Di sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit-bukit sunyi, tanah merekah sepanjang musim kemarau. Retak-retaknya menyerupai telapak tangan orang tua yang terlalu lama bekerja tanpa mengeluh. Angin sore berjalan pelan melewati ladang jagung, membawa aroma kayu bakar dan rumput kering yang dipanaskan matahari.
Orang-orang di
desa itu hidup sederhana. Tetapi mereka percaya, tanah bukan sekadar tempat
berpijak.
Tanah mendengar.
Tanah menyimpan.
Tanah mengenali
siapa yang datang dengan kasih dan siapa yang datang dengan kepentingan.
Malam itu langit
sangat jernih. Bintang-bintang tampak dekat, seolah bisa dipetik dengan tangan.
Luke duduk di
bawah pohon tua dekat balai desa. Ia baru pulang setelah bertahun-tahun tinggal
di kota. Cara bicaranya berubah. Langkahnya lebih cepat. Matanya lebih sering
menunduk ke layar telepon daripada menatap wajah manusia.
Ia merasa desa itu
terlalu diam.
Terlalu lambat.
Terlalu
tertinggal.
Di sampingnya,
seorang lelaki tua bernama Ama Haki sedang mengunyah sirih-pinang dengan
tenang.
Luke memandang
pohon besar di depan mereka lalu bertanya sambil tersenyum kecil,
“Kenapa
orang-orang di sini masih percaya pohon bisa mendengar?”
Ama Haki tidak
langsung menjawab. Ia menatap daun-daun yang bergerak perlahan ditiup angin
malam.
“Karena manusia
sering lupa,” katanya lirih. “Tetapi alam tidak.”
Luke tertawa
pelan. Ia mengira itu hanya kata-kata lama yang indah didengar, tetapi tidak
penting lagi di zaman sekarang.
Namun malam itu,
keresahan sedang berjalan dari rumah ke rumah.
Kabar datang bahwa
hutan dekat mata air akan dibuka untuk proyek besar. Orang-orang dari kota
datang membawa peta, alat ukur dan janji tentang masa depan yang lebih modern.
Mereka berkata
jalan baru akan dibangun. Lapangan pekerjaan akan dibuka. Uang akan datang
lebih cepat.
Sebagian anak muda
menyambut gembira.
Sebagian orang tua
memilih diam. Sebab bagi mereka, hutan itu bukan hanya kumpulan pohon.
Di sanalah
orang-orang dulu berdoa ketika musim gagal panen. Di sanalah anak-anak belajar
mendengar suara burung sebelum belajar membaca. Dan di sanalah banyak kenangan
disimpan tanpa pernah dituliskan.
Keesokan harinya
seluruh warga berkumpul di balai desa. Perempuan membawa makanan. Lelaki
membawa sirih dan pinang.
Anak-anak duduk
diam mendengarkan percakapan orang dewasa yang terasa lebih berat dari
biasanya.
Sirih-pinang
dibagikan dari tangan ke tangan sebelum pembicaraan dimulai.
Tidak ada
bentakan. Tidak ada makian. Mereka percaya, percakapan yang baik harus dimulai
dengan penghormatan.
Luke berdiri di
belakang kerumunan sambil memperhatikan. Ia heran melihat orang-orang yang
berbeda pendapat masih saling mempersilakan duduk dan makan bersama.
Ama Haki memandang
semua orang dengan wajah tenang.
“Jangan biarkan
kemarahan lebih besar daripada persaudaraan,” katanya perlahan. “Kalau hati
manusia mulai keras, tanah pun ikut kehilangan kesuburannya.”
Seorang pemuda
berdiri lalu berkata dengan suara lantang, “Kita tidak bisa hidup begini terus.
Anak-anak harus sekolah tinggi. Kita perlu perubahan.”
Tidak ada yang
memotong ucapannya. Semua mendengar sampai selesai.
