AKAR
DALAM DIAM
Setiap
zaman memiliki sesuatu yang dipuja. Zaman kita memuja hasil. Yang tampak adalah
pencapaian. Yang memenuhi ruang publik adalah keberhasilan. Yang mendapatkan
perhatian adalah mereka yang berdiri di panggung, menerima penghargaan,
mengenakan gelar atau menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Namun, ada
sesuatu yang perlahan kehilangan tempat yakni proses panjang yang membentuk
manusia sebelum mencapai keberhasilan.
Kita
hidup dalam budaya yang sangat tertarik pada puncak tetapi sering lupa
memperhatikan akar. Padahal tidak ada pohon yang menjadi kuat hanya karena
buahnya terlihat indah. Kekuatan sebuah pohon selalu dimulai dari bagian yang
tersembunyi yaitu akar yang bekerja dalam diam, menembus tanah, mencari air,
bertahan menghadapi musim dan menopang seluruh kehidupan yang tampak di
permukaan.
Demikian
pula manusia. Apa yang terlihat dari seseorang hanyalah bagian kecil dari
keseluruhan perjalanan hidupnya. Gelar, jabatan, penghargaan, kekayaan,
popularitas dan berbagai bentuk pengakuan hanyalah buah yang tampak. Semua itu
dapat dirayakan tetapi tidak pernah menjadi satu-satunya ukuran kedalaman
pribadi seseorang. Sebab manusia tidak terutama dibentuk oleh apa yang dilihat
dunia, melainkan oleh apa yang dibangun ketika tidak ada seorang pun yang
melihat. Di sanalah karakter bertumbuh. Di sanalah integritas diuji. Di sanalah
kesetiaan ditempa.
Fenomena gunung es memberikan gambaran yang kuat tentang kenyataan hidup manusia. Bagian yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan massa yang menopangnya. Bagian terbesar justru tersembunyi di bawah laut. Justru bagian yang tidak terlihat menentukan kekuatan dan kestabilannya. Kehidupan manusia pun demikian. Prestasi yang tampak seringkali hanyalah hasil akhir dari proses panjang yang tersembunyi seperti disiplin yang dijaga berulang kali, kegagalan yang diterima dengan rendah hati, perjuangan yang dijalani tanpa sorotan, doa yang dipanjatkan dalam kesunyian serta keberanian untuk tetap berjalan ketika tidak ada tepuk tangan.
Aristoteles dalam Nicomachean Ethics telah mengajarkan bahwa keutamaan manusia tidak lahir dari satu tindakan besar yang dilakukan sesekali melainkan dari kebiasaan baik yang terus-menerus dihidupi. Karakter bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Karakter dibentuk melalui pilihan-pilihan kecil yang dilakukan dengan setia setiap hari. Gagasan tersebut semakin diperdalam oleh penelitian modern. James Clear melalui Atomic Habits menunjukkan bahwa perubahan besar sering lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kemajuan kecil yang tampak sederhana pada awalnya dapat menghasilkan perubahan besar ketika terus dikumpulkan dalam perjalanan waktu.
Angela Duckworth melalui penelitian tentang grit menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh bakat tetapi juga oleh ketekunan dan kemampuan bertahan dalam proses yang panjang. Carol Dweck melalui konsep growth mindset menunjukkan bahwa manusia bertumbuh ketika melihat kemampuan bukan sebagai sesuatu yang tetap melainkan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui usaha, pembelajaran dan keberanian menghadapi kegagalan. Roy Baumeister juga menunjukkan bahwa pengendalian diri memiliki peranan penting dalam menentukan arah kehidupan. Kemampuan mengendalikan keinginan sesaat demi nilai yang lebih besar menjadi jalan perlahan untuk membangun masa depan yang lebih matang.
Seluruh
pandangan tersebut bertemu pada satu kesimpulan. Yang paling menentukan dalam
hidup seringkali justru adalah sesuatu yang tidak segera terlihat. Kebijaksanaan
ini sesungguhnya telah lama hadir dalam Kitab Suci. Yesus berkata, "Setiap
pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik
menghasilkan buah yang tidak baik" (Mat. 7:17). Yesus tidak pertama-tama
berbicara tentang buah. Yesus berbicara tentang pohon. Sebab buah hanyalah
akibat. Kualitas buah ditentukan oleh kehidupan yang tersembunyi di dalam
pohon.
