KASIH DAN TAAT
(Kis 8:5-8.14-17; 1Ptr 3:15-18; Yoh 14:15-21)
Dalam Injil Yohanes 14:15, Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku.” Yesus tidak berkata, “Taatlah dulu supaya dikasihi.” Ia justru menempatkan kasih lebih dahulu. Artinya, ketaatan lahir dari cinta, bukan dari ketakutan. Seorang anak yang sungguh mengasihi orang tuanya biasanya tidak ingin melukai hati mereka. Ia membantu, mendengar dan menghormati bukan karena takut dimarahi, tetapi karena ada kasih. Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Orang yang mengasihi Kristus akan berusaha setia kepada-Nya. Karena itu, iman Kristen bukan sekadar menjalankan aturan tetapi hidup dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Kesetiaan itu bukan seperti daun yang mudah gugur ketika musim berubah. Kesetiaan sejati lebih seperti akar pohon. Akar memang tidak terlihat tetapi diam-diam memberi hidup bagi batang, ranting dan daun setiap hari. Begitu juga kasih kepada Tuhan. Tidak selalu tampak dalam kata-kata besar, tetapi nyata dalam kesetiaan kecil: tetap berdoa, tetap jujur, tetap berbuat baik, dan tetap mengasihi walau kadang tidak dihargai.
Yesus lalu menjanjikan “Penolong yang lain” yaitu Roh Kudus. Ia tahu hati para murid sedang gelisah karena perpisahan semakin dekat. Karena itu Yesus berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.” Roh Kudus adalah tanda bahwa Tuhan tetap berjalan bersama umat-Nya. Ia menghibur, menguatkan dan membimbing manusia kepada kebenaran. Janji ini terlihat dalam Kisah Para Rasul 8 ketika Samaria dipenuhi sukacita oleh karya Roh Kudus. Padahal Samaria adalah tempat yang lama dipenuhi luka dan penolakan. Namun justru di tempat seperti itulah Allah menghadirkan kehidupan baru. Ini menjadi penghiburan bagi kita.
Kadang keluarga juga memiliki luka: ada anak dan orang tua yang sulit saling memahami, ada saudara yang tidak saling berbicara, ada tetangga yang hidup dalam pertengkaran. Tetapi Roh Kudus mampu melembutkan hati yang keras dan menumbuhkan kembali kasih yang hampir mati. Injil selalu bekerja di hati yang mau dibuka bagi Tuhan, bukan di hati yang merasa diri paling benar.
Karena itu, kasih kepada Kristus harus tampak dalam hidup sehari-hari. Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui hal-hal besar dan luar biasa. Ia sering bekerja diam-diam seperti akar pohon yang terus memberi kehidupan. Roh Kudus memberi kekuatan kepada orang tua untuk tetap sabar mendidik anak-anaknya. Roh Kudus juga menolong anak-anak agar tetap menghormati orang tua, meskipun kadang tidak selalu dimengerti. Roh Kudus membantu suami-istri tetap setia ketika hubungan sedang diuji.
Roh Kudus mengajar kita tetap jujur ketika banyak orang memilih jalan tipu daya, tetap mengampuni ketika hati terluka dan tetap lembut di tengah dunia yang penuh kemarahan. Kesetiaan seperti ini mungkin tidak selalu dipuji manusia, tetapi justru di situlah hidup Kristus bertumbuh. Paskah akhirnya bukan hanya tentang Yesus yang bangkit, tetapi tentang hidup kita yang perlahan berubah menjadi pohon yang berakar dalam kasih Allah dan menghasilkan buah yang menyejukkan bagi sesama.
Kasih sejati tidak selalu bersuara besar, ia sering hidup diam-diam dalam kesetiaan kecil yang terus memberi kehidupan. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan tidak hanya pandai berbicara tentang iman, tetapi setia menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kesetiaan kecil yang dilakukan dengan kasih sering menjadi cara Tuhan memberi kehidupan bagi banyak orang.
(Renungan Hari Minggu Paskah VI 2026, Pinggir Kota, samping hutan)
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online