• Hari ini: May 31, 2026

R E L A S I

31 May, 2026
13

R E L A S I

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Kel. 34:4b–6.8–9; 2Kor. 13:11–13; Yoh. 3:16–18

 

Hari ini kita akan bicara dan bermenung bersama tentang 267 bukan 153. 267 dalam notasi itu re-la-si. Sedangkan 153 itu rokok Saliti. Hari ini kita merenungkan bersama tentang RELASI. Pernahkah kita memperhatikan bahwa sebuah nada yang dimainkan sendirian terdengar indah, tetapi belum menjadi musik? Musik baru lahir ketika nada-nada saling bertemu, saling mendengarkan, saling mengisi, lalu membentuk harmoni. Nada re, la, dan si mungkin sederhana jika berdiri sendiri. Namun ketika berada dalam relasi, lahirlah keindahan yang tidak dimiliki masing-masing nada secara terpisah.

Mungkin itulah salah satu cara sederhana untuk mendekati misteri yang kita rayakan hari ini Allah Tritunggal Mahakudus. Banyak orang mengira Tritunggal adalah rumus teologis yang sulit dipahami: satu Allah dalam tiga Pribadi. Padahal Gereja tidak pertama-tama mengajak kita memecahkan misteri itu, melainkan mengaguminya. Sebab Tritunggal bukan terutama berbicara tentang angka, melainkan tentang relasi. Tentang Allah yang pada hakikat-Nya adalah kasih yang mengalir, kasih yang memberi diri, kasih yang membangun persekutuan.

Allah yang tetap memilih tinggal. Dalam bacaan pertama, situasinya sebenarnya sangat buruk. Bangsa Israel baru saja mengkhianati Allah dengan menyembah anak lembu emas. Mereka baru saja menerima perjanjian tetapi segera melupakannya. Jika kita menjadi Allah, mungkin kita akan kecewa dan meninggalkan mereka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Allah menampakkan diri kepada Musa, Ia tidak memperkenalkan diri sebagai Allah yang tersinggung atau pendendam. Ia memperkenalkan diri sebagai "Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia."

Menariknya, setelah mendengar pewahyuan itu, Musa tidak meminta kekayaan, kemenangan atau mukjizat. Ia hanya meminta satu hal, "Tuhan, berjalanlah di tengah-tengah kami."

Mengapa? Karena kebutuhan terdalam manusia bukanlah keberhasilan, melainkan kehadiran. Bukan pertama-tama solusi, melainkan seseorang yang berjalan bersama. Di balik segala pencapaian hidup, setiap manusia sesungguhnya merindukan hal yang sama yakni ada yang memahami dirinya, menerima dirinya dan tetap tinggal bersamanya bahkan ketika ia gagal. Dan itulah yang dilakukan Allah.

Allah yang mengambil langkah pertama. Kerinduan Musa itu mencapai puncaknya dalam Injil. Yesus berkata, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal." Ayat ini begitu sering kita dengar sehingga terkadang kehilangan daya kejutnya. Perhatikan satu kata penting yakni dunia.

Yesus tidak berkata Allah mengasihi orang-orang suci. Ia tidak berkata Allah mengasihi orang-orang yang sempurna. Ia berkata ‘Allah mengasihi dunia.’ Dunia yang penuh kelemahan. Dunia yang sering menolak-Nya. Dunia yang berulang kali jatuh dalam dosa. Artinya, Allah tidak menunggu kita menjadi layak untuk dicintai. Allah mengasihi lebih dahulu.

Dalam relasi manusia, kita sering berkata, "Kalau dia berubah, saya akan menerimanya." "Kalau dia meminta maaf dulu, saya akan mengampuni."

Allah justru sebaliknya. Ketika manusia menjauh, Allah mendekat. Ketika manusia lari, Allah mencari. Ketika manusia jatuh, Allah mengulurkan tangan. Karena kasih sejati selalu berani mengambil langkah pertama. Itulah sebabnya Yesus menegaskan, "Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya."

