PUNGGUNG
PENJAGA HARAPAN
Bukan
toga
bukan pula selembar ijazah
Hari
itu,
yang paling layak dirayakan
sepasang punggung
retak oleh waktu
Punggung
yang akrab dengan matahari
Bersahabat dengan hujan
Berdamai dengan lelah
Memikul hari-hari
tanpa pernah menghitung beratnya
Tak
banyak kata
Hanya
telapak tangan
mengeras oleh kerja
Hanya lutut
setia mencium langit
dalam doa-doa yang tak pernah meminta nama
Lalu
seorang anak
berdiri di atas panggung
Semua
mata memandang ke depan
Tak
banyak yang menoleh
ke arah punggung
yang diam-diam mengangkat masa depan
Padahal
setiap langkah menuju mimbar wisuda
sesungguhnya bertumpu
pada langkah-langkah kecil
yang bertahun-tahun rela mengalah
Gelar
hanya memuat satu nama
Namun
setiap hurufnya
ditulis oleh peluh
Disempurnakan air mata
Dimeteraikan kasih
Wisuda
Tepuk
tangan berhenti
Foto-foto
tersimpan
Namun
cinta yang mengantar sampai di sana
tetap melanjutkan perjalanan
Sebab
pengorbanan orang tua
tidak pernah lulus
Pengorbanan hanya
berganti bentuk
menjadi doa
bagi kehidupan berikutnya
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online