• Hari ini: February 24, 2026

SEBUAH JEJAK MENJADI SEJARAH

24 February, 2026
32

SEBUAH JEJAK MENJADI SEJARAH


Dalam sejarah Gereja Katolik, Santo Dominikus (1170–1221) tidak sekadar dikenang sebagai pendiri Ordo Praedicatorum (Ordo Pewarta/Dominikan) tetapi sebagai arsitek spiritualitas intelektual Gereja yang menyatukan doa, studi dan misi dalam satu tarikan napas. Ia lahir di Caleruega, Spanyol, dalam dunia yang dilanda krisis teologis dan sosial. Abad ke-12 dan ke-13 ditandai oleh munculnya gerakan-gerakan dualistik seperti Albigensianisme yang menantang ajaran Gereja tentang inkarnasi dan kebaikan ciptaan. Dalam konteks inilah Dominikus tampil bukan sebagai polemis agresif, melainkan sebagai pewarta yang bersenjata doa, argumentasi teologis dan kesaksian hidup sederhana (Brooke, 1967; Drane, 1891).

    Sebagaimana ditegaskan Bedouelle (1987), kekuatan Dominikus terletak pada integrasi antara kontemplasi dan misi. Ia memahami bahwa pewartaan yang otentik lahir dari kedalaman doa. Karena itu, ungkapan yang secara tradisional dikaitkan dengannya, "Arm yourself wit prayer rather than a sword," artinya persenjatai dirimu dengan doa, bukan dengan pedang. Kata-kata ini, bukan sekadar nasihat asketis, melainkan pernyataan teologis bahwa kebenaran tidak dipaksakan melalui kekuasaan tetapi diwartakan melalui kesaksian hidup.

    Demikian pula ungkapan, "Speak only of God or with God," artinya berbicaralah hanya tentang Allah atau bersama Allah, menunjukkan spiritualitas yang menyatukan hidup aktif dan kontemplatif. Tradisi Dominikan merumuskannya dalam adagium klasik, "Contemplari et contemplata aliis tradere," artinya merenungkan dan membagikan buah permenungan (Ashley, 2029).

    Kata kunci dari seluruh spiritualitas ini adalah Veritas. Namun Veritas dalam pemahaman Dominikan bukan sekadar konsep intelektual melainkan kebenaran yang menyelamatkan, yang ditemukan melalui studi, diuji dalam doa dan dibagikan dalam khotbah (Bedouelle, 2014).

Kasih Universal dan Keberanian Iman    

    Dua ungkapan lain yang secara tradisional dilekatkan pada Santo Dominikus memperlihatkan kedalaman dimensi pastoral dan eksistensial spiritualitasnya, "Have charity for all, hatred for none," artinya kasihilah semua orang, jangan membenci siapa pun.Kalimat ini bukan sentimentalitas rohani melainkan prinsip teologis yang radikal. Dalam konteks abad pertengahan yang sarat konflik doktrinal, Dominikus memilih jalan dialog, kehadiran dan kesaksian hidup miskin. Ia menolak membenci mereka yang berbeda pandangan. Dalam terang Injil, ia melihat bahwa kebenaran tanpa kasih berubah menjadi kekerasan dan kasih tanpa kebenaran berubah menjadi kompromi kosong.

    Bagi umat di Timor, yang hidup dalam masyarakat plural, dengan sejarah sosial dan politik yang kompleks, seruan ini menjadi sangat relevan. “Kasihilah semua orang” berarti membangun persaudaraan lintas suku, bahasa dan latar belakang. “Jangan membenci siapa pun” berarti menolak dendam sejarah dan membuka ruang rekonsiliasi. Di sinilah Veritas menemukan wajahnya yang paling manusiawi yakni kasih yang mempersatukan.

    Ungkapan berikutnya menyentuh dimensi kepercayaan total kepada Allah, "Do not be afraid. God will provide," artinya jangan takut. Tuhan akan menyediakan. Secara historis, Ordo Dominikan lahir sebagai ordo pengemis (mendicant order) yang menggantungkan hidup pada penyelenggaraan ilahi. Seruan ini bukan retorika melainkan pengalaman nyata. Dalam ketidakpastian ekonomi dan sosial, para pewarta tetap melangkah karena percaya bahwa misi adalah milik Allah.

    Bagi Gereja di Timor, yang sering bergulat dengan keterbatasan ekonomi dan tantangan geografis, kata-kata ini menjadi sumber penghiburan dan keberanian. “Jangan takut” bukan berarti menutup mata terhadap realitas tetapi menghadapi realitas dengan iman. “Tuhan akan menyediakan” bukan alasan untuk pasif, melainkan dasar untuk bekerja dengan harapan. 

Inkarnasi Karisma Dominikan di Timor

    Spiritualitas ini tidak berhenti di Eropa. Kajian sejarah misi Katolik di Asia Tenggara menunjukkan bahwa para misionaris Dominikan Portugis merupakan kelompok religius Katolik pertama yang hadir secara sistematis di wilayah Solor dan Timor pada abad ke-16 (F. J., 2020). Mereka datang bukan sekadar sebagai bagian dari arus ekspansi maritim Portugis, tetapi sebagai pewarta yang membaptis, membangun komunitas dan mengembangkan pendidikan iman.

    Di wilayah ini, Veritas berjumpa dengan budaya lokal. Gereja menjadi ruang pembentukan identitas sosial dan religius. Dalam periode konflik politik dan integrasi Indonesia–Timor Timur (Sekarang, Timor Leste), Gereja sering berfungsi sebagai pelindung martabat manusia (Smythe, 2004). Di tengah ketegangan sejarah, prinsip, “Have charity for all, hatred for none” (Kasihilah semua orang, jangan membenci siapa pun) menemukan maknanya yang konkret, Gereja berdiri bukan untuk membenci melainkan untuk merangkul.

