• Hari ini: June 08, 2026

ROTI YANG MENJADI HIDUP

08 June, 2026
12

ROTI YANG MENJADI HIDUP

Ul. 8:2–3,14b–16a; 1Kor. 10:16–17; Yoh. 6:51–58

 

Ada banyak hal yang dapat membuat manusia tetap hidup, tetapi tidak semuanya mampu memberi makna bagi hidup itu sendiri. Manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi ia juga membutuhkan kasih, harapan, dan tujuan untuk sungguh hidup. Kita renungkan poin-poin penting ini.

1. Allah yang Memberi Makan Umat-Nya.

Bacaan pertama membawa kita ke perjalanan panjang bangsa Israel di padang gurun. Dalam Kitab Ulangan, Musa mengajak umat mengingat kembali bagaimana Allah memimpin mereka selama empat puluh tahun. Menarik bahwa pengalaman padang gurun bukan hanya pengalaman kekurangan. Padang gurun Adalah sekolah iman.

Musa berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan" (Ul. 8:3). Ayat ini berbicara tentang manna, makanan misterius yang diberikan Allah setiap hari. Manna bukan sekadar bantuan pangan darurat. Manna adalah tanda bahwa hidup manusia bergantung pada Allah. Bangsa Israel belajar bahwa sumber kehidupan bukan pertama-tama apa yang mereka miliki, tetapi Dia yang memelihara mereka.

Di sinilah bahaya terbesar manusia modern. Kita sering merasa aman karena tabungan, pekerjaan, jabatan, teknologi atau kemampuan diri sendiri. Tanpa sadar kita mulai berpikir bahwa kita mampu menopang hidup kita sendiri.

Padahal Musa mengingatkan "Jangan sampai engkau melupakan Tuhan." Kelupaan rohani sering kali bukan terjadi saat hidup susah, melainkan saat hidup terasa cukup.

2. Yesus Bukan Sekadar Memberi Roti

Yesus berkata, "Akulah roti hidup yang telah turun dari surga" (Yoh. 6:51). Perhatikan baik-baik. Yesus tidak berkata,  "Aku akan memberikan roti." Ia berkata, "Akulah roti itu." Di sinilah keunikan iman Kristiani. Allah tidak hanya memberi sesuatu kepada manusia. Allah memberikan diri-Nya sendiri.

Seluruh sejarah keselamatan bergerak menuju pemberian diri Allah yang paling sempurna dalam Kristus. Dalam Ekaristi, yang diberikan bukan sekadar simbol kasih Allah, melainkan Kristus sendiri.

Karena itu orang-orang Yahudi terkejut ketika Yesus berkata, "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal." Banyak murid bahkan meninggalkan Yesus karena perkataan ini terdengar terlalu keras.

Dalam tradisi Katolik, Gereja menegaskan bahwa Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi, Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian-Nya. Maka ketika menerima Komuni Kudus, kita tidak hanya mengenang Yesus. Kita menerima Yesus sendiri.

3. Dari Banyak Butir Menjadi Satu Roti

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus memberikan dimensi lain yang sering terlupakan. Ia berkata, "Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak merupakan satu tubuh" (1Kor. 10:17). Paulus menulis kepada jemaat Korintus yang sedang mengalami perpecahan. Karena itu ia mengingatkan bahwa Ekaristi bukan hanya menyatukan kita dengan Kristus, tetapi juga menyatukan kita satu sama lain.

Bagi Gereja perdana, menerima Ekaristi sambil memelihara perpecahan adalah sebuah kontradiksi.

Bagaimana mungkin seseorang menerima Tubuh Kristus tetapi menolak saudaranya yang juga anggota Tubuh Kristus?

Di sinilah tantangan terbesar perayaan Ekaristi. Kadang-kadang kita hadir dalam Misa dengan sangat khusyuk, tetapi pulang tanpa berubah dalam cara kita memperlakukan sesama. Padahal Ekaristi yang sejati selalu menghasilkan komunio. Makin dekat kepada Kristus, makin dekat pula kepada sesama.

4. Ekaristi: Gaya Hidup yang Memberi Diri

Kata "Ekaristi" berarti syukur. Namun syukur dalam tradisi Kristiani bukan sekadar ucapan terima kasih. Syukur adalah cara hidup. Yesus yang kita sambut dalam Ekaristi adalah Yesus yang memecah-mecahkan diri-Nya bagi dunia.

Roti yang dipecahkan menjadi simbol kehidupan yang diberikan. Karena itu, setiap kali kita menerima Komuni Kudus, sesungguhnya kita sedang belajar menjadi seperti Kristus yakni menjadi roti bagi keluarga, menjadi penghiburan bagi yang terluka, menjadi kekuatan bagi yang lemah, menjadi harapan bagi yang putus asa.

Maka Ekaristi bukan hadiah bagi orang sempurna, melainkan makanan bagi peziarah yang sedang bertumbuh. Namun makanan ini harus menghasilkan perubahan hidup. Jika setelah menerima Kristus kita tetap egois, tetap membenci, tetap menutup diri terhadap sesama, maka makna Ekaristi belum sungguh meresap ke dalam hidup kita.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah tidak memilih tinggal jauh dari manusia. Ia menjadi manna di padang gurun. Ia menjadi roti yang turun dari surga. Ia menjadi makanan bagi perjalanan hidup kita.

Di tengah dunia yang sering membuat manusia lapar akan makna, lapar akan kasih, lapar akan harapan, Kristus tetap berkata, "Akulah roti hidup." Bukan sekadar roti untuk mengisi perut, melainkan roti yang menguatkan jiwa. Bukan sekadar makanan untuk hari ini, melainkan santapan yang mengantar manusia kepada kehidupan kekal.

Karena itu, setiap kali kita mendekati altar dan menerima Komuni Kudus, marilah kita datang bukan hanya dengan tangan yang terbuka, tetapi juga dengan hati yang siap diubah. Sebab Ekaristi bukan hanya tentang menerima Kristus ke dalam hidup kita, tetapi juga tentang membiarkan hidup kita perlahan menjadi roti yang dibagikan bagi sesama.

Mungkin kita tidak mampu melakukan hal-hal besar. Namun kita selalu dapat melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar, mendengarkan anggota keluarga yang sedang bergumul, mengunjungi orang sakit, membantu tetangga yang berkekurangan, memberi perhatian kepada mereka yang sering dilupakan, atau sekadar menghadirkan kata-kata yang menguatkan. Dengan cara itulah Ekaristi yang kita rayakan di altar berlanjut dalam altar kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, hidup yang paling utuh bukanlah hidup yang habis untuk diri sendiri, melainkan hidup yang, seperti roti di atas altar, rela dipecah agar kasih dapat bertumbuh dalam banyak hati.

****Renungan HR Tubuh dan Darah Kristus 2026, batas kota pinggir hutan.KU

Tag