Sore itu tenang. Di samping rumah
sederhana, di bawah pohon asam yang menghijau di awal musim hujan dan hembusan
angin sepoi-sepoi, beberapa orang datang bukan untuk membicarakan iman tapi
untuk menghidupinya. Tidak ada mimbar, tidak ada tata ibadah resmi. Hanya ada sebuah
meja kecil yang menjadi pusat pertemuan, makanan sederhana dan tangan-tangan
yang saling berbagi. Dalam keheningan yang hangat itu, kasih perlahan mengambil
bentuknya sendiri.
Di meja itu, orang-orang belajar bahwa
hidup tidak dijalani sendirian. Ada kekuatan yang lahir dari kehadiran bersama,
dari tatapan yang saling mengerti, dari tangan yang mengulurkan makanan, dari
kebersamaan tanpa banyak kata.
Seorang ibu berkata dengan lembut bahwa
kebersamaan seperti ini membuat luka-luka hidup terasa lebih ringan. Tidak
semua kesedihan bisa diucapkan, tetapi duduk bersama sudah cukup untuk berkata:
“Kau tidak sendiri.” Di sana, ia tidak dihakimi atau diukur, ia diterima
apa adanya. Dan di situlah kasih menjadi nyata, bukan sebagai ajaran tapi
sebagai rasa aman.
Di sisi lain, seorang imam memandang
peristiwa itu seperti seorang gembala yang tahu dombanya. Ia sadar, iman tidak
hanya tumbuh di altar gereja tetapi juga di meja makan umat. Saat orang duduk
sejajar, berbagi yang sedikit dan saling mendengarkan, Injil menjadi hidup
tanpa perlu banyak khotbah. Di situ Allah hadir, diam-diam tapi nyata, karena
manusia membuka ruang bagi sesamanya.
Dalam ruang bebas dan sederhana itu,
batas-batas mencair. Latar belakang, status, bahkan keyakinan yang berbeda
tidak menjadi tembok tetapi warna yang memperkaya. Mereka datang bukan untuk
membandingkan siapa yang paling benar tapi untuk berjalan bersama sebagai
sesama peziarah hidup. Dan di situlah kasih menjadi murni, bukan kasih yang
menggurui tapi kasih yang berjalan berdampingan.
Tidak ada yang diminta untuk sempurna.
Yang diminta hanyalah hadir, menjadi bagian dari “kita”.
Di meja itu, iman tidak diajarkan lewat kata melainkan diwariskan lewat kebiasaan: makan bersama, mendengarkan, berbagi cerita, menanggung beban. Anak-anak belajar dari melihat, orang muda belajar dari teladan dan orang tua meneguhkan lewat tindakan. Kasih berpindah dari satu generasi ke generasi lain, bukan lewat doktrin tapi lewat kehidupan yang saling menopang.
Ketika malam tiba dan semua orang pulang, tidak ada tepuk tangan, tidak ada penutup resmi. Namun ada sesuatu yang tertinggal, kehangatan yang diam-diam tumbuh dalam hati dan keyakinan bahwa Allah sungguh hadir di tengah umat-Nya, bukan dalam keagungan melainkan dalam kesederhanaan yang penuh kasih.
Dan meja itu, yang sederhana dan bersahaja menjadi saksi bahwa kasih tidak butuh kata-kata besar. Di meja yang sama itu, kasih telah dijalani. Dan di tempat seperti itu, kasih tidak perlu dijelaskan karena kasih sudah menjadi hidup itu sendiri. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).
**Sebuah catatan kecil, pada suatu waktu di tempat rata, ujung aspal, awal Desember 2025. KU
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online