R E L A S I
Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Kel. 34:4b–6.8–9; 2Kor.
13:11–13; Yoh. 3:16–18
Hari ini kita akan bicara dan bermenung bersama tentang 267 bukan 153. 267 dalam notasi itu re-la-si. Sedangkan 153 itu rokok Saliti. Hari ini kita merenungkan bersama tentang RELASI. Pernahkah kita
memperhatikan bahwa sebuah nada yang dimainkan sendirian terdengar indah,
tetapi belum menjadi musik? Musik baru lahir ketika nada-nada saling bertemu,
saling mendengarkan, saling mengisi, lalu membentuk harmoni. Nada re, la,
dan si mungkin sederhana jika berdiri sendiri. Namun ketika berada dalam
relasi, lahirlah keindahan yang tidak dimiliki masing-masing nada secara
terpisah.
Mungkin itulah salah satu
cara sederhana untuk mendekati misteri yang kita rayakan hari ini Allah
Tritunggal Mahakudus. Banyak orang mengira Tritunggal adalah rumus teologis
yang sulit dipahami: satu Allah dalam tiga Pribadi. Padahal Gereja tidak
pertama-tama mengajak kita memecahkan misteri itu, melainkan mengaguminya.
Sebab Tritunggal bukan terutama berbicara tentang angka, melainkan tentang relasi.
Tentang Allah yang pada hakikat-Nya adalah kasih yang mengalir, kasih
yang memberi diri, kasih yang membangun persekutuan.
Allah yang tetap memilih tinggal.
Dalam bacaan pertama, situasinya sebenarnya sangat buruk. Bangsa Israel baru
saja mengkhianati Allah dengan menyembah anak lembu emas. Mereka baru saja
menerima perjanjian tetapi segera melupakannya. Jika kita menjadi Allah,
mungkin kita akan kecewa dan meninggalkan mereka.
Namun yang terjadi justru
sebaliknya. Ketika Allah menampakkan diri kepada Musa, Ia tidak memperkenalkan
diri sebagai Allah yang tersinggung atau pendendam. Ia memperkenalkan diri
sebagai "Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan
setia."
Menariknya, setelah
mendengar pewahyuan itu, Musa tidak meminta kekayaan, kemenangan atau mukjizat.
Ia hanya meminta satu hal, "Tuhan, berjalanlah di tengah-tengah
kami."
Mengapa? Karena kebutuhan
terdalam manusia bukanlah keberhasilan, melainkan kehadiran. Bukan pertama-tama
solusi, melainkan seseorang yang berjalan bersama. Di balik segala pencapaian
hidup, setiap manusia sesungguhnya merindukan hal yang sama yakni ada yang
memahami dirinya, menerima dirinya dan tetap tinggal bersamanya bahkan ketika
ia gagal. Dan itulah yang dilakukan Allah.
Allah yang mengambil langkah
pertama. Kerinduan Musa itu mencapai puncaknya dalam Injil. Yesus berkata, "Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal." Ayat ini begitu sering kita dengar sehingga terkadang kehilangan
daya kejutnya. Perhatikan satu kata penting yakni dunia.
Yesus tidak berkata Allah
mengasihi orang-orang suci. Ia tidak berkata Allah mengasihi orang-orang yang
sempurna. Ia berkata ‘Allah mengasihi dunia.’ Dunia yang penuh kelemahan. Dunia
yang sering menolak-Nya. Dunia yang berulang kali jatuh dalam dosa. Artinya,
Allah tidak menunggu kita menjadi layak untuk dicintai. Allah mengasihi lebih
dahulu.
Dalam relasi manusia, kita
sering berkata, "Kalau dia berubah, saya akan menerimanya."
"Kalau dia meminta maaf dulu, saya akan mengampuni."
Allah justru sebaliknya. Ketika
manusia menjauh, Allah mendekat. Ketika manusia lari, Allah mencari. Ketika
manusia jatuh, Allah mengulurkan tangan. Karena kasih sejati selalu berani
mengambil langkah pertama. Itulah sebabnya Yesus menegaskan, "Allah
mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk
menyelamatkannya."
