SEPI
BERSAMA
(Oktoviana Irianti Berek)
Awalnya, hubungan Ara dan Axel
terasa seperti sebuah candaan.
Mereka bertemu di waktu yang
sama-sama membosankan. Tidak ada niat serius, tidak ada perasaan yang
benar-benar tumbuh. Ara menerima Axel hanya karena ia tidak ingin merasa sepi.
Baginya, memiliki pacar hanyalah cara agar ada seseorang yang bisa diajak chatting
saat malam terasa kosong.
Semua bermula dari obrolan
ringan yang terasa biasa saja. Ara sempat membuka Instagram Axel dan mencoba
mengenalnya lebih jauh. Namun semakin ia melihat kehidupan Axel, semakin ia
merasa laki-laki itu bukan tipe yang ia inginkan. Axel dikenal liar, sering
mabuk, dan hidup tanpa arah yang jelas. Tetapi entah kenapa, hubungan itu tetap
berjalan.
Mungkin karena Axel terlalu
serius. Dan mungkin karena Ara terlalu egois untuk menghentikannya sejak awal.
Beberapa minggu mereka sempat
hilang kabar. Namun setelah itu, mereka kembali chatting seperti biasa. Axel
mulai menunjukkan keseriusannya. Ia benar-benar ingin menjadikan Ara sebagai
pacarnya, sedangkan Ara masih menganggap semua itu hanya hubungan untuk
mengusir bosan.
Cara Ara membalas pesan selalu
singkat dan dingin. Tidak ada perhatian berlebih, tidak ada effort seperti
pasangan pada umumnya. Hingga suatu hari Axel berkata pelan kepadanya, “Kamu
itu seperti tidak menganggap kalau kita pacaran.”
Ara hanya diam. Karena
sebenarnya Axel benar.
Ara memang tidak pernah
benar-benar membuka hati untuknya.
Hari demi hari berlalu. Axel
tetap bertahan meskipun Ara terus bersikap cuek. Sampai akhirnya, hari yang
mengubah semuanya datang.
Hari Senin pagi setelah upacara
kampus selesai, Ara berjalan pulang ke asrama bersama temannya. Di tengah
perjalanan, mereka bertemu Axel. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tubuhnya
terlihat lemah. Ternyata semalaman Axel mabuk dan tidak tidur, tetapi tetap
memaksakan diri datang ke kampus.
Axel menghentikan langkah Ara di
jalan.
Ara hanya menatapnya sekilas,
menjawab seperlunya, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Dalam hati, rasa
risih Ara semakin besar. Ia memang tidak suka laki-laki pemabuk.
Saat itu Ara sadar bahwa ia
tidak bisa terus menjalani hubungan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.
Pernah suatu kali Ara berkata
kepada Axel, “Aku tidak akan minta putus. Tapi aku akan buat kamu tidak betah
dengan sifatku.”
Dan ternyata, ucapan itu
benar-benar terjadi.
Pada hari Selasa, 26 Mei 2026,
hubungan mereka berakhir. Bukan Ara yang meminta putus, melainkan Axel sendiri.
Namun bahkan di akhir hubungan
itu, Axel masih meminta maaf. “Takutnya selama ini aku buat kamu malu,”
katanya.
Ara hanya tersenyum kecil dan
menjawab pelan, “Aman saja. Tidak apa-apa.”
Karena jauh di dalam hatinya,
Ara tahu bahwa selama ini ia juga tidak pernah benar-benar hadir dalam hubungan
itu.
Kadang seseorang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan bahwa hubungan tanpa ketulusan hanya akan berubah menjadi luka. Dan dalam kisah Ara dan Axel, mereka sama-sama belajar bahwa rasa sepi bukan alasan untuk mempertahankan seseorang.
***Mahasiswi Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online