• Hari ini: February 23, 2026

USIA DAN WISUDA YANG TAK PERNAH USAI

23 February, 2026
2633


Usianya masih sangat muda. Ia baru saja bertempur menyelesaikan S1-nya. Aku masih ingat jelas hari itu, saat Yudisium. Aula kampus penuh dengan wajah-wajah ceria. Nama-nama dipanggil satu per satu, dan ketika namamu disebut, Celestina Unab, kami semua menahan napas. Kau berdiri pelan, tubuhmu terlihat letih, langkahmu tersendat, tapi wajahmu tetap teduh, seakan ingin mengatakan kepada kami semua, cinta itu istimewa, cinta mengalahkan segalanya, cinta jauh lebih kuat daripada sakit.

Langkahmu rapuh, tapi penuh arti. Bagiku, itu bukan sekadar langkah menuju meja yudisium. Itu seperti langkah pulang—ziarah terakhir menuju Dia yang memanggilmu lebih dulu.

Empat Tahun, Satu Perjalanan

Kita semua tahu bagaimana kau berjuang. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Di ruang kelas, kau duduk tekun menyimak. Di asrama, kau hidup sederhana, selalu rendah hati. Ada tangis yang tak pernah kau tunjukkan, ada lelah yang kau simpan dalam diam. Tapi entah bagaimana, senyummu selalu lebih dulu hadir, membuat siapa pun merasa dikuatkan.

Aku masih bisa mendengar tawa-candamu di sudut kampus. Suaramu di lorong asrama, mengisi malam panjang dengan cerita. Kau bukan sekadar mahasiswa, Celsi. Kau sahabat yang menghangatkan, seperti namamu yang kami panggil dengan sayang-Termos-Te-Ce.

Esen, seorang teman bergurau angkatanmu berkata dengan mata berkaca-kaca: "Dia selalu hadir dengan senyum. Bahkan saat sakitnya parah, dia tetap berusaha menghibur kami. Celsi itu bukan hanya teman, dia sahabat kami semua."

Frederikus Binsasi, seorang dosen sekaligus Waket III mengenangnya begini: "Ia tidak hanya mahasiswa yang rajin dan kreatif, tapi pribadi yang sabar, tenang, dan penuh hormat. Kami merasa kehilangan, tapi kami juga merasa terberkati pernah mengenalnya."

Suara yang Tidak Pernah Padam

Kau bukan hanya mahasiswa. Kau pelatih koor kami. Kau ajari kami bahwa nyanyian bukan sekadar suara indah, tetapi doa yang hidup. Nada-nada yang kau bentuk masih bergema di kompleks kampus. Meski kini suaramu diam, aku tahu harmoni yang kau tinggalkan akan terus hidup di dada kami.

Pergulatan Terakhir

Kami tahu sakit itu semakin hari semakin menggerogoti tubuhmu. Tapi yang tak pernah goyah adalah harapanmu. Bahkan saat Yudisium itu, kau masih berusaha berdiri, meski tertatih. Dan saat itu aku benar-benar paham: kau sedang memberi kami pesan terakhir, bahwa iman adalah kemenangan.

Mayang Mota, adik kelasmu yang kini sedang melaksanakan Magang III tersentak mendengar berita kepulanganmu itu kemudian menuliskan ungkapan hati yang membuat kami semua terdiam: "Tak ada yang siap dengan akhir yang tiba-tiba, apalagi saat tawa masih membekas... Kau tunjukkan bahwa hidup adalah panggung, dan tiap detik harus diisi dengan nyanyian yang lantang. Kini panggung itu sepi... Selamat jalan, kak. Cahayamu akan selalu ada, kau 'laskar pelangi,' pejuang penuh warna, yang tabah dan ceria."

Paduan Suara Duka

Kini ungkapan rasa, datang dari kawan seangkatan. Kabar kepergianmu pertama kali menyebar di group WA angkatan. Seperti api yang menjalar cepat, duka itu langsung pecah dalam tangisan digital, dalam seruan spontan yang lahir dari hati yang patah. Onna Kobo menulis dengan terbata: “Teman-teman, kita semua mendoakan teman Celsi karena sudah tidak dengan kita lagi 😭😭😇🙏.”May Haumen tak kuasa menahan isak: “Awiiii kasian… kita pun kawan su meninggal 😭😭😭🙏.” Esen Abi hanya mampu mengetik deretan tangisan: “😭😭😭😭.” Lalu menjerit lagi: “Tuhan ewww tolong 😭😭😭😭😭.” Br. Matewh pun berbisik dalam doa singkat: “Tuhan 😭😭😭🙏🙏🙏.” Melan Sanbein melolong pilu: “Aiiii kasian eee 😭😭😭😭😭😭.” Heni Banu mengetik dengan tangan gemetar: “Adii Tuhan 😭😭.” Riaaa Dahu menambahkan lirih: “Aduhhh Tuhan eee.” Dan Ria Oki, seolah menolak kenyataan, menuliskan: “Tidak mungkin Tuhan 😭😭.”

Semua reaksi itu, meski lahir dalam layar ponsel, adalah jeritan nyata. Teriakan hati yang menolak melepaskanmu, sahabat seangkatan yang baru saja menutup perjalanan studinya.

