DUA PULUH TAHUN, SATU JAWABAN CINTA
Catatan Kaki Perjalanan: Dari Tanah Kering Kami Bernyanyi
18 Oktober 2006 – 18 Oktober 2026
Dua puluh tahun telah berlalu. Waktu mengubah banyak hal. Usia bertambah. Tempat pengabdian berganti. Pengalaman meninggalkan jejaknya. Namun ada satu pertanyaan yang tetap tinggal di kedalaman hati, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:17). Pertanyaan Yesus kepada Petrus itu menjadi pintu masuk perjalanan imamat saya. Bukan karena saya telah memiliki kasih yang sempurna melainkan karena saya percaya bahwa Tuhan mengenal hati manusia, bahkan ketika manusia belum sepenuhnya mengenal dirinya sendiri. Maka di hadapan altar, saya memilih sebuah jawaban sederhana sebagai motto tahbisan, “Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau.” Dua puluh tahun kemudian, kalimat itu tetap menjadi tempat saya pulang. Terutama ketika langkah mulai lelah, harapan diuji dan kesetiaan harus diperjuangkan dalam diam.
Pada 18 Oktober 2006, di Gereja Santa Theresia Kefamenanu, saya menerima tahbisan imamat melalui penumpangan tangan Mgr. Anton Pain Ratu, SVD. Bersama Rm. Apolinaris Bouk, Pr., Rm. Primus Seran, Pr., dan sejumlah saudara seangkatan, kami menjadi angkatan imam terakhir yang ditahbiskan pada masa kepemimpinan beliau sebagai Uskup Atambua, sebelum tongkat kegembalaan diteruskan kepada Mgr. Dominikus Saku, Pr. Hari itu menjadi salah satu simpul penting dalam sejarah hidup saya. Tangan seorang gembala ditumpangkan di atas kepala tetapi sesungguhnya seluruh kehidupan sedang diserahkan ke dalam tangan Tuhan. Saya belum mengetahui seluruh jalan yang akan dilalui. Namun satu hal mulai saya pahami yakni tahbisan berlangsung sehari, sedangkan kesetiaan harus ditulis sepanjang hidup.
Paroki Kiupukan menjadi tanah pertama tempat benih imamat itu ditanam. Selama dua tahun sebagai imam muda, saya belajar bahwa kehidupan umat sering kali lebih luas daripada halaman buku teologi. Di sana iman tidak selalu hadir dalam rumusan yang indah. Kadang iman berbicara melalui air mata, kerja keras, doa sederhana dan ketabahan menghadapi kesulitan. Ada penderitaan yang tidak membutuhkan banyak penjelasan tetapi kehadiran. Ada kegembiraan yang menjadi lebih bermakna ketika dibagikan. Ada pula kehidupan yang mengajarkan bahwa kasih tidak cukup diwartakan dari mimbar. Kasih harus memiliki kaki untuk berjalan, tangan untuk bekerja dan hati untuk mendengarkan. Saya datang sebagai imam yang hendak melayani umat. Namun melalui kehidupan umat, Tuhan justru terus mendidik saya.
Perjalanan kemudian membawa saya kembali ke Seminari Lalian pada 2009–2012. Kali ini, saya hadir sebagai pendidik bagi para siswa yang sedang menumbuhkan benih panggilan. Di sana saya menemukan bahwa mendidik bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala seorang guru ke kepala murid. Mendidik berarti menemani manusia mengenali dirinya, menemukan arah dan belajar bertanggung jawab atas masa depannya. Seorang pendidik menanam tanpa selalu mengetahui kapan benih akan tumbuh. Bahkan mungkin tidak sempat menikmati buahnya. Namun pengabdian tidak kehilangan nilai hanya karena hasilnya belum terlihat. Ada pekerjaan yang selesai ketika tugas berakhir. Ada kasih yang terus bekerja melalui kehidupan orang-orang yang pernah kita didik.
