• Hari ini: May 02, 2026
Nasional

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS  UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

(RP. Frans Funan, SVD)


"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).

    Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.

    Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah  sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.

    Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.

    Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri. 

    Maka  imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak  menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.

    Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.

    Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.

    Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah,  bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.

    Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.

    Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman  Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).

Opini

JALAN HENING MENUJU KRISTUS

JALAN HENING MENUJU KRISTUS

(Sebuah catatan Kecil dari Pinggir Kota)

    Di tengah kesederhanaan hidup umat, di rumah-rumah umat Katolik, di kapela lingkungan atau di bawah teduhnya gua Maria, pada bulan Mei ini, nama Bunda Maria disebut dengan hormat. Namun pertanyaannya jelas, apakah ini hanya kebiasaan atau sungguh jalan iman?

    Gereja Katolik tidak pernah menempatkan Maria sebagai tujuan akhir. Dalam dokumen Gereja Lumen Gentium no. 60–62, ditegaskan bahwa Maria dihormati karena perannya dalam misteri Kristus, bukan menggantikan Dia. Kristus tetap satu-satunya Pengantara. Maka devosi kepada Maria harus Kristosentris (berpusat pada Kristus) dan mengantar umat kepada Yesus, bukan berhenti pada Maria.

    Kitab Suci memberi dasar yang kuat. Maria disebut “penuh rahmat” (Luk 1:28), “diberkati di antara wanita” (Luk 1:42), dan “segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). Ini bukan sekadar pujian tetapi nubuat iman. Menghormati Maria berarti mengakui karya Allah dalam dirinya.

    Tradisi Gereja menegaskan hal yang sama. Dalam Konsili Efesus, Maria diakui sebagai Bunda Allah (Theotokos). Gelar ini menegaskan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Jadi setiap devosi kepada Maria pada akhirnya adalah pengakuan iman akan Kristus. Bulan Mei didedikasikan bagi Maria sebagai simbol kehidupan baru. Tradisi ini berkembang dalam sejarah Gereja dan didukung oleh para Paus. Maknanya sederhananya, seperti alam yang berbunga, iman umat pun dipanggil untuk bertumbuh.

    Namun Gereja memberi arah yang jelas. Dalam Marialis Cultus no. 25–28, Paul VI menegaskan bahwa devosi Maria harus bersumber dari Kitab Suci, selaras dengan liturgi dan mengarah kepada Kristus. Jadi Rosario, Litani dan ziarah bukan praktik kosong, tetapi latihan iman. Dalam kehidupan umat, hal ini tampak nyata. Selama Bulan Maria, umat berkumpul dari rumah ke rumah dalam KUB atau lingkungan. Setiap keluarga menjadi tuan rumah doa. Anak-anak hadir dengan kesederhanaan, orang muda dengan semangat, orang dewasa dengan ketekunan. Mereka berdoa Rosario, bernyanyi dan saling menguatkan.

    Praktik ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah Gereja yang hidup. Di sinilah iman diwariskan secara konkret. Apa yang ditegaskan Gereja tentang “kesalehan umat” juga tampak dalam Directory on Popular Piety and the Liturgy (2001, no. 9, 183–186) bahwa devosi yang benar membantu umat masuk lebih dalam ke dalam misteri Kristus. Penelitian pastoral mendukung hal ini. Studi Lafdy dkk., “Pengaruh Katekese Bulan Maria terhadap Pendalaman Iman Umat” (2024), menunjukkan bahwa doa bersama memperkuat iman dan kebersamaan. Ahmad (2023), “Gua Maria sebagai Tempat Devosi, juga menegaskan bahwa praktik devosi meningkatkan keterlibatan rohani umat.

    Di sinilah kekuatan devosi Maria, sederhana dan membumi. Maria dekat dengan kehidupan umat. Maria memahami penderitaan dan harapan manusia. Namun ia tidak pernah menjadi pusat. Ia selalu menunjuk kepada Yesus, “Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya” (Yoh 2:5).

    Maka Bulan Maria bukan sekadar rutinitas. Bulan Maria adalah sekolah iman. Rosario menjadi permenungan hidup Kristus. Litani menjadi pujian atas karya Allah. Doa bersama menjadi pengalaman Gereja sebagai keluarga. Akhirnya, devosi kepada Maria mengajarkan hal sederhana bahwa iman tumbuh dalam kesetiaan kecil. Maria tidak tampil besar di depan dunia. Ia setia dalam keheningan. Dari situlah keselamatan hadir.

