MASIH BERTAHAN
(Oktoviana Irianti Berek)
Irjan dikenal
sebagai anak yang selalu tampak ceria.
Di depan banyak
orang, ia mudah tertawa. Ia pandai menyembunyikan lelah di balik senyum yang
terlihat biasa saja. Di hadapan mama dan bapanya, ia selalu berusaha terlihat
kuat agar mereka percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Setiap malam,
ketika pintu kamarnya yang kecil tertutup dan lampu mulai dipadamkan, dunia
Irjan berubah menjadi sunyi yang panjang.
Di kamar sempit
itulah ia menyimpan segala hal yang tidak mampu ia ucapkan.
Ia duduk sendiri
dalam gelap, memutar musik instrumen bernada sendu, lalu membiarkan air matanya
jatuh tanpa suara. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu betapa lelahnya
ia hari itu.
Siang hari ia
tersenyum di depan semua orang. Namun malam selalu menemukan dirinya dalam
keadaan hancur.
Ia ingin bercerita,
tetapi tidak tahu harus pulang kepada siapa. Kadang ia hanya menatap
langit-langit kamar sambil bertanya pelan kepada dirinya sendiri, “Kenapa hati
ini begitu mudah terluka?”
Di rumah, Irjan
sering merasa menjadi orang yang paling mudah disalahkan.
Hal-hal kecil yang
sebenarnya sederhana selalu berubah menjadi kesalahan besar di matanya orang
tuanya. Apa pun yang ia kerjakan terasa tidak pernah cukup benar.
Dan kalimat itu, kalimat
yang paling sering menghantam pikirannya, terus tinggal di kepalanya seperti
gema yang tidak mau pergi. “Kamu selalu menyusahkan orang tua.”
Irjan mengingat
setiap kata itu.
Bukan karena ingin
membenci, melainkan karena ucapan dari orang yang paling ia sayangi ternyata
mampu meninggalkan luka paling dalam.
Padahal diam-diam
ia sudah berusaha. Ia berusaha menjadi anak yang tidak banyak meminta. Berusaha
mengerti keadaan. Berusaha menahan keinginannya sendiri agar tidak membebani
siapa pun.
Tetapi semua
usahanya sering terasa sia-sia.
Malam demi malam, kamar
gelap itu menjadi saksi begitu banyak air mata jatuh dalam diam.
Irjan memeluk
lututnya sendiri, seolah sedang mencoba menenangkan hatinya yang perlahan
runtuh. Ia berharap ada seseorang yang mengerti dirinya tanpa perlu banyak
penjelasan.
Namun yang datang
justru rasa takut. Takut berbuat salah. Takut mengecewakan. Takut menjadi
beban.
Perlahan rasa
kecewa yang ia simpan tumbuh menjadi rasa bersalah. Ia mulai meragukan dirinya
sendiri dalam banyak hal. Sebelum melakukan sesuatu, pikirannya lebih dulu
dipenuhi ketakutan: “Nanti salah lagi. Nanti dimarahi lagi. Nanti mengecewakan
lagi.”
Dan ketakutan itu
terus berputar di kepalanya tanpa henti, menggerogoti mentalnya sedikit demi
sedikit.
Irjan tetap mencoba
kuat. Meski sebenarnya hatinya lelah. Ia tetap bertahan, meskipun berkali-kali
merasa ingin menyerah. Sebab hidup terasa begitu berat bagi seseorang yang
terlalu sering memendam semuanya sendirian.
Namun pada suatu
malam yang sangat sunyi, di tengah isak tangis yang mulai melemah, Irjan
perlahan menyadari sesuatu. Bahwa sampai hari ini, ia masih ada. Masih
bernapas. Masih mampu bangun setiap pagi meski hatinya berkali-kali runtuh.
Harapan bahwa suatu
saat nanti, ia akan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari.
Dan untuk pertama
kalinya, Irjan mencoba mengatakan sesuatu kepada dirinya sendiri, dengan suara
pelan namun tulus, “Terima kasih…karena sudah bertahan sejauh ini.”
***Mahasiswi
Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online