Kini perjalanan imamat membawa saya ke ladang pengabdian lain di Sekolah Tinggi Pastoral Santo Petrus Keuskupan Atambua. Di tengah kehidupan akademik, saya semakin menyadari bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada kecerdasan berpikir. Pengetahuan yang luas belum tentu melahirkan kebijaksanaan. Gelar akademik tidak dengan sendirinya membentuk kepribadian. Iman yang fasih dibicarakan belum tentu menjadi tindakan. Karena itu saya menyimpan sebuah harapan sederhana yakni mahasiswa tidak hanya bertumbuh menjadi manusia yang berilmu tetapi juga beriman, berkarakter, kreatif dan mandiri. Sebab pendidikan yang berhasil bukan hanya membuat seseorang mampu menjawab pertanyaan tetapi juga sanggup menjawab tantangan kehidupan.
Dari kegelisahan dan permenungan itulah lahir sebuah rumah kecil bernama RBK yakni Ruang Belajar Konsep–Ruang Belajar Kehidupan. Rumah ini mungkin tidak besar secara fisik tetapi menyimpan cita-cita yang melampaui dindingnya. Saya ingin pengetahuan tidak berhenti sebagai penghuni ruang kelas. Pengetahuan harus memiliki keberanian untuk turun ke tanah, bersentuhan dengan pekerjaan, menghadapi kenyataan dan menemukan maknanya dalam kehidupan.
Di Ruang Belajar Konsep, mahasiswa diajak membaca, berpikir, bertanya, memahami teori dan membangun penalaran yang jernih. Mereka belajar mengenal dunia melalui ilmu pengetahuan, menguji gagasan serta membedakan pendapat dari argumentasi. Namun saya semakin percaya bahwa memahami kehidupan melalui buku belum sama dengan memahami kehidupan melalui pengalaman. Ada pengetahuan yang dapat dijelaskan di depan papan tulis. Ada pula kebijaksanaan yang baru tumbuh ketika manusia berani menyentuh kenyataan. Ruang kelas mengajarkan mahasiswa memahami kehidupan. Namun kehidupan sendiri mengajarkan apakah pemahaman itu sungguh memiliki arti.
Perjalanan belajar tidak boleh berhenti di balik meja. Mahasiswa perlu memasuki Ruang Belajar Kehidupan, tempat pengetahuan bertemu tanah, pikiran berjumpa pekerjaan dan cita-cita diuji oleh kenyataan. Di sana mereka belajar meraba tanah, meraba hidup dan meraba Tuhan. Meraba tanah berarti berani menyentuh sumber kehidupan, menghargai kerja dan memahami bahwa hasil tidak datang tanpa usaha. Meraba hidup berarti belajar dari pengalaman, menerima keterbatasan, menemukan kemampuan diri dan bertumbuh melalui tanggung jawab. Meraba Tuhan berarti membuka kepekaan iman untuk mengenali kehadiran-Nya dalam ciptaan, kerja, keheningan dan hubungan dengan sesama. Ketiganya menjadi satu perjalanan pembelajaran yakni dari sentuhan tangan menuju kesadaran hati, dari pengalaman menuju pemaknaan, dari tanah menuju kedalaman iman.
Di rumah kecil itu, mahasiswa belajar bahwa tangan yang biasa memegang pena juga perlu mengenal beratnya linggis dan tofa. Mereka mengolah tanah, menanam, merawat sayuran dan menyaksikan bagaimana kehidupan bertumbuh dari kesabaran. Tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah bagi manusia yang sedang belajar menjadi dewasa. Tanah tidak bertanya tentang gelar, kepandaian atau kedudukan seseorang. Tanah hanya menanggapi tangan yang tekun mengolahnya. Di hadapan tanah, semua orang kembali menjadi murid. Di hadapan kehidupan, kerendahan hati menjadi awal kebijaksanaan.