Bagi umat sederhana, ini kabar baik. Beriman tidak harus rumit. Cukup berjalan bersama Maria, dari rumah ke rumah, dari doa ke doa. Dan bersama dia, kita akan sampai kepada Kristus. Sebab pada akhirnya, siapa yang sungguh berjalan bersama Maria, tidak akan berhenti pada Maria, ia pasti sampai kepada Kristus.

(Pagi di awal Bulan Maria, rumah di samping hutan, hening bermakna cipta, KU)

Cerpen

AGUSTUS MENGAWALI, NOVEMBER MENGAKHIRI


    Di sudut kamar gelap di sebuah bangunan tua bercat merah maron di pelosok hutan, aku terduduk lemas. Dengan tubuh yang letih, aku membungkukkan badan, menatap sebuah buku bersampul merah tua yang terletak di atas map biru, bersandar pada dinding berwarna kuning pucat itu.

    Perlahan, jari-jariku yang bergetar membuka halaman pertama. Air mataku menetes ketika melihat tulisan berukir indah: “There are beautiful stories with you.” Kusandarkan kepala pada tembok batako yang dingin. Ada cerita indah di balik semua ini, kisah yang pernah memiliki pemeran utama… yang kini entah di mana.

    Hari-hari yang telah berlalu selalu menyisakan cerita, menjadi kenangan yang menua bersama waktu. Ada banyak rasa ketika mencoba berdamai dengan masa lalu: marah, sedih, kecewa, menyesal. Semuanya hadir kembali setiap kali mengingatnya.

    Aku membuka halaman berikutnya. 19 Agustus 2024. Tanggal manis itu kembali mengingatkanku padanya. Saat pertama kali menjumpainya, dengan kemeja berkerah bergaris putih, jeans hitam, tubuh tinggi kurus, rambut keriting hitam tebal, dan mata yang sama-sama indah, pandangan itu membuatku ingin terus memilikinya.

    Tanpa sadar, kami menjadi dua sejoli yang dekat: sahabat, teman curhat, dua orang yang saling menyukai dan saling membutuhkan. Kami menjalani suka duka bersama, berbagai cobaan kami lewati dengan kasih hingga tumbuh cinta yang begitu dalam.

    Enam bulan kami menghidupi kebersamaan itu. Hingga suatu hari, jarak memisahkan kami. Penantian akan sebuah kepastian terasa terlalu panjang. Perasaannya perlahan redup, kesalahan terjadi, dan cobaan itu menghancurkan segalanya.

    Pengkhianatan, kekecewaan, kesedihan, dan air mata bercampur menjadi satu. Aku terisak mengingat hari ketika aku dikhianati. Bagaimana mungkin? Tujuan, harapan, kebahagiaan yang kami bangun runtuh seketika. Sosok yang selalu kubanggakan itu hilang ditelan bumi, tanpa kabar. Semua terjadi karena kami mempertahankan ego, siapa benar, siapa salah.

    Aku berusaha kuat. Mencoba melupakan kenangan pahit itu dan berdiri sendiri tanpa terburu-buru membuka lembaran baru. Akan kunikmati setiap perih hingga habis, akan kujaga hati yang retak ini agar tak terluka lagi.

    Aku tidak membencinya. Aku mencoba berdamai dengan kenangannya. Hari kemarin adalah pelajaran, bukan penghalang.

    Rumah kecil tua itu pernah menjadikan kami satu, seperti magnet, begitu katanya saat awal mengenalku. Aku bagai magnet yang menarik dari berbagai arah, dan aku pun ingin terus bersamanya. Tetapi apa dayaku? Rumah kecil itu pula yang membawa kami menjauh dari kenyataan. Ia pernah hilang, namun kembali. Itu nyata.

    Janji, niat, tekad, harapan, air mata, dan kenangan tersimpan rapi di dalamnya. Lalu bagaimana denganku bila kelak ia bersama orang lain? Rasanya mustahil. Namun bila takdir berkata lain, aku memasrahkan segalanya demi kebahagiaan masing-masing. Kami pernah berdamai dengan keadaan, berusaha berjalan bersama, saling merangkul untuk satu tujuan.

    Niatku sederhana: tetap bersamanya. Laki-laki baik, titipan Tuhan itu, pernah kembali padaku. Aku berjanji menjaga dan menemaninya dalam hari-hari penuh suka dan duka.

    Kini ia kembali dengan perasaan yang sama, membawa sejuta janji untuk sebuah status yang resmi. Ia datang tanpa paksaan, melepaskan ego demi kebahagiaan bersama, ingin melihat cinta yang sesungguhnya.

    16 Februari 2025, pukul 13.12. Hubungan itu resmi, dengan kesepakatan untuk saling menopang dalam masa tersulit sekalipun. Jika kelak apa pun terjadi, inilah kisah kami. Semoga semuanya baik.

