• Hari ini: May 25, 2026

MASIH BERTAHAN

25 May, 2026
15

MASIH BERTAHAN

(Oktoviana Irianti Berek)

 

Irjan dikenal sebagai anak yang selalu tampak ceria.

Di depan banyak orang, ia mudah tertawa. Ia pandai menyembunyikan lelah di balik senyum yang terlihat biasa saja. Di hadapan mama dan bapanya, ia selalu berusaha terlihat kuat agar mereka percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Padahal tidak.

Setiap malam, ketika pintu kamarnya yang kecil tertutup dan lampu mulai dipadamkan, dunia Irjan berubah menjadi sunyi yang panjang.

Di kamar sempit itulah ia menyimpan segala hal yang tidak mampu ia ucapkan.

Ia duduk sendiri dalam gelap, memutar musik instrumen bernada sendu, lalu membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu betapa lelahnya ia hari itu.

Siang hari ia tersenyum di depan semua orang. Namun malam selalu menemukan dirinya dalam keadaan hancur.

Ia ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus pulang kepada siapa. Kadang ia hanya menatap langit-langit kamar sambil bertanya pelan kepada dirinya sendiri, “Kenapa hati ini begitu mudah terluka?”

Di rumah, Irjan sering merasa menjadi orang yang paling mudah disalahkan.

Hal-hal kecil yang sebenarnya sederhana selalu berubah menjadi kesalahan besar di matanya orang tuanya. Apa pun yang ia kerjakan terasa tidak pernah cukup benar.

Dan kalimat itu, kalimat yang paling sering menghantam pikirannya, terus tinggal di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi. “Kamu selalu menyusahkan orang tua.”

Irjan mengingat setiap kata itu.

Bukan karena ingin membenci, melainkan karena ucapan dari orang yang paling ia sayangi ternyata mampu meninggalkan luka paling dalam.

Padahal diam-diam ia sudah berusaha. Ia berusaha menjadi anak yang tidak banyak meminta. Berusaha mengerti keadaan. Berusaha menahan keinginannya sendiri agar tidak membebani siapa pun.

Tetapi semua usahanya sering terasa sia-sia.

Malam demi malam, kamar gelap itu menjadi saksi begitu banyak air mata jatuh dalam diam.

Irjan memeluk lututnya sendiri, seolah sedang mencoba menenangkan hatinya yang perlahan runtuh. Ia berharap ada seseorang yang mengerti dirinya tanpa perlu banyak penjelasan.

Namun yang datang justru rasa takut. Takut berbuat salah. Takut mengecewakan. Takut menjadi beban.

Perlahan rasa kecewa yang ia simpan tumbuh menjadi rasa bersalah. Ia mulai meragukan dirinya sendiri dalam banyak hal. Sebelum melakukan sesuatu, pikirannya lebih dulu dipenuhi ketakutan: “Nanti salah lagi. Nanti dimarahi lagi. Nanti mengecewakan lagi.”

Dan ketakutan itu terus berputar di kepalanya tanpa henti, menggerogoti mentalnya sedikit demi sedikit.

Irjan tetap mencoba kuat. Meski sebenarnya hatinya lelah. Ia tetap bertahan, meskipun berkali-kali merasa ingin menyerah. Sebab hidup terasa begitu berat bagi seseorang yang terlalu sering memendam semuanya sendirian.

Namun pada suatu malam yang sangat sunyi, di tengah isak tangis yang mulai melemah, Irjan perlahan menyadari sesuatu. Bahwa sampai hari ini, ia masih ada. Masih bernapas. Masih mampu bangun setiap pagi meski hatinya berkali-kali runtuh.

Mungkin hari ini ia menangis. Mungkin malam ini ia masih merasa sendiri. Tetapi jauh di dalam dirinya,
masih ada harapan kecil yang belum mati.

Harapan bahwa suatu saat nanti, ia akan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari.

Dan untuk pertama kalinya, Irjan mencoba mengatakan sesuatu kepada dirinya sendiri, dengan suara pelan namun tulus, “Terima kasih…karena sudah bertahan sejauh ini.”

***Mahasiswi Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua

Tag