• Hari ini: August 30, 2026

HARGA SEBUAH KASIH

30 August, 2026
13

HARGA SEBUAH KASIH

Yer 20:7-9; Mat 16:21-27


    Seorang petani tidak pernah marah kepada benih yang harus dikuburkan. Ia tahu bahwa benih yang tetap berada di permukaan tanah memang terlihat aman, tetapi tidak pernah akan menghasilkan kehidupan baru. Benih harus kehilangan bentuk lamanya, masuk dalam gelapnya tanah, dan mengalami proses yang tidak mudah. Namun dari sana lahir sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.


    Begitulah pengalaman Yeremia ketika menjalani panggilannya. Ia merasa seperti benih yang tertanam dalam tanah penderitaan. Ia ditolak, dihina, dan ingin berhenti berbicara atas nama Tuhan. Tetapi firman Allah telah menjadi api dalam hatinya. Ia tidak mampu memadamkannya, sebab panggilan Tuhan telah menyentuh bagian terdalam dari hidupnya. Ada kasih yang lebih kuat daripada ketakutan.

    Pengalaman Yeremia menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus. Ketika Yesus berbicara tentang penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya, Petrus tidak mampu memahami jalan itu. Ia ingin Mesias yang menang tanpa salib. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati tidak mencari jalan termudah. Kasih sejati memberikan diri sepenuhnya. Salib bukan tanda kegagalan Kristus; salib adalah tempat kasih Allah dinyatakan tanpa batas.

    Sering kali manusia ingin mengikuti Tuhan selama jalan itu nyaman. Kita menerima berkat, tetapi menghindari pengorbanan. Kita ingin dicintai, tetapi sulit mencintai ketika terluka. Kita ingin dihargai, tetapi enggan melayani ketika tidak diperhatikan. Padahal kehidupan yang besar selalu dibentuk oleh kesetiaan dalam perkara-perkara kecil: seorang ibu yang tetap mengasihi keluarganya dalam kelelahan, seorang pekerja yang tetap jujur ketika tidak ada yang melihat, seseorang yang memilih mengampuni meski hatinya masih terluka.

    Yesus tidak menjanjikan jalan tanpa salib. Ia menjanjikan kehadiran-Nya di sepanjang jalan itu. Ia tidak berdiri jauh melihat manusia berjuang, tetapi berjalan di depan dan memikul salib terlebih dahulu. Karena itu, setiap pengorbanan yang dipersembahkan dalam kasih tidak pernah hilang di hadapan Allah. Apa yang tampak sebagai kehilangan dapat menjadi tempat lahirnya kehidupan baru.

    Salib yang dipeluk bersama Kristus bukan akhir dari kasih, melainkan tempat di mana kasih menemukan kepenuhannya. Takutlah jika hati kehilangan kasih. Sebab salib tanpa kasih hanyalah beban, tetapi salib yang dipikul karena kasih akan selalu menjadi jalan menuju kehidupan. Ketika kasih menjadi alasan kita melangkah, setiap pengorbanan berubah menjadi benih kehidupan.

Renungan HM Biasa XXII, padang pinggir kota, KU, 30 Agustus 2026 

Tag