    19 Agustus kembali mengingatkan pada sebuah hubungan rumit yang perlahan membaik. Aku tak mengharapkan banyak, yang penting saling memahami dan mau berjuang bersama.

Namun kisah itu kembali melukaiku. Aku tak sanggup menahan perlakuannya. Keegoisan dan kesombongannya membuatku berhenti di sini. Rindu akan pecah, air mata tumpah, rasaku hilang entah ke mana.

    Jujur, aku mencintainya. Tapi aku sadar, aku bukan tujuan hidupnya. Bila Tuhan berkenan, biarlah ia berbahagia sekali lagi.

    Pesan terakhirku untuknya, semoga bumi dan alam selalu melihat bahwa di satu sudut sunyi, ada aku yang diam-diam ingin melihatmu menang atas hidupmu sendiri.

    Entah itu impian yang belum tercapai, cita-cita yang kau kejar meski dunia tak ramah, atau harapan kecil yang kau bisikkan sebelum tidur, semoga semuanya berpihak padamu dengan lembut.

    Aku tak lagi ikut dalam langkahmu, prosesmu, keputusanmu. Namun aku tetap menitipkan doa di setiap malam yang sunyi, di setiap keluh yang terhembus angin. Semoga kau diberi cukup tenaga untuk bertahan, cukup sabar untuk menunggu, dan cukup bahagia untuk merasa layak dicintai kehidupan.

    Dan bila suatu hari kau benar-benar menang, semoga ada suara hangat yang berbisik pelan di hatimu bahwa pernah ada seseorang, jauh di sini, yang sepenuhnya percaya padamu, pada prosesmu, pada keputusanmu.

    Aku… sosok perempuan kecil yang kau temui di sudut gedung tua berwarna merah maron itu, tepat pada 19 Agustus 2024. Kutitipkan rintihanku sebagai dukungan terakhir untuk perjalananmu. (Marcella Ceunfin,16)

Daerah

ROSARIO BERJALAN, IMAN OELNITEP MENYALA

KOLKITA-Oelnitep, Dua Kelompok Umat Basis (KUB)di Lingkungan Oelnitep, Paroki St. Yohanes Pemandi Nesleu, membuka Bulan Maria dengan langkah iman yang hidup. Dua KUB (Petrus dan Kristoforus) yang disatukan dalam nama PETIR, mengawali doa Rosario dengan perarakan dari rumah Ibu Gema Ndun dan Bapak Aris Anoet, lalu berkumpul di rumah Ketua RT Mathius Falo pada Hari Jumat (01/05/2026).

    Perarakan itu menjadi tanda bahwa iman tidak tinggal diam. Ia berjalan, menyapa rumah demi rumah dan menghidupkan kebersamaan umat. Ibadat pembukaan yang dipimpin oleh Bapak John Malada dan Saudara Riki Bani itu dihadiri tokoh umat, OMK dan anak-anak, menghadirkan suasana doa yang sederhana namun penuh kebersamaan. Suasana terasa hangat—bukan hanya karena kebersamaan, tetapi karena iman yang sungguh dihidupi.

    Dalam renungan Kitab Suci yang diambil dari perikop Luk 1:26–35, pemimpin ibadat menegaskan ajaran penting Gereja, "umat Katolik mengenal latria (penyembahan kepada Allah) dan dulia (penghormatan kepada para kudus)." Lebih lanjut ditegaskan, "Doa Rosario, bukan menyembah Maria, tetapi menghormati iman dan ketaatannya kepada Allah," tandas John Malada.

    Selain itu, dijelaskan bahwa, "Maria dihormati karena menjawab “ya” kepada kehendak Tuhan. Ia dipilih menjadi Bunda Sang Penyelamat dan, menurut iman Gereja, dikandung tanpa noda dosa asal, sebuah dogma yang ditegaskan oleh Pope Pius IX pada 8 Desember 1854," kata John dalam renungannya.

    Ada momen menarik yang menghidupkan suasana. Ketika pemimpin ibadat bertanya tentang nama orang tua Maria, umat sempat terdiam. Namun seorang putri Orang Muda Katolik (OMK), dengan percaya diri menjawab dengan lantang, "Santa Ana dan Santo Yoakim." Jawaban itu disambut dengan senyum dan rasa bangga, tanda bahwa iman juga hidup dalam diri generasi muda.

