• Hari ini: April 23, 2026

KARTINI DI TANAH TIMOR, PAH METO

23 April, 2026
54

KARTINI DI TANAH TIMOR, PAH METO
(Sebuah Catatan Kecil dari Pinggir Kota, di Hari Kartini)

    Siang ini tanah Timor berguncang. Bukan hanya bumi yang bergoyang, yang runtuh perlahan adalah kepastian yang selama ini kita anggap kokoh. Di hari ketika nama Raden Ajeng Kartini diperingati, guncangan itu terasa seperti sindiran yang sunyi, barangkali yang paling rapuh bukan tanah ini melainkan cara kita merayakan terang tanpa benar-benar memahaminya.

    Kartini tidak pernah mengejar cahaya. Ia menjadi cahaya. Namun hari ini, terang itu lebih sering dipajang daripada diperjuangkan. Di layar, orang tampak bersinar. Di Instagram dan Facebook, hidup dirangkai dengan indah, senyum yang terpilih, momen yang disaring, kebersamaan yang terlihat utuh. Seolah hidup bisa ditata tanpa retak.

    Padahal di tanah Timor, hidup tidak pernah sebersih itu. Ia berdebu, berlapis dan menuntut. Makna Kartini di sini tidak tinggal di unggahan. Makna Kartini turun ke ruang yang tidak pernah masuk kamera, dapur yang menyala sejak pagi, tangan yang terus bekerja di kebun tanpa jeda, pikiran yang gelisah menghitung cukup atau tidaknya bagi banyak orang yang datang di sebuah hajatan. Di sini, menjadi perempuan bukan tentang terlihat kuat, tetapi tentang sanggup memikul yang tidak terlihat.

    Perempuan memang telah melangkah jauh. Pendidikan terbuka, ruang publik memberi tempat, suara semakin terdengar. Namun seperti sering diabaikan, kemajuan tidak selalu membongkar beban lama. Kemajuan justru menambah lapisan baru. Setelah tampil di luar, mereka kembali ke dalam, ke tanggung jawab yang tidak pernah selesai, ke adat yang tetap hidup, ke relasi yang menuntut kesetiaan tanpa jeda.

    Di Timor, kebersamaan bukan sekadar nilai. Kebersamaan adalah struktur hidup. Segala sesuatu dijalani bersama. Namun di dalamnya, ada kerja sunyi yang jarang disebut. Perempuan menjadi pusat yang tidak selalu diakui, seperti dalam sebuah hajatan, mereka menjaga agar semuanya berjalan, memastikan tidak ada yang kurang, menahan kegelisahan yang tidak punya ruang untuk diucapkan.

    Dan seperti gempa yang datang tanpa aba-aba, kebersamaan itu pun menyimpan tekanan. Kebersamaan mengikat tetapi juga membebani. Ia menghangatkan tetapi juga menguras. Memberi menjadi keharusan, sementara menerima tidak pernah pasti. Ada saat ketika seseorang telah mengulurkan begitu banyak tetapi ketika ia membutuhkan, yang kembali justru tidak sebanding. Di situ, hidup membuka wajahnya yang jujur: tidak semua relasi adil, tidak semua kebaikan diingat. Dari sana lahir pelajaran yang tidak diajarkan di ruang mana pun, memberi tanpa perhitungan, bertahan tanpa pengakuan.

    Sementara itu, dunia digital terus menciptakan panggung baru. Banyak orang ingin terlihat hadir, terlihat peduli, terlihat bermakna. Kartini pun sering hadir di sana, dalam bentuk simbol, gaya bahkan sekadar estetika. Tetapi di balik itu, ada pertanyaan yang lebih dalam, apakah yang ditampilkan sungguh mencerminkan yang dijalani?

Di satu sisi, ada kehidupan yang dirapikan untuk dilihat. Di sisi lain, ada kehidupan yang harus dijalani tanpa jeda. Dan perempuan Timor hidup di tengah celah itu. Tidak selalu tampak tetapi menyangga begitu banyak.

