ROTI YANG MENJADI HIDUP
Ul. 8:2–3,14b–16a; 1Kor.
10:16–17; Yoh. 6:51–58
Ada banyak hal yang dapat
membuat manusia tetap hidup, tetapi tidak semuanya mampu memberi makna bagi
hidup itu sendiri. Manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi ia
juga membutuhkan kasih, harapan, dan tujuan untuk sungguh hidup. Kita renungkan
poin-poin penting ini.
1. Allah yang Memberi Makan Umat-Nya.
Bacaan pertama membawa
kita ke perjalanan panjang bangsa Israel di padang gurun. Dalam Kitab Ulangan,
Musa mengajak umat mengingat kembali bagaimana Allah memimpin mereka selama
empat puluh tahun. Menarik bahwa pengalaman padang gurun bukan hanya pengalaman
kekurangan. Padang gurun Adalah sekolah iman.
Musa berkata, "Manusia
hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan
Tuhan" (Ul. 8:3). Ayat ini berbicara tentang manna, makanan misterius yang
diberikan Allah setiap hari. Manna bukan sekadar bantuan pangan darurat. Manna
adalah tanda bahwa hidup manusia bergantung pada Allah. Bangsa Israel belajar
bahwa sumber kehidupan bukan pertama-tama apa yang mereka miliki, tetapi Dia
yang memelihara mereka.
Di sinilah bahaya terbesar
manusia modern. Kita sering merasa aman karena tabungan, pekerjaan, jabatan,
teknologi atau kemampuan diri sendiri. Tanpa sadar kita mulai berpikir bahwa
kita mampu menopang hidup kita sendiri.
Padahal Musa mengingatkan "Jangan
sampai engkau melupakan Tuhan." Kelupaan rohani sering kali bukan terjadi
saat hidup susah, melainkan saat hidup terasa cukup.
2. Yesus Bukan Sekadar Memberi Roti
Yesus berkata,
"Akulah roti hidup yang telah turun dari surga" (Yoh. 6:51). Perhatikan
baik-baik. Yesus tidak berkata, "Aku akan memberikan roti." Ia
berkata, "Akulah roti itu." Di sinilah keunikan iman Kristiani. Allah
tidak hanya memberi sesuatu kepada manusia. Allah memberikan diri-Nya sendiri.
Seluruh sejarah
keselamatan bergerak menuju pemberian diri Allah yang paling sempurna dalam
Kristus. Dalam Ekaristi, yang diberikan bukan sekadar simbol kasih Allah,
melainkan Kristus sendiri.
Karena itu orang-orang
Yahudi terkejut ketika Yesus berkata, "Barangsiapa makan daging-Ku dan
minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal." Banyak murid bahkan
meninggalkan Yesus karena perkataan ini terdengar terlalu keras.
Dalam tradisi Katolik,
Gereja menegaskan bahwa Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi, Tubuh, Darah,
Jiwa dan Keilahian-Nya. Maka ketika menerima Komuni Kudus, kita tidak hanya
mengenang Yesus. Kita menerima Yesus sendiri.
3. Dari Banyak Butir Menjadi Satu Roti
Dalam bacaan kedua, Santo
Paulus memberikan dimensi lain yang sering terlupakan. Ia berkata, "Karena
roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak merupakan satu tubuh" (1Kor.
10:17). Paulus menulis kepada jemaat Korintus yang sedang mengalami perpecahan.
Karena itu ia mengingatkan bahwa Ekaristi bukan hanya menyatukan kita dengan
Kristus, tetapi juga menyatukan kita satu sama lain.
Bagi Gereja perdana,
menerima Ekaristi sambil memelihara perpecahan adalah sebuah kontradiksi.
Bagaimana mungkin seseorang menerima Tubuh
Kristus tetapi menolak saudaranya yang juga anggota Tubuh Kristus?
