ANTARA TAMAN DAN PADANG
(KU)
Hidup iman kita bergerak di antara dua lanskap atau situasi yakni taman dan padang. Di taman, ada tanaman. Ada yang ditanam dan yang bertumbuh. Ada akar yang mencengkeram tanah, ada buah yang menggantung ranum. Dalam Kitab Kejadian, Allah membentuk manusia dari debu dan menghembuskan napas kehidupan. Manusia tidak hanya dijadikan tetapi ia dipercayai. Ia ditempatkan di taman yakni ruang yang teratur, cukup, indah. Di sana ada relasi, ada batas, ada sabda yang menjaga.
Namun di taman juga ada pilihan. Hawa mendengar bisikan yang menanamkan curiga. Adam ikut mengulurkan tangan. Di tengah kelimpahan, hati bisa merasa kurang. Di tengah keindahan, manusia bisa ingin lebih dari sekadar menjadi ciptaan. Dosa lahir bukan dari kekosongan melainkan dari keinginan mengambil alih.
Lalu situasi itu berubah.
Jika di taman ada tanaman, di padang ada bentangan. Jika di taman ada buah, di padang ada batu. Jika di taman ada teduh, di padang ada terik. Padang tidak menawarkan apa-apa selain kejujuran. Padang tidak menumbuhkan daun untuk menutup rasa malu. Ia hanya menyisakan diri kita, apa adanya.
Di padang gurun itulah Yesus berdiri. Lapar, sendiri, dicobai. Jika manusia pertama jatuh di taman yang subur, Yesus menang di padang yang gersang. Ia tidak mengubah batu menjadi roti. Ia tidak memamerkan kuasa. Ia tidak menukar kesetiaan dengan kemuliaan sesaat. Di tempat yang tidak menumbuhkan apa-apa, Ia menumbuhkan ketaatan.
Padang ternyata bukan ruang kegagalan, melainkan ruang pemurnian. Di sana akar iman diuji: apakah kita percaya hanya ketika diberkati, atau juga ketika ditanggalkan? Apakah kita mencintai Allah karena taman-Nya, atau karena Dia sendiri?
Rasul Paulus dari Tarsus dalam Surat kepada Jemaat di Roma menegaskan, melalui satu orang dosa masuk; melalui satu orang rahmat berlimpah. Adam membuka pintu keterpisahan. Kristus membuka pintu pemulihan. Sejarah keselamatan bergerak dari taman yang tercemar menuju padang yang ditebus.
Kita mengenal keduanya. Ada musim taman, ketika doa terasa manis, hidup terasa rapi dan harapan bertunas. Tetapi ada juga musim padang, ketika doa terasa kering, usaha seperti menabrak batu dan langit seakan membisu.
Ironisnya, kita sering lengah di taman dan justru matang di padang. Taman menguji rasa syukur, padang menguji kesetiaan. Taman menumbuhkan kenyamanan, padang menumbuhkan keteguhan.
Prapaskah mengajak kita berani memasuki padang. Berpuasa agar tidak diperbudak keinginan. Berdoa agar sabda lebih kuat daripada bisikan. Berbagi agar hati tidak mengeras seperti batu.
Antara taman dan padang, Allah tetap setia. Di taman Ia mencari manusia yang bersembunyi. Di padang Ia meneguhkan Putra yang taat. Di taman manusia berkata, “Aku takut.” Di padang Putra berkata, “Aku percaya.”
Maka apa pun keadaan hidup kita, apakah sedang seperti taman yang hijau atau padang yang gersang, tetaplah percaya. Sebab bukan di taman kita belajar setia dan bukan di padang kita kehilangan Allah. Justru dalam kesetiaan, taman dan padang sama-sama menjadi jalan menuju-Nya. (Renungan Prapaskah I, Kapela Oelnitep)
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online