• Hari ini: January 13, 2026

AGUSTUS MENGAWALI, NOVEMBER MENGAKHIRI

13 January, 2026
132


    Di sudut kamar gelap di sebuah bangunan tua bercat merah maron di pelosok hutan, aku terduduk lemas. Dengan tubuh yang letih, aku membungkukkan badan, menatap sebuah buku bersampul merah tua yang terletak di atas map biru, bersandar pada dinding berwarna kuning pucat itu.

    Perlahan, jari-jariku yang bergetar membuka halaman pertama. Air mataku menetes ketika melihat tulisan berukir indah: “There are beautiful stories with you.” Kusandarkan kepala pada tembok batako yang dingin. Ada cerita indah di balik semua ini, kisah yang pernah memiliki pemeran utama… yang kini entah di mana.

    Hari-hari yang telah berlalu selalu menyisakan cerita, menjadi kenangan yang menua bersama waktu. Ada banyak rasa ketika mencoba berdamai dengan masa lalu: marah, sedih, kecewa, menyesal. Semuanya hadir kembali setiap kali mengingatnya.

    Aku membuka halaman berikutnya. 19 Agustus 2024. Tanggal manis itu kembali mengingatkanku padanya. Saat pertama kali menjumpainya, dengan kemeja berkerah bergaris putih, jeans hitam, tubuh tinggi kurus, rambut keriting hitam tebal, dan mata yang sama-sama indah, pandangan itu membuatku ingin terus memilikinya.

    Tanpa sadar, kami menjadi dua sejoli yang dekat: sahabat, teman curhat, dua orang yang saling menyukai dan saling membutuhkan. Kami menjalani suka duka bersama, berbagai cobaan kami lewati dengan kasih hingga tumbuh cinta yang begitu dalam.

    Enam bulan kami menghidupi kebersamaan itu. Hingga suatu hari, jarak memisahkan kami. Penantian akan sebuah kepastian terasa terlalu panjang. Perasaannya perlahan redup, kesalahan terjadi, dan cobaan itu menghancurkan segalanya.

    Pengkhianatan, kekecewaan, kesedihan, dan air mata bercampur menjadi satu. Aku terisak mengingat hari ketika aku dikhianati. Bagaimana mungkin? Tujuan, harapan, kebahagiaan yang kami bangun runtuh seketika. Sosok yang selalu kubanggakan itu hilang ditelan bumi, tanpa kabar. Semua terjadi karena kami mempertahankan ego, siapa benar, siapa salah.

    Aku berusaha kuat. Mencoba melupakan kenangan pahit itu dan berdiri sendiri tanpa terburu-buru membuka lembaran baru. Akan kunikmati setiap perih hingga habis, akan kujaga hati yang retak ini agar tak terluka lagi.

    Aku tidak membencinya. Aku mencoba berdamai dengan kenangannya. Hari kemarin adalah pelajaran, bukan penghalang.

    Rumah kecil tua itu pernah menjadikan kami satu, seperti magnet, begitu katanya saat awal mengenalku. Aku bagai magnet yang menarik dari berbagai arah, dan aku pun ingin terus bersamanya. Tetapi apa dayaku? Rumah kecil itu pula yang membawa kami menjauh dari kenyataan. Ia pernah hilang, namun kembali. Itu nyata.

    Janji, niat, tekad, harapan, air mata, dan kenangan tersimpan rapi di dalamnya. Lalu bagaimana denganku bila kelak ia bersama orang lain? Rasanya mustahil. Namun bila takdir berkata lain, aku memasrahkan segalanya demi kebahagiaan masing-masing. Kami pernah berdamai dengan keadaan, berusaha berjalan bersama, saling merangkul untuk satu tujuan.

    Niatku sederhana: tetap bersamanya. Laki-laki baik, titipan Tuhan itu, pernah kembali padaku. Aku berjanji menjaga dan menemaninya dalam hari-hari penuh suka dan duka.

    Kini ia kembali dengan perasaan yang sama, membawa sejuta janji untuk sebuah status yang resmi. Ia datang tanpa paksaan, melepaskan ego demi kebahagiaan bersama, ingin melihat cinta yang sesungguhnya.

    16 Februari 2025, pukul 13.12. Hubungan itu resmi, dengan kesepakatan untuk saling menopang dalam masa tersulit sekalipun. Jika kelak apa pun terjadi, inilah kisah kami. Semoga semuanya baik.

    19 Agustus kembali mengingatkan pada sebuah hubungan rumit yang perlahan membaik. Aku tak mengharapkan banyak, yang penting saling memahami dan mau berjuang bersama.

Namun kisah itu kembali melukaiku. Aku tak sanggup menahan perlakuannya. Keegoisan dan kesombongannya membuatku berhenti di sini. Rindu akan pecah, air mata tumpah, rasaku hilang entah ke mana.

    Jujur, aku mencintainya. Tapi aku sadar, aku bukan tujuan hidupnya. Bila Tuhan berkenan, biarlah ia berbahagia sekali lagi.

    Pesan terakhirku untuknya, semoga bumi dan alam selalu melihat bahwa di satu sudut sunyi, ada aku yang diam-diam ingin melihatmu menang atas hidupmu sendiri.

    Entah itu impian yang belum tercapai, cita-cita yang kau kejar meski dunia tak ramah, atau harapan kecil yang kau bisikkan sebelum tidur, semoga semuanya berpihak padamu dengan lembut.

    Aku tak lagi ikut dalam langkahmu, prosesmu, keputusanmu. Namun aku tetap menitipkan doa di setiap malam yang sunyi, di setiap keluh yang terhembus angin. Semoga kau diberi cukup tenaga untuk bertahan, cukup sabar untuk menunggu, dan cukup bahagia untuk merasa layak dicintai kehidupan.

    Dan bila suatu hari kau benar-benar menang, semoga ada suara hangat yang berbisik pelan di hatimu bahwa pernah ada seseorang, jauh di sini, yang sepenuhnya percaya padamu, pada prosesmu, pada keputusanmu.

    Aku… sosok perempuan kecil yang kau temui di sudut gedung tua berwarna merah maron itu, tepat pada 19 Agustus 2024. Kutitipkan rintihanku sebagai dukungan terakhir untuk perjalananmu. (Marcella Ceunfin,16)

Tag