• Hari ini: February 22, 2026

T U M B U H

22 February, 2026
69

T  U  M  B  U  H

(Yes 11:1-10; Rom 15:4-9; Mat)

    Adven selalu berbicara tentang penantian yang hidup, tentang sesuatu yang sedang tumbuh, bahkan di tanah yang tampak mati. Dalam terang nubuat Yesaya, kita diajak menatap sebatang tunggul Isai: sisa pohon besar yang telah ditebang, kering dan tak lagi menjanjikan kehidupan. Namun dari tunggul itu, Allah menjanjikan sesuatu yang baru, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”

    Tunggul adalah lambang keterhentian, titik di mana kemuliaan berhenti, harapan padam dan masa depan tampak tertutup. Namun dalam logika kasih Allah, apa yang mati bukan akhir melainkan awal bagi sesuatu yang ilahi. Dari sisa yang tak berdaya, Allah menumbuhkan tanda kehidupan. Di situlah Adven dimulai, bukan dari kemegahan melainkan dari sisa yang dibaharui oleh rahmat.

    Dari garis keturunan Isai, yang nyaris terlupakan dalam sejarah, tumbuhlah tunas Mesias, Sang Raja Damai. Dalam Yesus Kristus, Allah menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari kekuasaan melainkan dari kelembutan dan kesetiaan. Dunia mungkin menilai tunggul itu tak berguna tetapi di mata Allah, di sanalah kehidupan baru disiapkan. Di tempat manusia melihat kebuntuan, Allah menanam benih harapan.

    Namun Adven bukan hanya tentang Allah yang menumbuhkan. Injil Matius memperkenalkan Yohanes Pembaptis, suara yang mengguncang akar kehidupan. Di padang gurun, suara itu bergaung, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Jika Yesaya berbicara tentang janji, maka Yohanes berbicara tentang kesiapan. Jika Yesaya menyingkapkan tunas baru yang tumbuh oleh rahmat, Yohanes menghadirkan kapak yang siap menebang akar yang menghalangi pertumbuhan.

    Kapak di tangan Yohanes bukan ancaman melainkan simbol keputusan rohani. Hanya dengan memangkas yang kering, ego, keserakahan, kemunafikan dan kebiasaan lama, hidup dapat berbuah kembali. Tidak ada tunas baru bila akar lama dibiarkan membusuk. Pertumbuhan sejati menuntut keberanian untuk dibersihkan agar rahmat memiliki ruang untuk bekerja.

    Dengan demikian, Adven adalah pertemuan antara dua karya yakni karya Allah yang menumbuhkan dan karya manusia yang menyiapkan tanah hatinya. Dari tunggul yang diam, Tuhan bekerja melalui kapak pertobatan, manusia ikut serta dalam karya itu.

    Setiap orang memiliki “tunggul” dalam hidupnya, bagian yang terasa mati, kehilangan daya atau dilupakan. Tetapi justru di sanalah Allah ingin menumbuhkan sesuatu yang baru. Dan setiap orang juga memegang “kapak,” kehendak bebas untuk memutuskan apa yang perlu dibersihkan agar kehidupan rohani bertumbuh.

    Adven mengundang untuk berani percaya bahwa rahmat dapat tumbuh dari sisa, dan pertobatan dapat melahirkan kehidupan baru. Tunggul bukan tanda akhir tetapi tanah bagi permulaan baru.

    Maka biarlah minggu ini menjadi waktu untuk menatap dengan iman bahwa Allah masih menumbuhkan, bahkan di dalam diam. Bahwa hidup yang terasa kering pun dapat menjadi taman, bila hati berani dibersihkan oleh kasih yang datang dari-Nya. Allah menumbuhkan dari tunggul yang diam, namun hanya hati yang rela ditebang oleh pertobatan dapat berbuah dalam damai yang sejati.

    “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3) 

**Batas Kota, Air Menyamping, Renungan Adven II, 07 Des 2025 KU