KETIKA ANGKA MENJELMA MAKNA
Di balik dinding-dinding asrama STP St.
Petrus Keuskupan Atambua, hidup mahasiswa berdenyut seperti ritme yang tak
pernah berhenti, pagi yang dibuka dengan doa, siang yang padat dengan
perkuliahan, sore yang dipenuhi pelayanan dan aktivitas asrama dan malam yang
ditutup dengan hening permenungan. Namun, ada aliran lain yang tak kasat mata, arus
ekonomi yang perlahan membentuk karakter, mempengaruhi keputusan dan mewarnai
interaksi sosial di antara mereka.
Tulisan ini bertolah dari Buku Kas mahasiswa
yang dibuat untuk menghargai uang pemberian orang tua dan keluarga lainnya. Selama
tiga bulan pengamatan (Agustus–November 2025), satu fakta muncul dengan terang
benderang bahwa kita berada di tengah sebuah paradoks. Mahasiswa yang secara
administratif digolongkan “kurang mampu” justru tampil sebagai kelompok dengan
kestabilan finansial paling kuat. Dari total 168 mahasiswa Semester I (data
sementara karena beberapa mahasiswa belum direkap data Buku Kasnya), 142
penerima KIPK hidup dengan rata-rata pemasukan sekitar Rp 8,5 juta per tiga
bulan, sedangkan 26 mahasiswa nonpenerima bertahan dengan sekitar Rp 1,7 juta.
Kesenjangan hampir lima kali lipat ini tidak berhenti sebagai deretan angka
tetapi membentuk suasana batin, memengaruhi dinamika relasi, dan menyingkap
ujian moral tersendiri.
Tulisan ini mengundang kita menatap
kampus dan asrama dari kedalaman yang berbeda bahwa kesejahteraan sejati tidak
sesederhana angka, tetapi merupakan lanskap makna yang kompleks.
Ketika Data Menyibak Wajah Sosial
Dengan arus dana yang menembus Rp 1,25
miliar hanya dalam tiga bulan, STP sesungguhnya adalah sebuah ekosistem ekonomi,
bukan sekadar lembaga akademik. Kiriman keluarga, beasiswa negara, pengeluaran
mingguan dan bulanan, dan dinamika pergaulan semuanya bersilangan di titik yang
sama yakni kondisi finansial setiap mahasiswa.
Namun di dalam arus besar itu, ironi
yang tegas mencuat. Para penerima KIPK berada dalam stabilitas yang memberi
rasa aman bahkan kelonggaran tertentu. Sementara non-KIPK dilatih oleh situasi
untuk lebih cermat, hemat, dan kreatif. Dari laporan yang direkap (baik dari mahasiswa
Semester I dan semester lainnya), pola yang berulang terlihat yakni euforia
finansial di bulan awal, perlambatan pada bulan berikutnya, lalu kesadaran yang
datang terlambat bahwa dana itu memiliki batas.
Di sanalah pendidikan karakter sejati
diuji, bukan saat uang datang, melainkan ketika uang mulai berkurang.
Lanskap Psikologis
Data menampilkan dua model perkembangan
karakter yang muncul dari kondisi finansial yang berbeda:
1. Penerima KIPK: tenang, tetapi dapat
terjebak stagnasi. Ketiadaan tekanan ekonomi memberi ruang untuk belajar lebih
fokus. Namun tekanan akademik bisa menurun, inisiatif mengecil, dan
ketergantungan pada bantuan meningkat. Kestabilan yang tidak diimbangi
pembinaan dapat berubah menjadi zona nyaman yang meninabobokan.
2. Non-KIPK: terdesak, tetapi ditempa
menjadi tangguh. Keterbatasan seringkali menjadi guru yang keras. Mereka lebih
disiplin mengatur anggaran, berani mencari daya paruh waktu, dan memiliki
motivasi intrinsik yang lebih menyala. Keterjepitan memaksa mereka tumbuh.
Pada akhirnya, daya juang bukan
ditentukan jumlah rupiah yang dimiliki, tetapi oleh makna yang kita berikan
kepada perjuangan itu.
Asrama: Antara Kesetaraan dan Kenyataan
Asrama dimaksudkan sebagai ruang yang
menyetarakan, makan bersama antar kawan masak, aturan harian yang menyeragamkan
ritme, doa bersama yang mempersatukan arah hati. Namun keseimbangan sosial
tidak sepenuhnya steril.
