J E J A K K A S I H
Catatan akhir hari ini-KU
Dua
puluh tahun silam
di keheningan altar
saya menitipkan hati yang rapuh
kepada Cinta yang tak pernah rapuh
Sejak
itu,
waktu mengajari saya membaca Injil
pada wajah-wajah sederhana
pada luka yang merindukan pelukan
pada kesetiaan yang tumbuh tanpa tepuk tangan
Di
antara buku dan wajah-wajah muda
saya belajar menabur cahaya
Di ruang konsep, pikiran membuka cakrawala
di ruang kehidupan, tangan menyentuh kenyataan
Sebab ilmu membutuhkan kaki untuk melangkah
dan iman membutuhkan hati untuk mengasihi
Di
antara pena, linggis dan tofa
gitar bernyanyi di kehijauan sayuran
Keringat menyirami cita-cita
kesunyian merawat kedalaman
dan tanah mengajari mimpi
agar tumbuh tanpa kehilangan kerendahan hati
Dari
tanah kering
saya belajar mengeja rahasia kehidupan
batu tak selalu mematahkan akar
kemarau tak selalu menguburkan harapan
dan kasih masih mampu berbunga
di tanah yang kehilangan hujan
Kini,
dua puluh tahun berlalu
Saya bukan pohon yang selesai berbuah
hanya penanam kecil
yang masih belajar setia kepada musim
Ada
doa yang belum sempurna
ada harapan yang belum berbunga
ada tangan yang mulai lelah
tetapi belum ingin berhenti memberi
Kelak,
ketika pena kehilangan aksara
gitar menyimpan nada terakhir
dan tangan kembali menjadi tanah
semoga kasih tetap tinggal
sebagai jejak paling sunyi
dari seluruh perjalanan
Tuhan,
jika hari ini Engkau kembali bertanya
jawaban saya masih sama
meski kini lebih lirih
dan lebih dalam
“Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau”
Sebab,
dua puluh tahun akhirnya mengajari saya
Bukan tangan saya yang begitu kuat menggenggam-Mu
melainkan tangan-Mu
yang tak pernah melepaskan saya
***Di bawah pohon depan rumah ini, menuju
akhir hari ini, tabe ma nek seunbanit namfau USI
Tag
Berita Terkait
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online