    Di akhir ibadat, tokoh umat Bapak Marsel Opat memberikan penegasan sederhana namun tegas bahwa "selama Bulan Maria, kaum bapak diharapkan lebih aktif dalam doa Rosario, tidak hanya menyerahkan peran kepada ibu-ibu dan anak-anak." Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa, iman itu tanggung jawab kita bersama".

    Acara ditutup dengan minum bersama, mempererat persaudaraan yang telah dibangun dalam doa. Setelah itu, arca Bunda Maria diarak oleh masing-masing KUB menuju rumah berikutnya, tempat doa Rosario akan dilanjutkan esok hari.

    Di Oelnitep, Bulan Maria bukan sekadar tradisi. Bulan Maria ini menjadi gerak iman yang nyata, berjalan dari rumah ke rumah, dari hati ke hati. Karena iman yang sejati bukan hanya didoakan, tetapi dihidupi bersama. (Alija)

Internasional

Internasional

PAUS FRANSISKUS MEMPROMULGASIKAN ENSIKLIK BARU: "DILEXIT NOS", TENTANG HATI KUDUS YESUS

Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.

Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.

Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.

“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.

Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.

Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.

Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)


Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik

Puisi

KEHIDUPAN

KEHIDUPAN

(ClaristaSharveen)


Kehidupan berputar bagai roda
Kadang menanjak, kadang menukik
Setiap detik adalah nafas yang menuntun
Menjadi jejak di perjalanan esok

Langkah kecil hari ini
Adalah sumbu bagi mimpi yang menyala
Dalam doa yang sunyi, kerja yang tekun
Dan harapan yang tak pernah pudar

Di antara sunyi dan riuh dunia
Tersimpan cerita masa depan
Yang lahir dari kesetiaan hati
Dan keberanian menatap hari

Oelnitep, 07 Maret 2026

Renungan

BELAJAR MENDENGAR LEBIH DALAM

BELAJAR MENDENGAR LEBIH DALAM

(Kis 1:14a.36-41; 1Ptr 2:20b-25; Yoh 10:1-10)

 

Minggu Panggilan mengingatkan kita: Tuhan masih memanggil. Bukan jauh. Bukan nanti. Tetapi di sini. Hari ini. Dalam hidup kita yang sederhana.

Tuhan memanggil kita, marilah kita merenungkan bersama Sabda Tuhan hari ini

1.    Tuhan sering bicara lewat hati yang terusik

Kita marah, lalu gelisah. Kita salah, lalu tidak tenang. Kita lihat orang susah, tapi hati tidak diam. Itu bukan sekadar perasaan. Itu Tuhan sedang mengetuk dari dalam. Ia tidak menjatuhkan. Ia membangunkan. “Hati mereka sangat terharu.” (Kis 2:37). Belajar mendengar lebih dalam.

2.      Panggilan tidak selalu lembut, kadang menantang

Mengikuti Tuhan tidak selalu enak. Kadang harus tahan diri. Kadang harus berani berubah. Ada suara kecil: “Ikut Aku… walau tidak mudah.” Jangan cepat lari dari suara itu. “Supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1Ptr 2:21). Belajar mendengar lebih dalam.

3.      Tuhan hadir di tempat yang biasa

Di rumah sederhana. Di kebun kering. Di jalan yang kita lewati tiap hari. Tuhan tidak jauh. Ia hadir dalam luka, kerja, tugas dan harapan kita. “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1Ptr 2:24). Belajar mendengar lebih dalam.

4.      Suara Tuhan itu akrab, bukan asing

Seperti suara mama yang kita kenal. Seperti panggilan gembala kepada ternaknya. Tuhan juga memanggil kita-dengan nama kita. Suara-Nya lembut, tapi nyata. Hanya hati yang tenang bisa menangkapnya. “Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya.” (Yoh 10:3). Belajar mendengar lebih dalam.

5.      Panggilan selalu membawa kita pada kebersamaan

Tidak ada panggilan untuk hidup sendiri. Kita dipanggil untuk berjalan bersama. Saling menguatkan. Saling menjaga. Saling mengangkat saat jatuh. “Mereka memberi diri dibaptis dan hidup bersama.” (Kis 2:41). Belajar mendengar lebih dalam.

6.      Jalan sudah dibuka, tinggal kita melangkah

Kita sering tunggu tanda besar. Padahal Tuhan sudah buka jalan. Ia sudah berdiri di depan kita. Tinggal kita mau percaya dan masuk. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.” (Yoh 10:9). Belajar mendengar lebih dalam.

Panggilan Tuhan tidak selalu terdengar keras, tetapi selalu hadir setia-di hati yang terusik, di hidup yang sederhana, dan di langkah kecil yang berani kita ambil. Panggilan Tuhan bukan soal suara yang lebih keras, tetapi hati yang berani tinggal dan mendengar sampai akhirnya taat melangkah.


