Setiap tahun akademik menawarkan sebuah
cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka,
melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil.
Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut
tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan
keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah
daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka
sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.
Jika kita membaca data-data evaluasi diri
secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik
semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan
menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik
emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang
besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.
Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu,
ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang
perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.
1.
Pelajaran Besar dari Data
Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga
pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan
diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa,
tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi
kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil,
konsisten dan berulang.
Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar
yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa
“tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka
membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.
Ketiga, distraksi digital adalah musuh
terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi
pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri
waktu belajar.
2.
Apa Maknanya?
Melihat kejujuran mahasiswa, kita
diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog
humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I
accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik,
ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).
Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan
sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka
pintu perubahan.
Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti
ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…,
Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah
ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka
jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.
3.
Titik Balik
Melalui data ini kita belajar satu hal
penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah
kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit
menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju
sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan
diam di tengah hiruk-pikuk.
Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik
hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi
menumbuhkan manusia.
4.
Puncak Refleksi
Di tengah kelemahan dan pergulatan yang
tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah
perjalanan spiritual.
Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam,
dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui
kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu
ditolong”.
Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi
undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk
diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah” (Roma 12:2).
Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi
peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen
untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.
Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah
tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat
keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia
matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi
kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan
pemulihan yang tak pernah dibayangkan.
Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.
**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online