    Doa rosario, ketekunan dalam pendidikan iman dan ketahanan komunitas Katolik di Timor mencerminkan spiritualitas yang menggabungkan doa, studi dan kasih universal. Dengan demikian, karisma Santo Dominikus benar-benar berinkarnasi di tanah yang jauh dari Caleruega.

Buah Sejarah yang Bertumbuh

    Keuskupan Atambua merupakan buah dari proses panjang inkulturasi iman di Timor Barat. Ia lahir dari sejarah misi, pendidikan dan pembinaan umat yang berkelanjutan. Seperti ditegaskan Ashley (2009), dinamika pewartaan Dominikan selalu mengarah pada pembentukan Gereja lokal yang matang, reflektif dan bertanggung jawab atas perutusannya sendiri.

    Dari rahim sejarah ini lahir para imam dan pemimpin Gereja, termasuk Mgr. Dominikus Saku, Pr. Nama “Dominikus” yang beliau sandang bukan sekadar identitas personal melainkan simbol kesinambungan spiritual: dari semangat Veritas abad ke-13 menuju pelayanan pastoral yang kontekstual di abad ke-21. Dalam dirinya, warisan doa, studi dan pewartaan menemukan aktualisasi konkret di tengah umat perbatasan.

    Visi yang disepakati dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) IX, “Umat Allah Keuskupan Atambua yang cerdas dan sejahtera dalam semangat sinodalitas,” merupakan kristalisasi arah pastoral yang visioner sekaligus realistis.

    Cerdas menunjuk pada umat yang beriman secara reflektif, memahami ajaran Gereja, mampu membedakan yang benar dan yang keliru serta mengintegrasikan iman dengan kehidupan sosial. Ini selaras dengan spiritualitas Dominikan yang menempatkan studi dan pembinaan intelektual sebagai bagian dari kedewasaan iman. 

    Sejahtera tidak hanya berarti kecukupan material, tetapi kesejahteraan integral: spiritual, moral, sosial dan ekonomi. Gereja dipanggil tidak hanya membaptis tetapi juga memberdayakan.

    Dalam semangat sinodalitas berarti berjalan bersama: uskup, imam, religius dan awam, dalam partisipasi dan tanggung jawab bersama. Sinodalitas bukan sekadar metode organisasi melainkan cara menjadi Gereja: saling mendengarkan, saling menopang dan bersama-sama membedakan kehendak Allah.

    Ketika pelayanan gembala menjangkau hingga Kapela kecil Santo Dominikus di Oelnitep, simbolisme sejarah menjadi nyata. Di kapela sederhana itu, visi besar diterjemahkan dalam tindakan kecil: pendidikan iman, solidaritas sosial dan pendampingan umat. Di sana, umat belajar mengasihi tanpa kebencian, tidak takut menghadapi keterbatasan dan percaya bahwa Tuhan selalu menyediakan jalan.

    Dengan demikian, Keuskupan Atambua bukan sekadar entitas administratif melainkan komunitas iman yang terus bertumbuh, cerdas dalam iman, sejahtera dalam kehidupan dan sinodal dalam persekutuan. 

Veritas Menjelma di Pah Meto

    Timor sering digambarkan sebagai tanah yang keras dan kering. Namun justru dalam tanah seperti itulah iman berakar kuat. Sejarah Dominikan menunjukkan bahwa kebenaran tidak tumbuh melalui dominasi melainkan melalui pendidikan dan kesabaran (Drane, 1891).

    Tradisi intelektual Dominikan, yang melahirkan tokoh seperti Thomas Aquinas, membuktikan bahwa iman dan akal tidak bertentangan (Ashley, 2009). Di Timor, Gereja menjadi pusat pembentukan moral dan sosial. Di ruang-ruang sederhana, umat diajar untuk berpikir, berdoa dan mengasihi.

    Ketika seorang uskup bernama Dominikus melayani hingga ke Oelnitep, kita menyaksikan lingkaran sejarah yang indah: seorang santo yang mengajarkan kebenaran melalui doa dan studi, sebuah ordo yang membawa Injil melintasi samudra, sebuah Gereja lokal yang melahirkan pemimpin dari rahimnya sendiri.

    Di sana, Veritas bukan lagi sekadar semboyan Latin tetapi realitas hidup: membimbing keluarga, menguatkan yang lemah, menanamkan harapan.

Kebenaran yang Dihidupi

    Warisan Santo Dominikus bagi Gereja di Timor bukan terutama tentang kejayaan masa lalu melainkan tentang spiritualitas yang terus hidup. Jika ia berkata, "Arm yourself wit prayer rather than a sword," (persenjatai dirimu dengan doa, bukan dengan pedang), maka umat di Timor dipanggil untuk memilih doa daripada kekerasan. Jika ia berkata, “Have charity for all, hatred for none” (Kasihilah semua orang, jangan membenci siapa pun), maka umat dipanggil untuk membangun persaudaraan tanpa kebencian. Jika ia berkata, "Do not be afraid. God will provide," (Jangan takut. Tuhan akan menyediakan), maka umat dipanggil untuk melangkah dengan iman di tengah keterbatasan. 

    Dari Caleruega ke Oelnitep, dari abad pertengahan ke zaman modern, benang merahnya tetap sama yakni iman yang dipikirkan dengan akal, dihidupi dalam doa dan dibagikan dalam kasih. Dan di situlah makna terdalam warisan Dominikus bagi Gereja di Timor: kebenaran bukan diteriakkan untuk menang melainkan dihidupi untuk menyelamatkan. (Sebuah catatan kecil dari batas kota, KU, 24/02/2026).