Ruang Belajar Kehidupan bukan hanya tempat bekerja dengan otot. Di tengah kehijauan sayur, mahasiswa juga dapat memetik gitar, bernyanyi dan menikmati kesunyian tanah dengan olah rasa-olah pikir-olah diri/hati-olah raga. Di sana, suara gitar bertemu desir angin. Nada-nada sederhana mengalir di antara tanaman yang sedang bertumbuh. Mereka belajar bahwa kehidupan membutuhkan kerja keras tetapi juga keindahan. Membutuhkan ketekunan tetapi juga kegembiraan. Membutuhkan keheningan untuk mendengarkan diri sendiri, sekaligus keberanian untuk mengekspresikan kemampuan. Tangan yang memegang linggis dan tofa adalah tangan yang sama yang dapat memetik gitar. Tangan yang memegang pena di kelas adalah tangan yang sama memegang tanah di kebun. Keduanya sedang belajar menciptakan kehidupan yakni, yang satu mengolah tanah, yang lain menyuburkan rasa dan pikir serta hati.
Saya ingin mahasiswa memahami bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari fasilitas yang mewah. Kadang kreativitas justru tumbuh di tengah kesederhanaan, ketika manusia belajar menggunakan apa yang tersedia. Di antara sayuran, tanah, alat kerja, gitar dan suara, mereka belajar mengenali bakat serta mengolah potensi diri. Mereka boleh memiliki pikiran yang tinggi tetapi kaki harus tetap berpijak di tanah. Mereka boleh memiliki cita-cita yang jauh tetapi tangan tidak boleh takut bekerja. Mereka boleh bernyanyi tentang masa depan tetapi juga harus berani menyiapkan masa depan itu dengan keringat sendiri, memasak di tungku api sambil menikmati hangatnya asap. Sebab masa depan tidak cukup dinyanyikan dengan suara yang merdu. Masa depan juga harus dibangun dengan tangan yang mau bekerja.
Untuk mempertemukan Ruang Belajar Konsep dan Ruang Belajar Kehidupan, saya memperkenalkan sebuah jembatan bernama PILAR: Paham, Implementasi, Latih, Analisis/Refleksi dan Rutin. Mahasiswa diajak memahami sebelum bertindak, menerapkan pengetahuan dalam pekerjaan, melatih keterampilan melalui pengalaman, merefleksikan keberhasilan maupun kegagalan, lalu membangun kebiasaan baik melalui ketekunan. PILAR bukan sekadar urutan pembelajaran. Bagi saya PILAR merupakan jalan pembentukan manusia seutuhnya. Sebab karakter tidak tumbuh hanya karena seseorang mengetahui arti kebaikan. Karakter terbentuk ketika kebaikan dilatih hingga menjadi kebiasaan. Kemandirian pun tidak lahir dari keinginan untuk berhasil tetapi dari keberanian memulai, bekerja dan bertanggung jawab. Ilmu menolong manusia memahami dunia. Kerja mengajarkan cara menghidupinya. Refleksi membantu manusia menemukan maknanya.
Pengalaman mendampingi mahasiswa bersentuhan dengan tanah membawa permenungan saya kepada cakrawala yang lebih luas. Saya hidup dan berkarya di Timor, tanah yang akrab dengan musim kering, bebatuan dan perjuangan mempertahankan kehidupan. Di sini manusia belajar membaca langit, menunggu hujan, mengolah tanah dan menjaga hubungan dengan sesamanya. Tanah yang tampak keras ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran. Dari pergulatan inilah tumbuh ketertarikan saya untuk menggali Teologi Tanah Kering Timor atau Teologi Pah Meto, yang kini sedang saya kerjakan tentang kehidupan masyarakat Atoni Pah Meto.