Bukan hanya kami, sahabat-sahabatmu, yang merasakan kehilangan. Para dosen, suster, imam, bahkan pegawai kampus mengirimkan doa dan kata perpisahan yang meneteskan air mata. Ketua STP mengajak para dosen dan tendik untuk menjemput Celsi dan mengantarnya ke rumahnya. Wilco Usboko menulis: “Perjuanganmu sungguh luar biasa hingga garis akhir tercapainya cita-citamu... Beristirahatlah dalam keabadian, anak.” Fredrick Binsasi menambahkan lirih: “Selamat jalan, Celestina. Tuhan mengampuni dan memberikan kebahagiaan abadi di dalam surga.” Sr. Modestin Amsikan, SSpS, pun berdoa: “Selamat jalan ke rumah Bapa abadi. Semoga mendapat pengampunan dosa dan bahagia kekal bersama para Kudus.” Sr. Elma, SSpS, menulis dengan penuh haru: “Engkau telah berjuang sampai finish dan memenangkan semuanya.”

Selain itu Rm. Benso, dosen PA-mu hanya menandai pesannya dari kejauhan Malang, dengan doa dan hati patah 💔🕊️—seolah kata ikut gugur dalam duka. Sementara itu, Rm. Lusius Bellucci Resanualto berdoa dengan kalimat yang menohok hati: “Ah kasihan. Jalan baik-baik ibu Celestina Unab, S.Pd. Anda punya Ume Sepe Naek di Surga.”  Ume Sepe Naek adalah penggalan kata berbahasa Meto dalam judul skripsimu. Kata ini bukan lagi sekadar karya akademik tetapi telah menjelma rumah rohani, tanda kasih, dan warisan iman yang mengiringimu pulang. Kini, skripsimu bukan hanya tercatat di perpustakaan, tetapi terukir di keabadian. Dan suara lain menyusul, dari ruang kuliah hingga kapel kampus: “Turut berdukacita... semoga jiwanya beristirahat dalam damai Tuhan.”

Dari jauh, para alumni juga menuliskan duka mereka. Ondry Siki menulis: “Turut berdukacita yang mendalam. Tuhan berkati jiwanya selalu.” Seorang alumni lain berkata lirih: “Jalan dalam damai, adik...” Ada yang menuliskan sederhana: “RIP”, namun di balik singkatnya kata, tersimpan kepedihan panjang. Yang lain menambahkan: “Turut berdukacita adik. Kami selalu berdoa untukmu, semoga Tuhan memberimu pengampunan agar berbahagia bersama Bapa di Surga.” Seorang alumni bahkan menulis dengan jujur: “Kelihatannya adiknya memang sakit dan pucat sekali. Bahagia di keabadian Surga, adik. Semoga keluarga yang berduka diberi ketabahan dan kekuatan untuk mengikhlaskanmu.”

Semua suara itu, dari dosen, sahabat, hingga alumni, berpadu menjadi satu harmoni duka. Seperti koor besar yang mengiringimu pulang, dengan nada terakhir yang tidak akan pernah padam.

Luka yang Terasa di Mana-Mana

Bukan hanya keluarga yang berduka. Oelbonak kehilangan putrinya. STP Santo Petrus kehilangan mahasiswinya. Atambua kehilangan sahabatnya. Tanjung Selor kehilangan pekerja ladangnya. Bahkan Uskup Tanjung Selor di tanah jauh Borneo ikut menundukkan kepala menyatakan belasungkawa. Duka ini melintasi batas keuskupan, melintasi jarak, menyentuh begitu banyak hati.

Tapi aku tahu, duka terdalam tetap ada di rumahmu. Aku membayangkan ayahmu, diam dalam tangis yang tertahan. Aku membayangkan ibumu, yang mungkin masih memeluk pakaianmu dan berdoa dalam hening. Dan saat itu, aku teringat sabda Kitab Suci: “Tuhan yang memberi, Tuhan pulalah yang mengambil". Aku tertunduk hening, menarik nafas dalam dan menghembuskannya. 

Wisuda yang Abadi

Celsi, perjalanan akademikmu di bumi memang sudah selesai, tetapi kami percaya, sebuah wisuda yang lebih indah baru saja dimulai di surga. Di sana engkau tidak lagi mengenakan toga hitam yang sementara, melainkan diselubungi jubah putih yang tak ternoda. Ijazahmu tidak tercetak di atas kertas rapuh, melainkan tertulis dengan tinta kesetiaan yang kekal di dalam hati Allah sendiri. Gelar yang kau sandang bukan lagi gelar akademik, melainkan sebutan yang jauh lebih luhur: putri yang dicintai dan dirindukan oleh Sang Pencipta.

Bagi kami, “Termos” tidak lagi sekadar julukan hangat yang selalu menghadirkan tawa. Kini ia berubah menjadi doa, doa yang kami bisikkan dalam kesunyian dan kami bawa dalam setiap perayaan syukur. Doa itu sederhana tetapi dalam, agar engkau tetap hangat di dalam pelukan Kasih yang tidak pernah berakhir, dalam pelukan Allah yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.

Dan bila kata-kata manusia terasa terbatas, biarlah kami menutup bagian ini dengan keyakinan yang merangkum segalanya: bahwa hidupmu bukanlah sebuah perpisahan, melainkan sebuah peralihan. Kau telah berpindah dari ruang kelas dunia menuju ruang perjamuan kekal. Di sana, kasih tidak pernah usai, dan cinta selalu menemukan rumahnya. (KU)

Tag