Si kaya secara tak sengaja menjadi
pusat gravitasi sosial. Yang kekurangan sering menepi. Yang menerima banyak
kadang lupa bahwa keberadaannya selalu diperhatikan. Meskipun sistem asrama
meredam ketimpangan, kenyataan sosial tetap berbisik di balik rutinitas.
Dimensi Moral dan Spiritualitas
Dalam keheningan doa malam, pendamping sering mengajukan pertanyaan yang menembus relung hati, “Untuk
apa dana beasiswa ini engkau gunakan? Apa amanat Tuhan yang menyertai
bantuan ini?”
Di sinilah moralitas mengambil
tempatnya. Gereja melalui Ajaran Sosialnya mengingatkan bahwa kesejahteraan
tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan, tetapi menuntut tanggung jawab sosial.
Kitab Suci menegaskan, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia
dalam perkara besar” (Luk 16:10).
KIPK bukan identitas, melainkan
titipan. Kiriman orang tua bukan angka, melainkan pengorbanan.Penggunaan dana
bukan administrasi, tetapi spiritualitas.
Ketika Kesenjangan Menjadi Sumber
Kesadaran
Tujuan tulisan ini bukan memperlebar
perbedaan, tetapi menuntun pada pemurnian sikap. Kesenjangan finansial dapat
menjadi ruang pertumbuhan, bukan arena saling curiga. Penerima KIPK perlu
menjaga kesadaran agar tidak larut dalam kemudahan. Nonpenerima perlu menolak
perasaan tidak berharga. Tanggung jawab bersama dimulai dari hal sederhana,
menulis refleksi keuangan, memberi kontribusi nyata bagi kehidupan asrama, dan
menumbuhkan solidaritas yang praktis.
Dengan itu, bantuan berubah menjadi kesempatan pembentukan karakter, dan asrama menjadi laboratorium nilai-nilai kehidupan.
Pertanyaan fundamental ini pantas
diajukan: Apakah KIPK benar-benar membentuk kemandirian? Ataukah tanpa
pembinaan, ia justru menciptakan ketergantungan baru?
Sistem yang baik sekalipun dapat berubah menjadi paradoks etis, mereka yang dibantu malah menjadi semakin lunak, sedangkan yang tidak dibantu ditempa menjadi kuat.
Karena itu, kebijakan seperti KIPK Produktif, literasi finansial wajib, koperasi asrama (bila mungkin), dan penghargaan bagi mahasiswa mandiri bukan sekadar prosedur administratif, melainkan intervensi moral untuk mengarahkan karakter. STP sedang bergerak dari sekadar “menyalurkan bantuan” menuju “mendidik manusia”.
Ketika Data Menjadi Cermin Jiwa
Data ini tidak dimaksudkan untuk
menghakimi, melainkan untuk menjadi cermin, membantu kita melihat wajah kita
sendiri dalam dinamika asrama: ketimpangan, perjuangan, harapan, dan proses
bertumbuh.
Penerima KIPK tidak layak merasa paling
aman. Nonpenerima tidak pantas merasa paling tertekan. Gereja dan Tuhan
menghendaki satu hal, hati yang tulus dan daya juang yang teguh.
Kesejahteraan bukan diukur dari banyaknya yang kita pegang, tetapi dari kedalaman kita memaknai setiap rupiah sebagai titipan yang harus memberi arti. KIPK hanyalah alat, nilainya lahir dari syukur dan manfaat yang diberikannya. Jika kesenjangan itu ada, biarlah ia menjadi ruang empati, bukan kecemburuan. Kita belajar angka melalui data, tetapi belajar hikmah melalui kehidupan.
Di kampus dan asrama STP St. Petrus, kita sedang menapaki salah satu pelajaran pastoral yang paling penting bahwa kesejahteraan sejati adalah harmoni antara ekonomi, karakter, dan spiritualitas. Dan harmoni itu tidak berasal dari jumlah dana, tetapi dari kebijaksanaan dalam mengelolanya. (KU)
Tag
Berita Terkait
LEBENSWELT TABUA: KOSMOLOGI KEBERSAMAAN ATONI PAH METO DALAM CERMIN FENOMENOLOGI ALFRED SCHUTZ
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online