Saya mulai bertanya, mungkinkah tanah yang kering juga menjadi tempat bertumbuhnya pemahaman tentang Tuhan? Mungkinkah kehidupan masyarakat yang bergulat dengan keterbatasan menyimpan kebijaksanaan teologis yang belum cukup kita dengarkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya memasuki dunia kehidupan Atoni Pah Meto. Saya berusaha memahami bagaimana manusia mengalami kebersamaan, mengatur tanggung jawab, memberi dan menerima, menghadapi perbedaan serta merawat hubungan dalam kehidupan komunitas. Di sana kasih persaudaraan tidak cukup dipahami sebagai ungkapan yang indah. Kasih perlu dibaca melalui tindakan nyata, termasuk ketika kebersamaan diuji oleh beban, ketegangan dan keterbatasan manusia.
Dalam bahasa Meto, tindakan meraba dikenal melalui kata lab. Dari pengalaman konkret meraba tanah, saya menemukan sebuah jalan permenungan tentang pengetahuan dan kehidupan. Lab naijan (meraba tanah); mlab 'monik (meraba hidup) dan mlab Usi Neno (meraba Tuhan). Bagi saya ungkapan-ungkapan ini membuka kemungkinan untuk memahami pengetahuan bukan semata-mata sebagai kegiatan pikiran tetapi juga sebagai keterlibatan manusia dengan dunia yang menopang kehidupannya. Manusia tidak hanya mengetahui karena melihat dari kejauhan. Manusia juga belajar karena mendekat, menyentuh, mengalami dan membangun hubungan. Tanah menjadi tempat manusia belajar tentang kehidupan. Kehidupan membuka pertanyaan tentang makna. Dan pencarian makna membawa manusia memasuki permenungan tentang Tuhan. Tangan yang meraba tanah dapat menjadi awal perjalanan hati untuk mengenali kedalaman kehidupan.
Di sinilah Ruang Belajar Kehidupan dan Teologi Pah Meto menemukan titik perjumpaannya. Keduanya berangkat dari keyakinan bahwa pengalaman manusia layak didengarkan dan direnungkan. Ketika mahasiswa mengolah tanah, mereka tidak sedang menggantikan teologi dengan pekerjaan fisik. Mereka sedang belajar bahwa iman juga menuntut tanggung jawab terhadap ciptaan dan kehidupan. Ketika mereka bekerja bersama, mereka belajar bahwa manusia membutuhkan sesamanya. Ketika mereka menikmati keheningan dan memetik gitar di antara tanaman, mereka belajar bahwa kehidupan bukan hanya persoalan menghasilkan sesuatu, tetapi juga kemampuan mensyukuri apa yang telah diberikan. Tanah menjadi ruang belajar. Kerja menjadi latihan karakter. Keheningan menjadi kesempatan berefleksi. Dan kehidupan menjadi tempat iman mencari wujudnya.
Teologi Pah Meto sendiri masih merupakan perjalanan pencarian. Saya tidak ingin tergesa-gesa menjadikan setiap praktik budaya sebagai kesimpulan teologis. Pengalaman masyarakat perlu didengarkan terlebih dahulu. Suara mereka harus mendapat tempat sebelum peneliti memberikan penafsiran. Namun melalui proses itulah saya semakin menyadari bahwa teologi tidak hanya berkembang dalam percakapan akademik. Teologi juga dapat menemukan pertanyaan-pertanyaannya di sekitar tungku, kebun, dalam perjumpaan keluarga, di tengah pekerjaan bersama dan dalam pergulatan manusia mempertahankan hubungan. Tanah kering tidak selalu berarti kehidupan yang miskin makna. Kadang justru di tempat yang paling keras, manusia belajar betapa berharganya kehadiran orang lain.
