hidupnya menjadi
berkat, sebab Tuhan mengenal kebaikan yang tersembunyi.
Berbahagialah yang tetap mengasihi di tengah air mata, sebab
jalan menuju kekudusan sering melewati hati yang terluka.
“Berbahagialah orang yang
berdukacita, karena mereka akan dihibur. Kasih Tuhan selalu bernada salib.
Suka-duka harus kita hadapi-alami-lewati. Dan salib itu harus kita pikul. Amin.
Renungan HR Semua Orang Kudus, Why 7:2–4.9–14; Mat 5:1–12a, Hutan keramat, 1 Nov. 2027.KU