• Hari ini: May 25, 2026

ARAH PULANG

25 May, 2026
11

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit-bukit sunyi, tanah merekah sepanjang musim kemarau. Retak-retaknya menyerupai telapak tangan orang tua yang terlalu lama bekerja tanpa mengeluh. Angin sore berjalan pelan melewati ladang jagung, membawa aroma kayu bakar dan rumput kering yang dipanaskan matahari.

Orang-orang di desa itu hidup sederhana. Tetapi mereka percaya, tanah bukan sekadar tempat berpijak.

Tanah mendengar.

Tanah menyimpan.

Tanah mengenali siapa yang datang dengan kasih dan siapa yang datang dengan kepentingan.

Malam itu langit sangat jernih. Bintang-bintang tampak dekat, seolah bisa dipetik dengan tangan.

Luke duduk di bawah pohon tua dekat balai desa. Ia baru pulang setelah bertahun-tahun tinggal di kota. Cara bicaranya berubah. Langkahnya lebih cepat. Matanya lebih sering menunduk ke layar telepon daripada menatap wajah manusia.

Ia merasa desa itu terlalu diam.

Terlalu lambat.

Terlalu tertinggal.

Di sampingnya, seorang lelaki tua bernama Ama Haki sedang mengunyah sirih-pinang dengan tenang.

Luke memandang pohon besar di depan mereka lalu bertanya sambil tersenyum kecil,

“Kenapa orang-orang di sini masih percaya pohon bisa mendengar?”

Ama Haki tidak langsung menjawab. Ia menatap daun-daun yang bergerak perlahan ditiup angin malam.

“Karena manusia sering lupa,” katanya lirih. “Tetapi alam tidak.”

Luke tertawa pelan. Ia mengira itu hanya kata-kata lama yang indah didengar, tetapi tidak penting lagi di zaman sekarang.

Namun malam itu, keresahan sedang berjalan dari rumah ke rumah.

Kabar datang bahwa hutan dekat mata air akan dibuka untuk proyek besar. Orang-orang dari kota datang membawa peta, alat ukur dan janji tentang masa depan yang lebih modern.

Mereka berkata jalan baru akan dibangun. Lapangan pekerjaan akan dibuka. Uang akan datang lebih cepat.

Sebagian anak muda menyambut gembira.

Sebagian orang tua memilih diam. Sebab bagi mereka, hutan itu bukan hanya kumpulan pohon.

Di sanalah orang-orang dulu berdoa ketika musim gagal panen. Di sanalah anak-anak belajar mendengar suara burung sebelum belajar membaca. Dan di sanalah banyak kenangan disimpan tanpa pernah dituliskan.

Keesokan harinya seluruh warga berkumpul di balai desa. Perempuan membawa makanan. Lelaki membawa sirih dan pinang.

Anak-anak duduk diam mendengarkan percakapan orang dewasa yang terasa lebih berat dari biasanya.

Sirih-pinang dibagikan dari tangan ke tangan sebelum pembicaraan dimulai.

Tidak ada bentakan. Tidak ada makian. Mereka percaya, percakapan yang baik harus dimulai dengan penghormatan.

Luke berdiri di belakang kerumunan sambil memperhatikan. Ia heran melihat orang-orang yang berbeda pendapat masih saling mempersilakan duduk dan makan bersama.

Ama Haki memandang semua orang dengan wajah tenang.

“Jangan biarkan kemarahan lebih besar daripada persaudaraan,” katanya perlahan. “Kalau hati manusia mulai keras, tanah pun ikut kehilangan kesuburannya.”

Seorang pemuda berdiri lalu berkata dengan suara lantang, “Kita tidak bisa hidup begini terus. Anak-anak harus sekolah tinggi. Kita perlu perubahan.”

Tidak ada yang memotong ucapannya. Semua mendengar sampai selesai.

