• Hari ini: February 23, 2026

KEJUJURAN MENGANTAR PERTUMBUHAN

23 February, 2026
105

Setiap tahun akademik menawarkan sebuah cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka, melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil. Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.

Jika kita membaca data-data evaluasi diri secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.

Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu, ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.

1. Pelajaran Besar dari Data

Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa, tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil, konsisten dan berulang.

Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa “tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.

Ketiga, distraksi digital adalah musuh terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri waktu belajar.

2. Apa Maknanya?

Melihat kejujuran mahasiswa, kita diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik, ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).

Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka pintu perubahan.

Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…, Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.

3. Titik Balik

Melalui data ini kita belajar satu hal penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan diam di tengah hiruk-pikuk.

Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi menumbuhkan manusia.

4. Puncak Refleksi

Di tengah kelemahan dan pergulatan yang tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah perjalanan spiritual.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu ditolong”.

Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah” (Roma 12:2).

Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.

Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan pemulihan yang tak pernah dibayangkan.

Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.


**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.


Tag