• Hari ini: October 18, 2026

DARI PATUNG KECIL FATIMA, LAHIR RUMAH DOA DI KAMPUS

18 October, 2026
17

KOLKITA-Kefamenanu, Sebuah pengalaman iman yang bermula dari perjalanan seorang imam ke Fatima, Portugal, kini menemukan wujudnya di lingkungan Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo Petrus Keuskupan Atambua. Gua Santa Maria Fatima, yang lahir dari perjalanan spiritual tersebut, resmi diberkati pada Jumat (16/10/2026) sebagai ruang doa bagi seluruh sivitas akademika.

    Di balik berdirinya gua tersebut, tersimpan kisah Dr. Theodorus Ada Siri, S.Ag., tentang kedekatannya dengan Bunda Maria Fatima. Pengalaman itu bermula ketika dirinya membawa pulang sebuah patung kecil dari Fatima yang kemudian menyertai perjalanan hidup dan panggilannya sebagai imam.

    “Saat saya pulang dari Fatima, saya membawa patung kecil yang menemani perjalanan hidup saya sebagai seorang imam hingga sekarang,” kisahnya.


    Devosi tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Ia kemudian membentuk kelompok Maria Fatima sebagai wadah pengembangan lembaga dan pelayanan kepada masyarakat kecil. Penghayatan spiritual itu semakin mendalam ketika pada 2024 ia menerima tiga anak, dua perempuan dan seorang laki-laki, untuk diasuh dan dididik.

    Dari pengalaman iman dan pelayanan itulah tumbuh gagasan menghadirkan Gua Santa Maria Fatima di lingkungan kampus STP St. Petrus Keuskupan Atambua. Tempat ini diharapkan bukan sekadar menjadi bangunan religius, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk menemukan ketenangan, membangun kebersamaan dan meneguhkan kehidupan rohani.

    “Gua ini dihadirkan supaya mahasiswa juga selalu berdoa bersama, tidak mengalami kesendirian di dunia kampus ini,” jelasnya.

    Pembangunan gua tersebut dikerjakan Yohanes Priyanto, yang akrab disapa Opa Yohanes. Ia mengungkapkan kebahagiaan dan rasa syukurnya karena seluruh proses pembangunan dapat diselesaikan dengan baik berkat karunia Tuhan.

    Opa Yohanes berharap mahasiswa tidak hanya memanfaatkan gua sebagai tempat berdoa, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kelestariannya.

    Dr. Theodorus, mantan Ketua STP St. Petrus Keuskupan Atambua ini, turut menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang mendukung pembangunan gua dan menyumbangkan patung Santa Maria Fatima, serta kepada PLT Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik yang hadir dalam kegiatan tersebut.


    Peresmian Gua Santa Maria Fatima diawali dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti oleh Ketua PERPETAKI bersama para pimpinan STP se-Indonesia yang hadir. Kegiatan dilanjutkan dengan ibadat pemberkatan yang dipimpin Deken Kefamenanu, Rm. Kanisius Oki, Pr.

    Dalam homilinya, Rm. Kanisius mengangkat peristiwa kunjungan Maria kepada Elisabet sebagai gambaran karya keselamatan Allah yang hadir melalui perjumpaan manusia.

    Kegiatan ini dihadiri para pimpinan Sekolah Tinggi Pastoral se-Indonesia yang tergabung dalam PERPETAKI, pengurus Yayasan Snuna, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan.

    Usai ibadat, Ketua STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Rm. Benso Metom, menyampaikan ucapan terima kasih, dilanjutkan sambutan Ketua PERPETAKI, Florens Maxi Un Bria. Delom Mamoh, mahasiswa semester V, turut mengungkapkan sukacitanya atas kelancaran kegiatan pemberkatan tersebut.

    Kehadiran Gua Santa Maria Fatima kini menjadi bagian dari perjalanan pembinaan spiritual di STP Santo Petrus Keuskupan Atambua. Berawal dari sebuah patung kecil yang menyertai perjalanan iman seorang imam, devosi pribadi itu berkembang menjadi ruang doa bersama bagi generasi calon pelayan pastoral.(MAIK)

Tag