• Hari ini: April 05, 2026

MEJA KORBAN

05 April, 2026
32

MEJA KORBAN

(Yes 52:13–53:12; Yoh 18:1–19:42)

 

Dalam Yesaya dikatakan tentang hamba Tuhan menanggung penderitaan orang lain. Sedangkan dalam Yohanes, Yesus menyerahkan diri-Nya sampai wafat di salib.

Di sinilah perbedaannya dengan Kamis Putih, tidak ada meja. Tidak ada roti. Tidak ada perjamuan. Yang ada hanya, salib dan tubuh yang diberikan sampai habis.

1. Meja itu Kini Kosong

 Jika Kamis Putih adalah meja penuh: ada roti, ada kebersamaan dan ada tindakan kasih, maka Jumat Agung terasa sangat berbeda: meja itu kosong. Tidak ada perjamuan, kata-kata panjang dan suasana hangat. Yang ada: pengkhianatan, penolakan dan penderitaan.

Ini penting, kadang dalam hidup, kita juga mengalami “meja kosong:” doa terasa hampa, Tuhan terasa jauh dan hidup terasa gelap.

Dan Jumat Agung berkata: Tuhan hadir juga di saat-saat kosong seperti itu.

2. Kasih itu Terlihat Paling Jelas Saat Terluka

Yesaya 53 berkata: “Ia tertikam oleh karena pelanggaran kita.” Ini bukan bahasa indah. Ini kenyataan yang keras: kasih sejati selalu terluka.

Dalam Yohanes: Yesus tidak melawan, tidak membalas dan tidak lari. Ia tetap tinggal… sampai akhir.

Artinya: kasih bukan hanya perasaan, tetapi keberanian untuk tetap setia bahkan saat sakit dan terluka.

3. Salib adalah “Meja” Yang Paling Jujur

Di Kamis Putih, Yesus membasuh kaki. Di Jumat Agung, Yesus memberikan seluruh diri-Nya. Kalau di meja Kamis Putih, Yesus membungkuk dan berlutut mencuci kaki, di meja Jumat Agung, di salib, Yesus diserahkan sepenuhnya.

Maka, salib adalah “meja” di mana kasih tidak lagi dijelaskan tetapi dibuktikan sampai tuntas.

4. Kita Sering Salah Mengerti Korban

Banyak orang berpikir, korban = kehilangan, korban = dipaksa, korban = menderita saja. Tetapi dalam Yesus, korban adalah pemberian diri dengan bebas.

Yesus berkata, “Sudah selesai.” Itu bukan kata kalah. Itu kata selesai dengan setia. Maka korban bukan tentang kalah, tetapi tentang mengasihi sampai akhir.

5. Yang Paling Sulit: Tetap Mengasihi Saat Terluka

Ini bagian paling nyata dalam hidup kita. Kita bisa mengasihi saat semuanya baik, peduli saat mudah. Tetapi saat disakiti? Saat dikhianati? Saat tidak dihargai? Di situlah kita sering berhenti.

Tetapi Yesus tidak berhenti. Ia tetap mengasihi, tetap memberi dan tetap setia.

Maka Jumat Agung bertanya, apakah kita mau mengasihi hanya saat mudah…atau juga saat sulit?

Coba jujur dalam hati: luka siapa yang masih kita simpan? Siapa yang belum kita ampuni? Di mana kita memilih mundur dari kasih?

Karena sering terjadi, kita mau menerima kasih Tuhan…tetapi tidak mau memberi kasih yang sama kepada orang lain.

Di Kamis Putih, Yesus menunjukkan kasih dengan membungkuk. Di Jumat Agung, Yesus membuktikan kasih dengan menyerahkan seluruh hidup-Nya.

Salib bukan tanda kekalahan tetapi tanda bahwa kasih bisa bertahan sampai akhir. Kalau kita berhenti mengasihi saat terluka, kita belum sampai di Jumat Agung. 

Renungan Jumat Agung 2026, Kapela Oelnitep

Tag