Lalu seorang perempuan tua di sudut ruangan mengangkat wajahnya pelan. “Benar,” katanya lembut. “Dunia memang berubah.” Ruangan menjadi sunyi. “Tetapi hati manusia tetap membutuhkan tempat untuk pulang.”

Semua mata memandangnya.

Ia menunjuk ke arah hutan di kejauhan. “Kalau semua pohon ditebang demi uang, mungkin hidup kita akan lebih mewah. Tetapi ketika hati kita lelah… ke mana kita akan mencari ketenangan?”

Kalimat itu jatuh pelan. Tetapi terasa berat di dada.

Malamnya Luke berjalan sendirian menuju mata air di pinggir hutan. Di sana berdiri sebuah pohon tua dengan akar besar yang mencengkeram tanah seperti tangan ibu yang takut kehilangan anaknya.

Ia duduk lama di bawahnya. Angin malam berembus perlahan.

Dan untuk pertama kali setelah bertahun-tahun hidup di kota, Luke merasakan sesuatu yang hampir hilang dari dirinya: keheningan yang menenangkan.

Ia teringat jalan-jalan kota yang penuh cahaya tetapi membuat manusia semakin asing satu sama lain. Semua orang berjalan cepat. Semua sibuk mengejar sesuatu.

Tetapi sedikit yang benar-benar bahagia. Sedikit yang benar-benar mendengar.

Lalu ia teringat ucapan Ama Haki. “Alam tidak lupa.”

Kini Lukas mulai mengerti. Yang diingat alam bukan hanya hujan dan musim. Melainkan cara manusia memperlakukannya. Siapa yang menjaga. Dan siapa yang menghancurkan.

Keesokan paginya Luke datang lagi ke pertemuan warga. Kali ini ia duduk langsung di tanah bersama yang lain. Tidak ada lagi jarak yang dibuat oleh pakaian, sepatu atau pendidikan.

Ketika diminta berbicara, ia menarik napas panjang.

“Saya dulu berpikir desa ini terlalu lambat,” katanya pelan. “Tetapi mungkin dunia yang terlalu cepat justru sedang kehilangan arah.”

Semua orang diam mendengarnya.

“Kita boleh membangun,” lanjutnya, “tetapi jangan sampai pembangunan membuat kita kehilangan tempat untuk pulang.”

Ama Haki memandang Luke lama sekali. Tatapan lelaki tua itu tenang, tetapi matanya basah oleh haru yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.

Hari itu warga akhirnya mengambil keputusan. Mereka tidak menolak perubahan. Tetapi mereka ingin alam tetap dijaga.

Mata air tidak dirusak. Pohon-pohon tua tidak ditebang sembarangan. Dan desa tetap menjadi rumah, bukan sekadar lahan yang bisa diperjualbelikan.

Waktu berjalan perlahan.

Beberapa bulan kemudian anak-anak kembali bermain di dekat mata air. Orang-orang bekerja di ladang sambil tertawa kecil. Suara burung kembali terdengar setiap pagi. Dan Luke mulai mengajar anak-anak menulis cerita tentang desa mereka sendiri.

Suatu sore, seorang anak kecil bernama Afoan bertanya kepadanya, “Kakak Luke, kenapa tempat ini penting sekali untuk dijaga?”

Lukas memandang bukit-bukit yang mulai berubah keemasan diterpa matahari senja.

Ia tersenyum kecil.

Lalu menjawab pelan, “Karena hidup akan selalu melelahkan. Dan setiap manusia membutuhkan satu tempat yang tidak pernah berhenti menerimanya pulang.”

Manusia bisa membangun ribuan jalan ke mana saja, tetapi hatinya tetap akan mencari satu tempat yang membuatnya merasa pulang. Dan sering kali, yang paling mampu menyembuhkan dunia yang lelah… adalah tanah yang tetap setia mencintai manusia tanpa suara.

(Cerita siang, pinggir hutan di batas kota ini, di atas tanah dan kehidupan 25/05/2026.KU)

Tag