• Hari ini: May 17, 2026

JAGA NYALA HARAPAN

17 May, 2026
26

JAGA NYALA HARAPAN

Kis 1:12–14; Yoh 17:1–11a

 

Ada saat dalam hidup ketika Tuhan terasa jauh, jawaban belum datang dan masa depan tampak kabur. Persis di titik itulah Sabda Tuhan hari ini berbicara.

Dalam Injil Yohanes, Yesus berdiri di ambang penderitaan. Namun yang keluar dari hati-Nya bukan ketakutan, melainkan doa. Yesus tidak sibuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi menyerahkan murid-murid-Nya ke dalam kasih Bapa. Yesus tahu bahwa dunia akan selalu menggoda manusia untuk pusing, terpecah, kehilangan arah dan kehilangan wajah kemanusiaannya.

Karena itu Yesus berkata bahwa hidup kekal adalah “mengenal” Allah. Mengenal di sini bukan sekadar memahami Tuhan dengan pikiran, tetapi tinggal dekat dengan-Nya dengan hati. Iman bukan hanya hafalan doa atau rutinitas agama melainkan relasi yang hidup, relasi yang membuat seseorang tetap percaya bahkan ketika langit terasa sunyi.

Doa Yesus itu menemukan gaungnya dalam Kisah Para Rasul. Setelah Yesus naik ke surga, para murid berkumpul di ruang atas. Mereka tidak memiliki kepastian. Tidak ada jaminan keamanan. Tidak ada strategi besar. Yang mereka punya hanyalah doa dan kebersamaan.

Dan di tengah mereka yang sedang berkumpul dan berdoa, ada Maria.

Kehadiran Maria bukan sekadar pelengkap cerita. Maria menjadi simbol hati yang tetap percaya meskipun belum melihat jawaban Tuhan secara utuh. Dalam dalam bulan Maria, Gereja belajar bahwa kesetiaan terbesar sering lahir bukan saat semuanya jelas, tetapi saat kita tetap berdoa di tengah ketidakjelasan.

Renungan ini menjadi semakin relevan dengan tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2026: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia.” Di zaman media sosial, manusia semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit mendengar dengan hati. Tidak sedikit orang kehilangan wajah kemanusiaannya karena kebencian, fitnah, penghinaan dan kata-kata yang melukai.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa komunikasi kristiani harus lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan. Orang yang hidup dalam doa tidak akan mudah merendahkan sesamanya. Ia belajar menjaga suara agar tidak melukai, dan menjaga wajah manusia agar tetap dihormati sebagai citra Allah.

Lidah yang tidak lahir dari doa mudah menjadi senjata. Tetapi hati yang dekat dengan Tuhan akan melahirkan kata-kata yang menghidupkan, menguatkan dan mempersatukan.

Poin-Poin Penting untuk kita renungan bersama. Yesus menghadapi penderitaan bukan dengan kepanikan, tetapi dengan doa. Hidup kekal dimulai saat seseorang hidup dekat dengan Tuhan. Gereja mula-mula bertahan karena kesatuan hati dan ketekunan doa. Maria mengajarkan iman yang tetap bertahan di tengah ketidakpastian.

Dalam Hari KOMSOS se-dunia, kita dipanggil menjaga suara dan wajah manusia melalui komunikasi yang penuh kasih dan penghormatan. Apakah saya masih berdoa dengan sungguh atau hanya sibuk dengan kecemasan? Apakah kata-kata saya di dunia nyata maupun di media komunikasi lainnya, menjaga martabat sesama atau justru melukai? Ketika Tuhan terasa diam, apakah saya tetap setia berharap? 

Orang yang menjaga doa akan tetap menjaga harapan, dan hati yang tetap berharap tidak akan mudah kehilangan kasih. Ketika dunia dipenuhi suara yang memecah-belah, doa menjadikan hati tetap tenang, dan kasih membuat manusia tetap bersatu. Maria ada bersama dalam setiap doa kita. Namun, jika suara, doa-doa masih membuat orang lain menjadi pusing, terpecah, tidak bersatu dan tidak memberi harapan, maka pi ko Mama Maria kursus lu pake stommmm. Amin.

(Renungan Hari KOMSOS, dari batas kota dan pinggir hutan, 17 Mei 2026)

Tag