Di sinilah perjalanan imamat, pendidikan dan penelitian mulai bertemu dalam satu garis permenungan. Di altar, saya belajar menerima kasih sebagai rahmat. Di tengah umat, saya belajar menerjemahkan kasih menjadi pelayanan. Di ruang kelas, saya berusaha menumbuhkan kasih melalui pendidikan. Di RBK, saya mengajak mahasiswa menghidupi kasih melalui kerja, kreativitas dan tanggung jawab. Sementara melalui Teologi Pah Meto, saya sedang belajar mendengarkan bagaimana pengalaman manusia, budaya dan kehidupan bersama dapat membuka jalan bagi refleksi iman. Semuanya berangkat dari satu keyakinan bahwa kasih kepada Tuhan tidak boleh berhenti sebagai pengakuan bibir. Kasih harus menemukan tubuhnya dalam kehidupan.
Semakin jauh perjalanan ini berlangsung, semakin saya memahami bahwa tanah kering juga dapat menjadi cermin kehidupan imamat. Tidak setiap musim membawa hujan. Tidak setiap usaha segera menghasilkan buah. Ada harapan yang tumbuh perlahan. Ada pekerjaan yang menuntut kesabaran panjang. Ada kegagalan yang memaksa seseorang memulai kembali. Namun tanah mengajarkan satu kebijaksanaan yakni benih tidak bertumbuh hanya karena ditanam. Benih membutuhkan pemeliharaan, ketekunan dan kesediaan menunggu. Demikian pula panggilan. Kesetiaan bukanlah keadaan ketika segala sesuatu berjalan baik melainkan keberanian untuk tetap merawat apa yang dipercayakan Tuhan bahkan ketika musim kehidupan sedang kering.
Dua puluh tahun imamat tidak membuat saya merasa telah selesai belajar. Sebaliknya semakin banyak pengalaman, semakin jelas pula keterbatasan diri. Ada keputusan yang mungkin kurang bijaksana. Ada kesempatan yang belum dimanfaatkan dengan baik. Ada harapan yang belum tercapai. Ada kelemahan yang terus meminta diperbaiki. Namun justru dalam ketidaksempurnaan itulah motto tahbisan saya memperoleh makna yang semakin manusiawi. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus tentang kasih, pertanyaan itu diberikan kepada seorang murid yang pernah menyangkal-Nya. Yesus tidak memulai dengan menghitung kegagalan Petrus. Yesus membuka kembali jalan kasih dan mempercayakan tugas penggembalaan kepadanya. Kerapuhan bukan akhir dari panggilan. Selama kasih masih bersedia belajar, selalu ada jalan untuk kembali.
Saya tidak ingin mengukur dua puluh tahun imamat hanya dari panjangnya masa pelayanan, banyaknya pekerjaan atau karya yang pernah dirintis. Semua itu dapat dicatat sebagai sejarah tetapi belum tentu menjadi ukuran terdalam sebuah kehidupan. Yang lebih penting ialah apakah kehadiran saya telah membawa sedikit terang bagi seseorang yang kehilangan arah. Apakah ilmu yang saya bagikan telah membantu mahasiswa berdiri di atas kakinya sendiri. Apakah pelayanan saya telah memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh. Apakah penelitian yang sedang saya kerjakan sungguh menghormati kehidupan masyarakat yang menjadi sumber pengetahuan. Dan terutama, apakah melalui semuanya itu, kasih Kristus semakin memperoleh tempat dalam diri saya.
Pada usia imamat yang kedua puluh ini, saya semakin percaya bahwa manusia tidak menjadi besar karena banyaknya hal yang berhasil dikumpulkan tetapi karena kesediaannya menjadikan hidup sebagai pemberian. Pengetahuan menjadi berharga ketika dibagikan. Iman menjadi hidup ketika diwujudkan. Pendidikan menjadi bermakna ketika memerdekakan. Penelitian menjadi luhur ketika menghormati martabat manusia. Dan imamat menemukan kedalamannya ketika seluruh karya itu tidak lagi berpusat pada diri sendiri melainkan menjadi jalan bagi kehidupan orang lain.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang tidak pernah berhenti memanggil, sekalipun jawaban saya belum selalu sempurna. Saya mengenang dengan hormat para gembala yang menuntun perjalanan panggilan ini. Saya berterima kasih kepada saudara-saudara imam, umat, para pendidik, rekan kerja, mahasiswa, dan masyarakat yang telah membuka ruang kehidupan mereka bagi saya. Teristimewa untuk mama dan bapak yang tahun ini merayakan ulang tahun pernikahan ke 53. Dan juga saudara-saudari, anak-anak dan cucu-cucu. Melalui begitu banyak perjumpaan, saya belajar bahwa tidak seorang pun bertumbuh sendirian. Di balik perjalanan seseorang selalu ada tangan yang menopang, doa yang tidak terdengar, pengorbanan yang tidak tercatat dan kasih yang bekerja tanpa meminta nama.