Lalu seorang
perempuan tua di sudut ruangan mengangkat wajahnya pelan. “Benar,” katanya
lembut. “Dunia memang berubah.” Ruangan menjadi sunyi. “Tetapi hati manusia
tetap membutuhkan tempat untuk pulang.”
Semua mata
memandangnya.
Ia menunjuk ke
arah hutan di kejauhan. “Kalau semua pohon ditebang demi uang, mungkin hidup
kita akan lebih mewah. Tetapi ketika hati kita lelah… ke mana kita akan mencari
ketenangan?”
Kalimat itu jatuh
pelan. Tetapi terasa berat di dada.
Malamnya Luke
berjalan sendirian menuju mata air di pinggir hutan. Di sana berdiri sebuah
pohon tua dengan akar besar yang mencengkeram tanah seperti tangan ibu yang
takut kehilangan anaknya.
Ia duduk lama di
bawahnya. Angin malam berembus perlahan.
Dan untuk pertama
kali setelah bertahun-tahun hidup di kota, Luke merasakan sesuatu yang hampir
hilang dari dirinya: keheningan yang menenangkan.
Ia teringat
jalan-jalan kota yang penuh cahaya tetapi membuat manusia semakin asing satu
sama lain. Semua orang berjalan cepat. Semua sibuk mengejar sesuatu.
Tetapi sedikit
yang benar-benar bahagia. Sedikit yang benar-benar mendengar.
Lalu ia teringat
ucapan Ama Haki. “Alam tidak lupa.”
Kini Lukas mulai
mengerti. Yang diingat alam bukan hanya hujan dan musim. Melainkan cara manusia
memperlakukannya. Siapa yang menjaga. Dan siapa yang menghancurkan.
Keesokan paginya
Luke datang lagi ke pertemuan warga. Kali ini ia duduk langsung di tanah
bersama yang lain. Tidak ada lagi jarak yang dibuat oleh pakaian, sepatu atau
pendidikan.
Ketika diminta
berbicara, ia menarik napas panjang.
“Saya dulu
berpikir desa ini terlalu lambat,” katanya pelan. “Tetapi mungkin dunia yang
terlalu cepat justru sedang kehilangan arah.”
Semua orang diam
mendengarnya.
“Kita boleh
membangun,” lanjutnya, “tetapi jangan sampai pembangunan membuat kita
kehilangan tempat untuk pulang.”
Ama Haki memandang
Luke lama sekali. Tatapan lelaki tua itu tenang, tetapi matanya basah oleh haru
yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Hari itu warga
akhirnya mengambil keputusan. Mereka tidak menolak perubahan. Tetapi mereka
ingin alam tetap dijaga.
Mata air tidak
dirusak. Pohon-pohon tua tidak ditebang sembarangan. Dan desa tetap menjadi
rumah, bukan sekadar lahan yang bisa diperjualbelikan.
Waktu berjalan
perlahan.
Beberapa bulan
kemudian anak-anak kembali bermain di dekat mata air. Orang-orang bekerja di
ladang sambil tertawa kecil. Suara burung kembali terdengar setiap pagi. Dan
Luke mulai mengajar anak-anak menulis cerita tentang desa mereka sendiri.
Suatu sore,
seorang anak kecil bernama Afoan bertanya kepadanya, “Kakak Luke, kenapa tempat
ini penting sekali untuk dijaga?”
Lukas memandang
bukit-bukit yang mulai berubah keemasan diterpa matahari senja.
Ia tersenyum
kecil.
Lalu menjawab pelan, “Karena hidup akan selalu melelahkan. Dan setiap manusia membutuhkan satu tempat yang tidak pernah berhenti menerimanya pulang.”
Manusia bisa membangun ribuan jalan ke mana saja, tetapi hatinya tetap akan mencari satu tempat yang membuatnya merasa pulang. Dan sering kali, yang paling mampu menyembuhkan dunia yang lelah… adalah tanah yang tetap setia mencintai manusia tanpa suara.
(Cerita siang, pinggir hutan di batas kota ini, di atas tanah dan kehidupan 25/05/2026.KU)
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online