• Hari ini: October 10, 2026

BATU PENJURU

10 October, 2026
20

BATU PENJURU

Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

    Ada ironi yang halus dalam Injil ini. Para penggarap kebun anggur bukanlah orang asing. Mereka justru dipercaya mengelola milik tuannya. Namun kepercayaan itu perlahan berubah menjadi rasa memiliki. Mereka mulai bertindak seolah-olah kebun itu adalah hasil jerih payah mereka sendiri. Setiap utusan yang datang dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai pengingat. Bahkan anak pemilik kebun pun dibunuh demi mempertahankan apa yang sebenarnya bukan milik mereka (Mat. 21:33–39). Itulah sebabnya Yesus menutup perumpamaan ini dengan mengutip Mazmur, "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru" (Mat. 21:42).

    Banyak orang mengira batu penjuru adalah batu pertama yang diletakkan ketika membangun rumah. Bukan. Batu pertama hanya menandai dimulainya pembangunan. Batu penjuru menentukan arah seluruh bangunan. Di atas batu itulah garis, sudut dan keseimbangan bangunan diukur. Jika batu pertama bersifat simbolis, batu penjuru bersifat menentukan.

    Secara eksegetis, batu penjuru adalah batu yang menentukan arah dan kekokohan seluruh bangunan. Ketika batu itu ditolak, bangunan kehilangan pusatnya. Demikian pula hidup manusia, saat Kristus disingkirkan dari pusat kehidupan, segala sesuatu mungkin masih tampak berdiri tetapi perlahan kehilangan arah dan makna.

    Sering kali kita tidak menolak Kristus dengan kata-kata melainkan dengan cara hidup. Kita memberi ruang bagi-Nya pada hari Minggu tetapi keputusan-keputusan penting justru ditentukan oleh ambisi, gengsi, keuntungan atau penilaian orang lain. Kristus tidak lagi menjadi batu penjuru melainkan hanya batu hiasan yang diletakkan di sudut kehidupan. 

    Sabda hari ini mengundang kita untuk mengembalikan Yesus ke tempat yang semestinya, pusat hati, pusat keluarga, pusat pelayanan, dan pusat setiap pilihan hidup. Sebab hidup yang dibangun di atas Kristus mungkin tetap menghadapi badai tetapi tidak akan kehilangan fondasinya. Ketika Kristus menjadi batu penjuru, hidup bukan hanya kokoh tetapi juga menjadi tempat di mana orang lain dapat menemukan harapan dan mengalami kasih Allah.


Renungan HMB XXVIIA, hutan keramat, 04/10/2026

Tag