PIKULAH DAN BELAJARLAH
Za. 9:9–10; Mat. 11:25–30
Setiap orang
memikul "kuk" dalam hidupnya. Ada yang memikul kuk karena ekonomi
yang semakin sulit. Ada orang tua yang memikul beban mendidik anak-anaknya. Ada
imam atau biarawan/ti yang berjuang mempertahankan hidup imamat dan janji kaul
kesetiaannya. Ada pasangan suami-istri yang sedang berjuang mempertahankan
keluarganya. Ada kaum muda yang gelisah memikirkan masa depan. Ada pula yang
tersenyum di depan banyak orang, tetapi diam-diam sedang memikul luka yang
tidak diketahui siapa pun.
Sering kali
kita berdoa, "Tuhan, angkatlah beban ini." Namun, Injil hari ini
memberikan jawaban yang mungkin tidak kita duga. Yesus tidak berkata, "Aku
akan menghapus semua bebanmu." Sebaliknya, Ia berkata, "Pikullah kuk
yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku."
Mengapa Yesus
justru berbicara tentang kuk? Pada zaman Yesus, kuk adalah balok kayu yang
dipasang pada leher dua ekor lembu agar keduanya menarik bajak bersama-sama.
Kuk memang tidak menghilangkan pekerjaan yang berat, tetapi membuat pekerjaan
itu dapat dijalani bersama. Lembu yang lebih kuat membantu lembu yang lebih lemah
sehingga keduanya dapat terus melangkah.
Di sinilah
letak keindahan sabda Yesus. Ketika Yesus berkata, "Pikullah kuk-Ku,"
Yesus tidak sedang menambahkan beban baru. Yesus sedang berkata, "Jangan
lagi memikul hidupmu sendirian. Biarkan Aku berjalan bersamamu." Inilah
yang sudah dinubuatkan Nabi Zakharia. Mesias yang dijanjikan bukanlah raja yang
datang dengan kereta perang dan pasukan bersenjata. Ia datang mengendarai
seekor keledai, lambang kerendahan hati dan kedamaian. Raja ini tidak
menaklukkan manusia dengan kekuatan tetapi memenangkan hati manusia dengan
kasih.
Yesus adalah
Raja seperti itu. Ia tidak memerintah dari kejauhan. Ia turun masuk ke dalam
kehidupan manusia. Ia mengenal air mata, kelelahan, penolakan bahkan
penderitaan. Karena itu, ketika Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku,"
Ia mengundang kita datang kepada Pribadi yang mengerti penderitaan kita bukan
sekadar memahami secara teori.
Lalu Yesus
menambahkan satu kalimat yang sering kita lewatkan: "Belajarlah
kepada-Ku." Belajar apa? Yesus tidak berkata, "Belajarlah bagaimana
menjadi kaya." Ia juga tidak berkata, "Belajarlah bagaimana menjadi
berkuasa." Yang Yesus katakan justru, "Belajarlah kepada-Ku, karena
Aku lemah lembut dan rendah hati." Inilah pelajaran seumur hidup seorang
murid Kristus.
Sering kali
kita ingin mengubah dunia tetapi lupa mengubah hati sendiri. Kita ingin orang
lain berubah tetapi sulit belajar sabar. Kita ingin dihormati tetapi enggan
merendahkan diri. Kita ingin menang dalam setiap perdebatan tetapi lupa bahwa
kasih sering kali lebih kuat daripada kemenangan.
Yesus
mengajarkan bahwa hati yang lemah lembut bukanlah hati yang lemah. Justru hanya
orang yang kuat yang mampu mengampuni, bersabar dan tetap mengasihi ketika
disakiti. Karena itu Yesus berkata, "Kuk yang Kupasang itu enak dan
beban-Ku pun ringan."
Apakah menjadi
murid Kristus berarti hidup tanpa masalah? Tidak. Orang beriman tetap mengalami
sakit, kehilangan, kegagalan bahkan salib. Yang berubah bukan selalu keadaan
hidup kita. Yang berubah adalah cara kita menjalaninya. Seseorang yang memikul
beban sendirian mudah putus asa. Tetapi orang yang berjalan bersama Kristus
menemukan kekuatan yang tidak dimilikinya sebelumnya.
Hari ini
mungkin Tuhan tidak langsung mengangkat semua persoalan kita. Namun, Ia
memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia memberikan diri-Nya sendiri. Dan
ketika Kristus berjalan bersama kita, beban yang sama tidak lagi terasa sama. Karena
kasih selalu membuat beban menjadi lebih ringan. Maka pulanglah sebentar dengan
satu pertanyaan sederhana, selama ini saya memikul beban hidup bersama siapa?
Jika beban
yang dipikul hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita akan cepat lelah. Tetapi
jika bersama Kristus, kita akan tetap mampu melangkah, sebab Dialah Raja yang
lemah lembut, yang tidak pernah membiarkan seorang murid berjalan sendirian.
Karena Dia selalu mengajak kita saat demi saat, "Marilah kepada-Ku, semua
yang letih lesu dan berbeban berat; Aku akan memberikan kelegaan
kepadamu." (Mat. 11:28).
Beban hidup tidak selalu menjadi lebih ringan karena berkurang, tetapi karena dipikul bersama Kristus. Dan Kristus Tuhan tidak selalu mengangkat salib kita, tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita memikulnya sendirian. Di situlah kuk Kristus menjadi ringan dan hati menemukan kelegaan. Semoga kita berani datang kepada-Nya, memikul kuk bersama-Nya, dan setiap hari belajar memiliki hati yang semakin serupa dengan hati Kristus. Amin.
***Renungan HMB XIV, samping hutan di batas kota, 5 Juli 2026
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online