(Renungan Hari Minggu Paskah IV, Hari Minggu Panggilan, Kapela Oelnitep, 26 April 2026, KU)

Serba Serbi

Serba Serbi

KEJUJURAN MENGANTAR PERTUMBUHAN

Setiap tahun akademik menawarkan sebuah cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka, melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil. Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.

Jika kita membaca data-data evaluasi diri secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.

Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu, ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.

1. Pelajaran Besar dari Data

Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa, tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil, konsisten dan berulang.

Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa “tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.

Ketiga, distraksi digital adalah musuh terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri waktu belajar.

2. Apa Maknanya?

Melihat kejujuran mahasiswa, kita diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik, ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).

Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka pintu perubahan.

Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…, Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.

3. Titik Balik

Melalui data ini kita belajar satu hal penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan diam di tengah hiruk-pikuk.

Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi menumbuhkan manusia.

4. Puncak Refleksi

Di tengah kelemahan dan pergulatan yang tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah perjalanan spiritual.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu ditolong”.

Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah” (Roma 12:2).

Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.

Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan pemulihan yang tak pernah dibayangkan.

Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.


**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.


Cerita Bersambung

Cerita Bersambung

MALAM JUMAT YANG PANJANG (Part. 5)

MALAM JUMAT YANG PANJANG

MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)

Oleh: Lena Salu


    Terhitung sudah hampir tujuh bulan aku menjalani rutinitas perkuliahan dengan efektif sampai aku tak menyangka waktu terasa begitu singkat dan pendek. Kebiasaan nongkrong ngopi di pojok cafe dan pesta bareng teman-teman kampusku di klub-klub hampir tak pernah kudatangi. Mungkin aku takkan pernah merindukan momen-momen itu lagi, atau belum waktunya tuk kupikirkan sebagai salah satu SKS tambahan dalam roster harianku yang terus mengejarku untuk menyelesaikan tugasku yang hampir serumit rumus kalkulus. Yang ada sekarang di depanku hanyalah laptop ditemani tumpukan buku cetak beserta catatan-catatan yang tak pernah berkurang dari galeri kamarku.
    Kesibukanku semakin tampak gila membuatku bahkan tak sempat membaca balasan surat dari sahabatku...  yang sudah seminggu dihantar pak pos. Surat itu masih utuh tersegel rapi dalam keranjang surat di bilikku. Aku tak pernah melirik ke sana dan menyempatkan sedikit waktu tuk membacanya. Entah aku yang salah atau aku yang hampir lupa? Aku tak dapat menyalahkan pak pos. Entahlah, aku hanya bisa sedikit menyalahkan diriku yang sama sekali lupa akan hal ini.
    Kuraih amplop kecil itu dengan cepat dan lantas tak memperhatikan lagi perangko di depannya yang sebenarnya adalah hal pertama yang biasanya kulakukan sebelum membukanya setiap kali aku mendapatkan surat. Aku selalu mengoleksinya sebagai sesuatu yang paling berharga dan berarti bagiku. Kali ini aku melanggarnya dan cepat-cepat menggunting sudutnya. Kutarik surat kecil di dalamnya dan kaki ini ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Aku mendapati sebuah Rosario merah dan juga sebuah flashdisk Michy Mouse berbentuk lucu dengan gantungan hati.
    Waoooww kutarik napas dalam dan sedikit menahan diriku yang berguncang hebat. Apakah ini? Aku bertanya dalam hati dan menebak isi dari flashdisk tersebut. Mengapa baru hari ini aku termotivasi untuk membuka amplop ini? Sedangkan waktunya sudah hampir seminggu yang lalu. Ohhh aku membayangkan berapa lama ia menunggu balasanku dari jauh. Mungkinkah ia menyesalinya dan menganggapku manusia dan sahabat yang paling tidak beradab dalam pandangannya? Akankah ia menyeretku keluar dari daftar sahabatnya yang pernah ia jumpai di atas planet bumi ini dan membiarkanku mengembara tanpa tujuan yang pasti?
    Ohhh semoga tak seperti yang sedang berputar-putar  dalam fantasiku saat ini. Aku berharap ia masih menanti sebuah amplop kecil yang akan ku kirimkan beberapa hari kedepannya setelah aku menyelesaikannya. *****

 Teruntukmu Celine, di bilik penantian

Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.

Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.

Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu  disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.

Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.


NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.

Aku yang mengasihimu dari jauh,

(.................)

********** 

Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.

Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.

Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.

Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.

*********

Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.

Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.

Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.

************

Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.

Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.

Video