JAGA NYALA HARAPAN
Kis 1:12–14; Yoh 17:1–11a
Ada saat dalam hidup ketika Tuhan
terasa jauh, jawaban belum datang dan masa depan tampak kabur. Persis di titik
itulah Sabda Tuhan hari ini berbicara.
Dalam Injil Yohanes, Yesus
berdiri di ambang penderitaan. Namun yang keluar dari hati-Nya bukan ketakutan,
melainkan doa. Yesus tidak sibuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi menyerahkan
murid-murid-Nya ke dalam kasih Bapa. Yesus tahu bahwa dunia akan selalu
menggoda manusia untuk pusing, terpecah, kehilangan arah dan kehilangan wajah
kemanusiaannya.
Karena itu Yesus berkata bahwa hidup
kekal adalah “mengenal” Allah. Mengenal di sini bukan sekadar memahami Tuhan
dengan pikiran, tetapi tinggal dekat dengan-Nya dengan hati. Iman bukan hanya
hafalan doa atau rutinitas agama melainkan relasi yang hidup, relasi yang
membuat seseorang tetap percaya bahkan ketika langit terasa sunyi.
Doa Yesus itu menemukan gaungnya dalam
Kisah Para Rasul. Setelah Yesus naik ke surga, para murid berkumpul di ruang
atas. Mereka tidak memiliki kepastian. Tidak ada jaminan keamanan. Tidak ada
strategi besar. Yang mereka punya hanyalah doa dan kebersamaan.
Dan di tengah mereka yang sedang
berkumpul dan berdoa, ada Maria.
Kehadiran Maria bukan sekadar
pelengkap cerita. Maria menjadi simbol hati yang tetap percaya meskipun belum
melihat jawaban Tuhan secara utuh. Dalam dalam bulan Maria, Gereja belajar
bahwa kesetiaan terbesar sering lahir bukan saat semuanya jelas, tetapi saat
kita tetap berdoa di tengah ketidakjelasan.
Renungan ini menjadi semakin
relevan dengan tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2026: “Menjaga Suara dan
Wajah Manusia.” Di zaman media sosial, manusia semakin mudah berbicara, tetapi
semakin sulit mendengar dengan hati. Tidak sedikit orang kehilangan wajah
kemanusiaannya karena kebencian, fitnah, penghinaan dan kata-kata yang melukai.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan
bahwa komunikasi kristiani harus lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan. Orang
yang hidup dalam doa tidak akan mudah merendahkan sesamanya. Ia belajar menjaga
suara agar tidak melukai, dan menjaga wajah manusia agar tetap dihormati
sebagai citra Allah.
Lidah yang tidak lahir dari doa
mudah menjadi senjata. Tetapi hati yang dekat dengan Tuhan akan melahirkan
kata-kata yang menghidupkan, menguatkan dan mempersatukan.
Poin-Poin Penting untuk kita renungan
bersama. Yesus menghadapi penderitaan bukan dengan kepanikan, tetapi dengan
doa. Hidup kekal dimulai saat seseorang hidup dekat dengan Tuhan. Gereja
mula-mula bertahan karena kesatuan hati dan ketekunan doa. Maria mengajarkan
iman yang tetap bertahan di tengah ketidakpastian.
Dalam Hari KOMSOS se-dunia, kita dipanggil menjaga suara dan wajah manusia melalui komunikasi yang penuh kasih dan penghormatan. Apakah saya masih berdoa dengan sungguh atau hanya sibuk dengan kecemasan? Apakah kata-kata saya di dunia nyata maupun di media komunikasi lainnya, menjaga martabat sesama atau justru melukai? Ketika Tuhan terasa diam, apakah saya tetap setia berharap?
Orang yang menjaga doa akan tetap menjaga harapan, dan hati yang tetap berharap tidak akan mudah kehilangan kasih. Ketika dunia dipenuhi suara yang memecah-belah, doa menjadikan hati tetap tenang, dan kasih membuat manusia tetap bersatu. Maria ada bersama dalam setiap doa kita. Namun, jika suara, doa-doa masih membuat orang lain menjadi pusing, terpecah, tidak bersatu dan tidak memberi harapan, maka pi ko Mama Maria kursus lu pake stommmm. Amin.
(Renungan Hari KOMSOS, dari batas kota dan pinggir hutan, 17 Mei 2026)
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online