Banyak orang hidup dengan gambaran bahwa Allah sedang mengawasi kesalahan mereka. Injil hari ini memperlihatkan wajah Allah yang berbeda yakni Allah yang lebih ingin menyelamatkan daripada menghukum, lebih ingin memulihkan daripada menghakimi.

Dalam bacaan kedua, Paulus menutup suratnya dengan berkat yang hingga kini masih kita dengar dalam setiap Ekaristi yakni "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian." Paulus tidak sedang mengajar teori. Ia sedang berbicara tentang pengalaman. Kasih dari Bapa. Rahmat dari Putra. Persekutuan dari Roh Kudus. Tritunggal bukan pelajaran yang harus dihafal, melainkan kehidupan yang harus dialami.

Santo Agustinus mengatakan bahwa Allah bukan pribadi yang hidup dalam kesendirian dan kesepian. Sejak kekal, Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa dan Roh Kudus menjadi ikatan kasih yang mempersatukan keduanya. Karena itu manusia yang diciptakan menurut gambar Allah tidak akan pernah bahagia jika hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Manusia diciptakan untuk relasi. Kita bisa memiliki rumah yang besar tetapi tetap merasa kesepian.
 Kita bisa memiliki banyak teman di media sosial tetapi tetap merasa kosong. Kita bisa sukses secara ekonomi tetapi gagal dalam keluarga. Mengapa? Karena hati manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian.

Sering kali kita mengukur iman dari seberapa sering seseorang berdoa, berziarah atau mengikuti kegiatan Gereja. Semua itu baik. Namun Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengingatkan bahwa ukuran iman yang lebih mendalam adalah kualitas relasi kita. Iman Kristiani bukan hanya soal doa yang panjang atau pengetahuan agama yang luas. Iman yang dewasa tampak ketika kita mampu membangun relasi: mengampuni yang bersalah, mendengarkan yang berbeda, menerima yang lemah, berbagi dengan yang membutuhkan dan mencintai tanpa selalu menuntut balasan. Di situlah jejak Tritunggal menjadi nyata dalam hidup sehari-hari.

Karena pada akhirnya, lawan terbesar kasih bukanlah kebencian, melainkan sikap acuh tak acuh. Dan relasi yang paling berbahaya bukanlah relasi yang penuh pertengkaran, melainkan relasi yang sudah tidak lagi peduli.

Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengundang kita untuk membawa misteri besar ini ke dalam kehidupan yang sangat konkret. Di keluarga, jangan hanya tinggal serumah, tetapi hiduplah dalam relasi. Di komunitas, jangan hanya hadir bersama, tetapi belajarlah saling mendengarkan. Di Gereja, jangan hanya datang beribadah, tetapi bangunlah persekutuan. Di masyarakat, jangan hanya menuntut dihargai, tetapi mulailah menghargai.

Karena setiap kali ada pengampunan, Tritunggal menjadi nyata. Setiap kali ada kepedulian, Tritunggal menjadi nyata. Setiap kali ada persatuan di tengah perbedaan, Tritunggal menjadi nyata.

         Hari ini Gereja mengajak kita mengingat satu kata sederhana yakni relasi. Allah yang kita sembah bukan Allah yang hidup dalam kesendirian dan kesepian. Bapa mengasihi Putra. Putra menyerahkan diri kepada Bapa. Roh Kudus mempersatukan keduanya dalam kasih yang sempurna. Dan yang paling mengagumkan adalah bahwa Allah tidak menyimpan kasih itu untuk diri-Nya sendiri. Ia mengundang kita masuk ke dalamnya.

Maka Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan pertama-tama perayaan tentang misteri yang sulit dipahami, melainkan tentang kabar gembira yang sangat dekat dengan hidup kita. Karena kita diciptakan dari kasih, kita lahir dari kasih, kita hidup dalam kasih, dan terakhir kita akan pulang kepada Sang Kasih yakni Allah sendiri.

***Renungan HR Tritunggal Mahakudus, batas kota samping hutan, 31 Mei 2026KU

Tag