MEJA KORBAN
(Yes
52:13–53:12; Yoh 18:1–19:42)
Dalam
Yesaya dikatakan tentang hamba Tuhan menanggung penderitaan orang lain.
Sedangkan dalam Yohanes, Yesus menyerahkan diri-Nya sampai wafat di salib.
Di sinilah
perbedaannya dengan Kamis Putih, tidak ada meja. Tidak ada roti. Tidak ada
perjamuan. Yang ada hanya, salib dan tubuh yang diberikan sampai habis.
1. Meja itu
Kini Kosong
Jika Kamis Putih adalah meja penuh: ada roti, ada kebersamaan dan ada tindakan kasih, maka Jumat Agung terasa sangat berbeda: meja itu kosong. Tidak ada perjamuan, kata-kata panjang dan suasana hangat. Yang ada: pengkhianatan, penolakan dan penderitaan.
Ini penting,
kadang dalam hidup, kita juga mengalami “meja kosong:” doa terasa hampa, Tuhan
terasa jauh dan hidup terasa gelap.
Dan Jumat
Agung berkata: Tuhan hadir juga di saat-saat kosong seperti itu.
2. Kasih itu
Terlihat Paling Jelas Saat Terluka
Yesaya 53
berkata: “Ia tertikam oleh karena pelanggaran kita.” Ini bukan bahasa indah. Ini
kenyataan yang keras: kasih sejati selalu terluka.
Dalam
Yohanes: Yesus tidak melawan, tidak membalas dan tidak lari. Ia tetap tinggal…
sampai akhir.
Artinya: kasih
bukan hanya perasaan, tetapi keberanian untuk tetap setia bahkan saat sakit dan
terluka.
3. Salib adalah
“Meja” Yang Paling Jujur
Di Kamis
Putih, Yesus membasuh kaki. Di Jumat Agung, Yesus memberikan seluruh diri-Nya. Kalau
di meja Kamis Putih, Yesus membungkuk dan berlutut mencuci kaki, di meja Jumat
Agung, di salib, Yesus diserahkan sepenuhnya.
Maka, salib
adalah “meja” di mana kasih tidak lagi dijelaskan tetapi dibuktikan sampai
tuntas.
4. Kita
Sering Salah Mengerti Korban
Banyak
orang berpikir, korban = kehilangan, korban = dipaksa, korban = menderita saja.
Tetapi dalam Yesus, korban adalah pemberian diri dengan bebas.
Yesus
berkata, “Sudah selesai.” Itu bukan kata kalah. Itu kata selesai dengan setia. Maka
korban bukan tentang kalah, tetapi tentang mengasihi sampai akhir.
5. Yang
Paling Sulit: Tetap Mengasihi Saat Terluka
Ini bagian
paling nyata dalam hidup kita. Kita bisa mengasihi saat semuanya baik, peduli
saat mudah. Tetapi saat disakiti? Saat dikhianati? Saat tidak dihargai? Di
situlah kita sering berhenti.
Tetapi
Yesus tidak berhenti. Ia tetap mengasihi, tetap memberi dan tetap setia.
Maka Jumat
Agung bertanya, apakah kita mau mengasihi hanya saat mudah…atau juga saat
sulit?
Coba jujur
dalam hati: luka siapa yang masih kita simpan? Siapa yang belum kita ampuni? Di
mana kita memilih mundur dari kasih?
Karena
sering terjadi, kita mau menerima kasih Tuhan…tetapi tidak mau memberi kasih
yang sama kepada orang lain.
Di Kamis
Putih, Yesus menunjukkan kasih dengan membungkuk. Di Jumat Agung, Yesus
membuktikan kasih dengan menyerahkan seluruh hidup-Nya.
Salib bukan
tanda kekalahan tetapi tanda bahwa kasih bisa bertahan sampai akhir.
Kalau kita berhenti mengasihi saat terluka, kita belum sampai di Jumat Agung.
Renungan Jumat Agung 2026, Kapela Oelnitep
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online