Pemazmur memberikan gambaran yang sama. "Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya" (Mzm. 1:3). Perhatikan urutannya. Akar terlebih dahulu. Buah kemudian. Tidak pernah sebaliknya. Dalam perspektif iman Kristiani, manusia tidak dipanggil hanya untuk mencapai sesuatu tetapi pertama-tama untuk menjadi seseorang. Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes menegaskan bahwa manusia menemukan kepenuhan dirinya melalui pemberian diri yang tulus dan pembentukan diri secara utuh (GS 24). Martabat manusia tidak ditentukan hanya oleh apa yang dimiliki atau dicapai tetapi oleh kedalaman hidup yang dibangun dalam relasi dengan Allah dan sesama. Paus Fransiskus dalam Lumen Fidei mengingatkan bahwa iman memberikan dasar yang kokoh bagi manusia untuk melihat masa depan dengan harapan. Kehidupan yang memiliki akar yang dalam tidak mudah runtuh oleh perubahan zaman karena berdiri bukan hanya di atas kemampuan manusiawi, melainkan pada relasi dengan Allah.
Namun
tantangan terbesar zaman ini adalah godaan untuk mengejar permukaan. Budaya
digital sering membuat manusia tergoda membangun citra sebelum membangun
karakter. Banyak orang ingin segera dikenal tetapi sedikit yang bersedia
dibentuk. Banyak orang mengejar pengakuan tetapi tidak semuanya mau menjalani
proses panjang yang melahirkan kedewasaan.
Akibatnya
tidak sedikit kehidupan tampak berhasil dari luar tetapi rapuh dari dalam. Seseorang
dapat memiliki pencapaian besar tetapi kehilangan kedalaman. Dapat memiliki
banyak pengikut tetapi kehilangan arah. Dapat dikenal banyak orang tetapi belum
sungguh mengenal kedalaman dirinya sendiri.
Karena
itu, pelajaran terbesar dari gunung es bukanlah tentang bagaimana mencapai
puncak melainkan bagaimana membangun dasar. Jangan terlalu cepat mengagumi apa
yang terlihat. Selamilah apa yang tersembunyi. Di sanalah terdapat disiplin
yang tidak pernah dipublikasikan. Air mata yang tidak pernah masuk kamera.
Penolakan yang tidak pernah diceritakan. Doa yang hanya diketahui Tuhan.
Kesetiaan yang tetap dijaga ketika tidak seorang pun memberikan penghargaan.
Semua
itu mungkin tidak pernah muncul dalam bingkai foto. Namun, justru semua itulah
yang membuat sebuah foto memiliki makna. Sebab keberhasilan yang tidak memiliki
akar akan mudah tumbang. Sebaliknya kehidupan yang berakar dalam akan tetap
berdiri bahkan ketika menghadapi badai.
Mungkin
hari ini perjuangan belum terlihat hasilnya. Mungkin kerja keras belum
memperoleh pengakuan. Mungkin jalan yang ditempuh terasa panjang dan sunyi. Jangan
tergesa-gesa menilai kehidupan hanya dari permukaannya. Laut selalu
menyembunyikan bagian terbesar dari gunung es.
Demikian pula manusia. Bagian terdalam sering kali menjadi bagian terkuat. Sebab sesuatu yang kokoh tidak lahir dari apa yang segera terlihat melainkan dari sesuatu yang setia dibangun dalam kesunyian. Kehidupan tidak pernah terutama diukur dari seberapa tinggi seseorang menjulang melainkan dari seberapa dalam akar kehidupan tertanam. Sebab sejarah tidak selalu mengingat mereka yang paling cepat terlihat melainkan mereka yang dengan sabar bertumbuh dalam diam, jauh sebelum dunia mengenal namanya.
***Sebuah catatan kecil dariKU Hutan Keramat untuk mereka yang siap menyongsong momen 19/09/2026
Tag
Berita Terkait
LEBENSWELT TABUA: KOSMOLOGI KEBERSAMAAN ATONI PAH METO DALAM CERMIN FENOMENOLOGI ALFRED SCHUTZ
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online