Bua’ kata manusia dari tanah kering
Gumpalan, bulatan
Bundaran kecil kehidupan
Tanah-tanah tercerai
Mencari bentuk utuh
Napas-napas terpisah
Mencari ruang pulang
Lalu lahirlah: Tabua
Kumpulan, pertemuan
Perkumpulan hati-hati manusia
Bukan sekadar duduk berdekatan
Bukan sekadar ramai tubuh
Itu lingkaran hidup
Tempat setiap orang
Tidak dibiarkan menjadi sendiri
Tanah kering dan keras
Musim panjang
Langit hemat hujan
Atoni Pah Meto, manusia dari tanah kering
Tidak membangun hidup
Dalam kesendirian
Mereka lingkar berkumpul
Seperti batu-batu tua
Mengitari api malam
Seperti akar-akar liar
Saling menggenggam di bawah tanah retak
Tabua
Bundaran napas
Persekutuan luka
Rumah bagi kelelahan
Kulit legam matahari
Telapak pecah ladang
Mata penuh kenangan antar masa
Lingkaran tetap dibuat
Sebab keterpisahan
Kesunyian paling menakutkan
Jagung dipatahkan bersama
Air diteruskan dari tangan ke tangan
Kesedihan diberi tempat duduk
Ta’lum, mazmur duka
Suara retak dari dada manusia
Saat beban tak lagi kuat dipikul sendiri
Anak-anak diam dekat bara
Perempuan tua menenun sunyi
Lelaki-lelaki memandang api
Mencari wajah leluhur
Di antara nyala merah
Kadang suara meninggi
Kadang ego tumbuh liar
Tabua
Tidak lahir bagi manusia sempurna
Tabua
Ruang pulang bagi amarah
Ruang tinggal bagi kecewa
Ruang harapan bagi kegelisahan
Lelaki tua berdiri perlahan
Tubuh kurus musim kering
Keriput panjang penderitaan
Katanya pendek
Bulatan batu menjadi pagar
Bulatan hati menjadi kampung
Sunyi jatuh
Mata mulai merendah
Telinga mulai membuka ruang
Tabua hidup kembali
Bukan kumpulan biasa
Bukan pertemuan tanpa makna
Tetapi bundaran kasih
Tempat hidup saling menopang
Tak ada paling depan
Tak ada paling belakang
Lingkaran
Tak mengenal pinggir
Mungkin sebab itu
Tuhan lebih mudah singgah
Dalam lingkaran itu
Pada jagung rebus terbagi rata
Pada bahu yang tetap tinggal
Pada air mata tanpa ejekan
Dan sinodalitas
Barangkali bukan kata besar
Dari ruang-ruang megah
Melainkan Tabua
Gumpalan manusia biasa
Yang memilih tetap berkumpul
Berjalan bersama
Meski hidup berkali-kali
Nyaris pecah
Dan tercerai
(Urai hati hening setelah gerimis, pinggir hutan dekat kota, malam ini, menuju pertengahan Mei 2026, 23.38)
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online