Banyak orang hidup dengan
gambaran bahwa Allah sedang mengawasi kesalahan mereka. Injil hari ini
memperlihatkan wajah Allah yang berbeda yakni Allah yang lebih ingin
menyelamatkan daripada menghukum, lebih ingin memulihkan daripada menghakimi.
Dalam bacaan kedua, Paulus
menutup suratnya dengan berkat yang hingga kini masih kita dengar dalam setiap
Ekaristi yakni "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan
persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian." Paulus tidak sedang
mengajar teori. Ia sedang berbicara tentang pengalaman. Kasih dari Bapa. Rahmat
dari Putra. Persekutuan dari Roh Kudus. Tritunggal bukan pelajaran yang harus
dihafal, melainkan kehidupan yang harus dialami.
Santo Agustinus mengatakan
bahwa Allah bukan pribadi yang hidup dalam kesendirian dan kesepian. Sejak
kekal, Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa dan Roh Kudus menjadi ikatan
kasih yang mempersatukan keduanya. Karena itu manusia yang diciptakan
menurut gambar Allah tidak akan pernah bahagia jika hidup hanya untuk dirinya
sendiri.
Sering kali kita mengukur
iman dari seberapa sering seseorang berdoa, berziarah atau mengikuti kegiatan
Gereja. Semua itu baik. Namun Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengingatkan bahwa
ukuran iman yang lebih mendalam adalah kualitas relasi kita. Iman Kristiani
bukan hanya soal doa yang panjang atau pengetahuan agama yang luas. Iman yang
dewasa tampak ketika kita mampu membangun relasi: mengampuni yang bersalah, mendengarkan
yang berbeda, menerima yang lemah, berbagi dengan yang membutuhkan dan
mencintai tanpa selalu menuntut balasan. Di situlah jejak Tritunggal menjadi
nyata dalam hidup sehari-hari.
Karena pada akhirnya, lawan
terbesar kasih bukanlah kebencian, melainkan sikap acuh tak acuh. Dan relasi
yang paling berbahaya bukanlah relasi yang penuh pertengkaran, melainkan relasi
yang sudah tidak lagi peduli.
Hari Raya Tritunggal
Mahakudus mengundang kita untuk membawa misteri besar ini ke dalam kehidupan
yang sangat konkret. Di keluarga, jangan hanya tinggal serumah, tetapi hiduplah
dalam relasi. Di komunitas, jangan hanya hadir bersama, tetapi belajarlah
saling mendengarkan. Di Gereja, jangan hanya datang beribadah, tetapi bangunlah
persekutuan. Di masyarakat, jangan hanya menuntut dihargai, tetapi mulailah
menghargai.
Karena setiap kali ada
pengampunan, Tritunggal menjadi nyata. Setiap kali ada kepedulian, Tritunggal
menjadi nyata. Setiap kali ada persatuan di tengah perbedaan, Tritunggal
menjadi nyata.
Hari ini Gereja mengajak kita mengingat satu kata sederhana yakni relasi. Allah yang kita sembah bukan Allah yang hidup dalam kesendirian dan kesepian. Bapa mengasihi Putra. Putra menyerahkan diri kepada Bapa. Roh Kudus mempersatukan keduanya dalam kasih yang sempurna. Dan yang paling mengagumkan adalah bahwa Allah tidak menyimpan kasih itu untuk diri-Nya sendiri. Ia mengundang kita masuk ke dalamnya.
Maka Hari Raya Tritunggal
Mahakudus bukan pertama-tama perayaan tentang misteri yang sulit dipahami,
melainkan tentang kabar gembira yang sangat dekat dengan hidup kita. Karena kita
diciptakan dari kasih, kita lahir dari kasih, kita hidup dalam kasih, dan
terakhir kita akan pulang kepada Sang Kasih yakni Allah sendiri.
***Renungan HR Tritunggal Mahakudus, batas kota samping hutan, 31 Mei 2026KU
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online