Kini, ketika menoleh ke belakang, saya melihat dua puluh tahun bukan sebagai monumen keberhasilan. Saya melihatnya sebagai sebidang tanah kehidupan yang telah disentuh rahmat Tuhan. Ada bagian yang subur. Ada bagian yang masih berbatu. Ada benih yang telah tumbuh. Ada pula yang belum memperlihatkan tunasnya. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang patut disyukuri sekaligus direnungkan. Sebab tugas seorang pekerja bukan memaksa setiap benih segera berbuah melainkan setia mengolah tanah yang dipercayakan kepadanya.
Dari altar tahbisan di Kefamenanu, pelayanan di Kiupukan, ruang pembinaan Seminari Lalian, ruang kuliah STP Santo Petrus, rumah kecil RBK, hingga pencarian makna di tanah kering Pah Meto, saya menemukan satu benang merah yang terus menyatukan perjalanan ini yakni kasih harus dipelajari, dikerjakan, direnungkan dan dihidupi. Kasih bukan sekadar perasaan yang menghangatkan hati. Kasih adalah kesetiaan yang memiliki tanggung jawab. Kasih adalah keberanian untuk tetap hadir. Kasih adalah pekerjaan yang mungkin tidak selalu terlihat tetapi memberi kehidupan.
Dua puluh tahun lalu, saya berdiri di hadapan altar dengan jawaban seorang imam muda. Hari ini saya ingin mengucapkan jawaban yang sama dengan hati yang telah lebih banyak disentuh kehidupan. Barangkali semangatnya tidak lagi sebergejolak dulu tetapi semoga akarnya semakin dalam. Barangkali langkahnya tidak selalu cepat tetapi semoga arahnya tetap benar. Barangkali tangan ini belum menghasilkan banyak hal tetapi semoga tidak pernah kehilangan kerelaan untuk bekerja.
Sebab, imamat bukan terutama tentang seberapa jauh seseorang telah berjalan melainkan tentang kepada siapa seluruh perjalanan itu dipersembahkan.
Dan kelak, ketika suara ini tidak lagi kuat mengajar, tangan ini tidak lagi mampu mengolah tanah, buku-buku harus ditutup dan seluruh pekerjaan menemukan batasnya, saya berharap masih tersisa satu hal yang tidak ikut menjadi tua yakni kasih yang pernah saya janjikan kepada Tuhan.
Biarlah karya-karya menjadi kenangan. Biarlah waktu menyimpan sejarahnya. Biarlah tanah menerima kembali segala yang berasal darinya. Namun semoga hati tetap mampu memberikan jawaban yang sama. “Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau.”
Karena dua puluh tahun imamat bukanlah kisah tentang betapa besar kasih saya kepada Tuhan melainkan tentang betapa setianya Tuhan mengasihi saya bahkan ketika saya masih terus belajar mencintai-Nya.
Kefamenanu, 18 Oktober 2026
Dalam syukur atas dua puluh tahun rahmat imamat, di bawah pohon, ruang depan rumah itu, RBK, 15.45-Minggu 18 Oktober 2026
Tag
Berita Terkait
LEBENSWELT TABUA: KOSMOLOGI KEBERSAMAAN ATONI PAH METO DALAM CERMIN FENOMENOLOGI ALFRED SCHUTZ
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online