Di sinilah tantangan
terbesar perayaan Ekaristi. Kadang-kadang kita hadir dalam Misa dengan sangat
khusyuk, tetapi pulang tanpa berubah dalam cara kita memperlakukan sesama. Padahal
Ekaristi yang sejati selalu menghasilkan komunio. Makin dekat kepada Kristus,
makin dekat pula kepada sesama.
4. Ekaristi: Gaya Hidup yang Memberi Diri
Kata "Ekaristi"
berarti syukur. Namun syukur dalam tradisi Kristiani bukan sekadar ucapan
terima kasih. Syukur adalah cara hidup. Yesus yang kita sambut dalam Ekaristi
adalah Yesus yang memecah-mecahkan diri-Nya bagi dunia.
Roti yang dipecahkan
menjadi simbol kehidupan yang diberikan. Karena itu, setiap kali kita menerima
Komuni Kudus, sesungguhnya kita sedang belajar menjadi seperti Kristus yakni menjadi
roti bagi keluarga, menjadi penghiburan bagi yang terluka, menjadi kekuatan
bagi yang lemah, menjadi harapan bagi yang putus asa.
Maka Ekaristi bukan hadiah
bagi orang sempurna, melainkan makanan bagi peziarah yang sedang bertumbuh.
Namun makanan ini harus menghasilkan perubahan hidup. Jika setelah menerima
Kristus kita tetap egois, tetap membenci, tetap menutup diri terhadap sesama,
maka makna Ekaristi belum sungguh meresap ke dalam hidup kita.
Hari Raya Tubuh dan Darah
Kristus mengingatkan kita bahwa Allah tidak memilih tinggal jauh dari manusia. Ia
menjadi manna di padang gurun. Ia menjadi roti yang turun dari surga. Ia
menjadi makanan bagi perjalanan hidup kita.
Di tengah dunia yang
sering membuat manusia lapar akan makna, lapar akan kasih, lapar akan harapan,
Kristus tetap berkata, "Akulah roti hidup." Bukan sekadar roti untuk
mengisi perut, melainkan roti yang menguatkan jiwa. Bukan sekadar makanan untuk
hari ini, melainkan santapan yang mengantar manusia kepada kehidupan kekal.
Karena itu, setiap kali
kita mendekati altar dan menerima Komuni Kudus, marilah kita datang bukan hanya
dengan tangan yang terbuka, tetapi juga dengan hati yang siap diubah. Sebab
Ekaristi bukan hanya tentang menerima Kristus ke dalam hidup kita, tetapi juga
tentang membiarkan hidup kita perlahan menjadi roti yang dibagikan bagi sesama.
Mungkin kita tidak mampu
melakukan hal-hal besar. Namun kita selalu dapat melakukan hal-hal kecil dengan
kasih yang besar, mendengarkan anggota keluarga yang sedang bergumul,
mengunjungi orang sakit, membantu tetangga yang berkekurangan, memberi
perhatian kepada mereka yang sering dilupakan, atau sekadar menghadirkan
kata-kata yang menguatkan. Dengan cara itulah Ekaristi yang kita rayakan di
altar berlanjut dalam altar kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, hidup yang
paling utuh bukanlah hidup yang habis untuk diri sendiri, melainkan hidup yang,
seperti roti di atas altar, rela dipecah agar kasih dapat bertumbuh dalam
banyak hati.
****Renungan HR Tubuh dan
Darah Kristus 2026, batas kota pinggir hutan.KU
Tag
Berita Terkait
KERAJAAN ALLAH HADIR DALAM DIRI ORANG BERIMAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN DALAM DIRI SESAMANYA.
ALLAH DALAM YESUS JAMIN KESELAMATAN KITA. IKUT YESUS BERARTI MENCINTAI ALLAH SEBAGAI YANG PERTAMA
MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS KITA SEMUA BAIK YANG HIDUP PUN MENINGGAL BERHARGA DI MATA ALLAH
PERBUATAN BAIK SELALU BERKENAN DAN TUHAN AKAN MEMBERIKAN GANJARAN-NYA. BERJUANGLAH BERBUAT BAIK
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online