• Hari ini: September 21, 2026

MATA YANG KELIRU

21 September, 2026
11

MATA YANG KELIRU

Minggu Biasa XXV
Yes 55:6–9; Flp 1:20c–24.27a; Mat 20:1–16


    Di sebuah taman, bunga tidak pernah iri kepada bunga lain. Ada yang mekar saat fajar, ada yang menunggu hingga sore. Tidak ada yang merasa terlambat. Masing-masing bertumbuh dalam waktunya, menerima cahaya yang sama dan menghadirkan keindahan dengan caranya sendiri.

    Manusia sering kehilangan damai karena melihat hidup sebagai perlombaan. Kita mulai menghitung, siapa lebih berhasil, siapa lebih cepat, siapa lebih dikenal, siapa lebih dihargai. Zaman media sosial semakin memperkuat kebiasaan itu. Kita melihat keberhasilan orang lain yang tampak sempurna, lalu membandingkannya dengan pergumulan hidup kita yang tersembunyi.

    Melalui Nabi Yesaya, Allah berkata, “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes 55:8). Allah tidak melihat manusia dengan ukuran yang sering kita gunakan. Manusia menghitung pencapaian tetapi Allah melihat kesetiaan. Manusia melihat hasil yang tampak tetapi Allah melihat hati yang terus dibentuk oleh kasih.

    Yesus memperlihatkan wajah Allah itu melalui kisah para pekerja di kebun anggur. Mereka yang datang sejak pagi menerima upah yang sama dengan mereka yang datang kemudian (Mat 20:9). Yang membuat para pekerja pertama kecewa bukan karena mereka dirugikan. Perjanjian mereka tetap dipenuhi. Mereka terluka karena melihat kebaikan yang diberikan kepada orang lain. Masalah para pekerja bukanlah upah tetapi cara mereka melihat. Mereka melihat dan memandang kemurahan Allah dengan mata perbandingan. Mata mereka melihat orang lain bukan kebaikan tuannya.

    Di sinilah Yesus menyentuh kelemahan hati manusia. Seringkali yang merampas sukacita kita bukan kurangnya berkat melainkan kebiasaan membandingkan. Kita sulit bersyukur ketika orang lain berhasil. Kita merasa kurang ketika orang lain menerima lebih banyak perhatian. Kita lupa bahwa rahmat Allah tidak pernah berkurang hanya karena dibagikan kepada sesama.

    Semangat Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV, mengingatkan bahwa manusia tidak pernah dapat diukur hanya dengan angka, prestasi, jabatan atau pengakuan. Setiap pribadi memiliki martabat yang unik karena dikasihi Allah. Nilai hidup seseorang tidak lahir dari perbandingan tetapi dari relasinya dengan Sang Pemberi kehidupan.

    Santo Paulus menemukan kebebasan itu ketika berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp 1:21). Ia tidak lagi hidup dari penilaian manusia. Kristus menjadi pusat yang membuatnya mampu menerima hidup dengan syukur dan melihat sesama tanpa iri.

    Hari ini, mungkin yang perlu dilepaskan bukan sesuatu yang ada di tangan, tetapi sesuatu yang tersembunyi di hati yakni kebiasaan membandingkan. Berhentilah mengukur diri dengan perjalanan orang lain. Syukurilah rahmat yang dipercayakan kepadamu, sebab setiap hidup memiliki waktu, jalan dan keindahan yang berbeda. Matahari dan bulan itu dua benda bercahaya, hanya beda waktu, satunya siang, satunya malam.

    Hati yang sibuk menghitung milik orang lain akan kehilangan sukacita atas rahmatnya sendiri. Hati yang mengenal kasih Allah selalu menemukan alasan untuk bersyukur.


***Renungan HMB XXV, dari hutan keramat, 20 Sept. 2026

Tag