AKU MENYERTAI KAMU
Mat 28: 16-20
Bacaan ini adalah penutup Injil Matius. Injil Matius ditutup dengan Amanat Agung. Tetapi menariknya, bagian ini tidak ditutup dengan perintah, melainkan dengan sebuah janji, "dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Mat 28:20). Justru di situlah pusat penghiburannya.
Matius menyebut Galilea dan bukit. Galilea adalah tempat awal panggilan murid-murid. Artinya mereka kembali ke titik awal perjumpaan dan panggilan mereka. Bukit dalam Injil Matius sering menjadi tempat pewahyuan ilahi, Sabda Bahagia di bukit, Yesus dimuliakan di gunung dan sekarang Amanat Agung di bukit. Jadi bukit melambangkan tempat manusia melihat segala sesuatu dari perspektif Allah.
"Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu" (Ay. 17). Ini salah satu ayat paling jujur dalam Injil. Matius tidak menyembunyikan kelemahan para murid. Mereka melihat Yesus bangkit, menyembah, tetapi masih ada yang ragu. Ragu-ragu bukan berarti menolak iman total, melainkan bimbang, goyah, belum mantap sepenuhnya. Kata ini juga dipakai ketika Petrus berjalan di atas air lalu mulai tenggelam (Mat 14:31).
Jadi keraguan para murid bukan berarti tanpa Tuhan atau tidak mengakui Tuhan. Mereka percaya tetapi hati mereka masih gemetar menghadapi misteri kebangkitan dan tugas besar yang akan diberikan. Dan menariknya, Yesus tidak membatalkan panggilan karena keraguan itu.
"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa" (Ay. 18). Sebelum mengutus, Yesus lebih dahulu menegaskan otoritas-Nya. Kata “segala kuasa” menunjuk bahwa kebangkitan bukan sekadar Yesus hidup kembali tetapi Yesus kini dimuliakan sebagai Tuhan atas surga dan bumi. Para murid diutus bukan dengan kekuatan pribadi melainkan di bawah otoritas Kristus yang bangkit.
"Pergilah...." Perintah utama sebenarnya bukan “pergilah”, melainkan "jadikanlah semua bangsa murid-Ku." Artinya Gereja bukan hanya mengumpulkan pengikut tetapi membentuk manusia menjadi murid yang belajar, mengikuti, dan hidup menurut Kristus. Dan tugas itu dilakukan dengan pergi, membaptis dan mengajar.
"Aku menyertai kamu..." atau Aku bersamamu. Kalimat ini sangat kuat karena menggemakan nama Allah sendiri: "Aku adalah." Matius membuka Injil dengan Allah bersama kita (Mat 1:23), dan menutup Injil dengan, "Aku menyertai kamu." Jadi seluruh Injil Matius dibingkai oleh tema: Allah yang tinggal bersama manusia.
Yang sangat menghibur dari teks ini adalah Yesus memberi Amanat Agung bukan kepada murid yang sempurna, melainkan kepada murid yang masih campur aduk: ada penyembahan, ada keraguan, ada iman, ada ketakutan. Tetapi justru kepada mereka Yesus berkata, "Pergilah..."
Artinya Allah tidak menunggu iman kita sempurna baru Ia berkarya melalui kita. Sering kali kita berpikir, kalau saya sudah kuat baru saya melayani, kalau saya sudah suci baru saya diutus, kalau saya tidak ragu lagi baru saya bisa menjadi saksi.
Hari ini Injil menunjukkan sebaliknya. Para murid sendiri masih ragu ketika menerima perutusan terbesar dalam sejarah Gereja. Dan di situlah janji Yesus menjadi sangat indah, "Aku menyertai kamu." Bukan kamu pasti selalu kuat. Bukan kamu tidak akan pernah takut. Bukan kamu tidak akan pernah gagal. Tetapi "Aku menyertai kamu." Kehadiran Kristus lebih penting daripada kepastian hidup.
Kenaikan Tuhan bukan berarti Yesus pergi menjauh. Secara fisik Ia naik ke surga tetapi secara rohani Ia menjadi hadir tanpa batas. Sebelum kenaikan, Yesus hadir di satu tempat. Sesudah kenaikan, Ia hadir dalam Gereja, dalam Sabda, dalam Ekaristi, dalam Roh Kudus, dan dalam umat beriman. Karena itu Kenaikan bukan kisah kehilangan melainkan perubahan cara kehadiran Tuhan.
Mungkin banyak orang hari ini hidup seperti para murid di bukit itu: masih percaya tetapi juga masih ragu, masih berdoa tetapi hati kadang goyah, masih mengikuti Tuhan tetapi takut menghadapi masa depan. Dan kepada orang-orang seperti itulah Yesus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa." Bukan hanya saat iman kuat. Bukan hanya saat hidup berhasil. Bukan hanya pada saat semua aman-aman saja. Tetapi saat hati lelah, saat pelayanan berat, saat doa terasa sunyi, saat dihantui kebimbangan dan keraguan, bahkan sampai akhir zaman.
Kekristenan pada akhirnya bukan pertama-tama soal seberapa kuat kita memegang Tuhan, melainkan seberapa setia Tuhan menyertai kita. Teruslah berjalan dengan segala ketidaksempurnaan kita, karena ada harapan yang tak pernah pudar yakni ada janji Tuhan, "Aku menyertai kamu senantiasa."
(HR Kenaikan Tuhan 2026, dari batas kota samping hutan, hening dan dingin karena hujan tiada henti)
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online