HR Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semester Alam
RAJA YANG MEMERINTAH DENGAN LUKA
(2Sam5:1-3; Kol 1:12-20; Luk 23:35-43)
Merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam berarti kita diajak kembali memahami apa arti “raja” dan “kekuasaan.” Hari raya ini tidak mengarahkan kita pada gambaran raja yang penuh kemegahan, tetapi kepada Yesus yang memerintah dari salib. Di sanalah kemuliaan Allah tampak, bukan dalam kekuatan duniawi, tetapi dalam kasih yang rela terluka.
Renungan ini “Raja yang Memerintah dengan Luka” membawa kita pada kuasa Allah bukanlah kuasa menekan atau menguasai, tetapi kuasa kasih yang berani berkorban demi memulihkan.
Kuasa Sejati Berasal dari Kedekatan, Bukan Kedudukan
Dalam 2 Samuel 5:1–3, bangsa Israel memilih Daud sebagai raja karena ia sudah hidup bersama mereka. Ia berjalan bersama mereka dalam perjuangan, bukan memerintah dari jauh. Ini mengungkapkan cara Allah memerintah: bukan dari kejauhan, bukan dari ketinggian yang tidak tersentuh, tetapi dari relasi yang penuh perhatian dan belas kasih.
Ketika hal ini mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus, kita melihat bahwa kerajaan Allah tidak dibangun lewat kekerasan atau strategi duniawi, tetapi lewat kerendahan hati dan pengampunan.
Yesus tidak memerintah dengan menakut-nakuti, tetapi dengan menyembuhkan. Kerajaan Allah hadir ketika hubungan diperbaiki, bukan ketika seseorang dijatuhkan. Injil menunjukkan bahwa kuasa yang benar bukan soal “siapa yang paling berkuasa,” tetapi siapa yang berani merendahkan diri untuk menolong yang lain.
Luka Menjadi Tanda Kemuliaan
Kolose 1:12–20 menegaskan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang mengajak seluruh ciptaan berdamai dengan-Nya. Namun yang mengejutkan adalah, Ia memerintah sebagai Raja justru saat tergantung di salib. Luka-luka di tubuh-Nya menjadi tanda kasih yang paling nyata: bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kasih; bukan tanda kekalahan, tetapi jalan menuju kemenangan; bukan rasa malu, tetapi justru takhta kemuliaan-Nya.
Theologia crucis mengajarkan bahwa Allah paling nyata hadir bukan dalam kekuatan lahiriah, tetapi dalam kelemahan yang dihayati dengan cinta. Di salib, Yesus tidak hanya menderita, Ia memerintah. Ia memerintah dengan sikap yang lembut, bukan dengan ancaman; dengan mengampuni, bukan menghukum. Luka yang dipersembahkan dalam kasih dapat menjadi sumber kehidupan.
Memimpin dengan Kasih dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam Lukas 23:35–42, kita melihat bahwa bahkan di saat paling menyakitkan, Yesus tetap menunjukkan cara memerintah yang berbeda: Ia tidak membalas hinaan, Ia tidak membela diri, Ia malah mengampuni dan menyambut pertobatan seorang penjahat. Yesus menunjukkan bahwa kuasa sejati bukanlah kemampuan mengontrol, tetapi kemampuan tetap mengasihi, bahkan ketika hati kita disakiti.
Renungan ini menjadi undangan pribadi bagi kita: Apakah kita bisa memimpin seperti Yesus? Dalam keluarga, komunitas, pekerjaan, bahkan dalam mengatur diri sendiri?
Pemimpin seperti Yesus adalah orang yang membangun, bukan merendahkan; mau mendengar, bukan mendominasi; menempatkan manusia lebih tinggi daripada ego sendiri.
Apakah kita sanggup mengampuni meski kita yang terluka? Yesus menjadikan luka sebagai jalan untuk memberi rahmat. Kita pun dipanggil membiarkan luka menjadi tempat lahirnya kasih, bukan dendam. Apakah kita berani mencintai meski itu membuat kita rentan? Kerajaan Kristus bertumbuh setiap kali kita: menahan kata yang bisa menyakiti, memberi ruang bagi mereka yang rapuh, dan memilih damai ketika marah terasa lebih mudah. Yesus mengajar kita memerintah diri sendiri dengan kasih, bukan dengan kemarahan.
Dari Luka Menuju Terang
Di dalam Kristus, luka bukan akhir. Luka adalah pintu menuju pemulihan, kedamaian, dan kasih yang lebih dewasa. Mengakui Kristus sebagai Raja berarti membuka hati kita agar Ia masuk ke bagian-bagian yang paling rapuh: relasi yang retak, hati yang letih, ego yang mengeras, luka yang belum sembuh.
Ketika kita membiarkan kasih-Nya menyentuh bagian itu, barulah kita merasakan kehadiran kerajaan Allah: tenang, rendah hati, menyejukkan, dan menyembuhkan. Takhta Kristus bukan terbuat dari emas, tetapi dari hati setiap orang yang mau dirawat oleh kasih-Nya.
Kristus Raja mengajarkan bahwa kuasa sejati bukan lahir dari takhta yang tinggi, melainkan dari luka yang rela dibagikan demi kasih yang menyembuhkan dunia. (KU)
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online