    Anehnya, justru dari celah-celah itulah kekuatan terbentuk. Bukan dari sorotan tetapi dari ketekunan yang tidak terlihat. Bukan dari pengakuan tetapi dari kepercayaan yang tumbuh perlahan, lewat kerja yang konsisten. Seseorang bisa datang tanpa bekal, tanpa pemahaman, bahkan tanpa posisi. Namun melalui kesediaan untuk terlibat, untuk belajar, untuk menanggung bersama, ia perlahan menemukan tempatnya. Bukan karena diberi, tetapi karena ia tidak berhenti di tengah jalan. Di sini, penerimaan bukan hadiah tetapi hasil dari ketahanan.

    Dan ketika hidup benar-benar goyah, selalu ada sesuatu yang tetap tinggal, bukan sebagai konsep tetapi sebagai daya dalam diri yakni keteguhan untuk tidak menyerah, kepercayaan bahwa hidup masih bisa dijalani, keberanian untuk tetap melangkah meski tidak ada jaminan. Ada saat ketika hidup menyempit hingga hampir tidak tersisa apa-apa. Namun justru di sana, selalu ada celah kecil yang memungkinkan seseorang bertahan. Tidak besar, tidak dramatis tetapi cukup. Dan dari situ, makna hidup tidak lagi dicari di luar, tetapi ditemukan di dalam.

    Maka menjadi Kartini di tanah Timor bukan pertama-tama soal melawan, seperti Kartini di tanah Jepara melawan penjajah saat itu. Kartini di Timor itu soal bertahan. Soal tidak runtuh ketika hidup bergeser. Kebebasan bukan selalu berarti keluar dari ikatan, tetapi berani sadar di dalamnya, tanpa kehilangan diri.

    Perempuan di sini hidup di antara banyak tarikan, antara harapan dan kenyataan, antara memberi dan tidak selalu menerima, antara ingin dihargai dan harus tetap kuat. Menjadi diri sendiri dalam situasi seperti itu bukan sesuatu yang otomatis. Menjadi diri sendiri di sini adalah perjuangan yang berlangsung dalam diam.

    Seandainya Kartini hadir di tanah ini, ia mungkin tidak akan berbicara tentang kebebasan sebagai slogan. Ia akan berbicara tentang kejujuran, berani melihat hidup tanpa hiasan, tidak terjebak pada tampilan dan tetap memberi tanpa kehilangan martabat diri. Karena itu, perempuan yang sungguh “Kartini” bukan mereka yang paling terlihat tetapi mereka yang paling teguh. Yang memberi tanpa menjadi habis. Yang setia tanpa kehilangan arah. Yang tetap melangkah bahkan ketika hidup tidak baik-baik saja.

    Hari Kartini bukan soal seremoni. Itu terlalu dangkal. Pertanyaan yang lebih jujur adalah apakah terang itu sungguh kita hidupi atau hanya kita tampilkan?

    Kartini tidak pernah menjanjikan terang yang mudah. Terang selalu lahir dari pergulatan, dari keberanian untuk tetap jujur bahkan ketika tidak ada yang melihat. Dan hari ini, ketika tanah benar-benar berguncang, kita diingatkan bahwa yang paling penting bukan bagaimana terlihat kuat, tetapi bagaimana tetap berdiri dan tetap berjuang di atas tanah Timor dan di atas bumi ini.

    Sebab yang paling berbahaya bukan ketika hidup terguncang melainkan ketika kita sibuk terlihat utuh padahal perlahan kehilangan dasar. Ini bukan pesimisme. Ini kejernihan. Karena di tanah Timor, Pah Meto ini, dan di mana pun berada, terang tidak lahir dari tampilan melainkan dari keberanian untuk hidup dengan makna, meski dunia tidak lagi terasa pasti.

(Siang setelah terasa gempa bumi, sekitar pukul 11.17 WITA, 21 April 2026, kamar di depan hutan, pinggir kota Kefamenanu-KU)

Tag