BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?
(RP. Frans Funan, SVD)
"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).
Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.
Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.
Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.
Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri.
Maka imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.
Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.
Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.
Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah, bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.
Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.
Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).
MAKNA KEHADIRAN AKU DAN KEPERGIAN AKU
YANG LAIN
Refleksi Sederhana Tentang Kematian dr.
Icha
Ronny Manas
Setiap kehadiran selalu menyimpan paradoks yang
tidak mudah dipahami. Di satu sisi, kehadiran "aku" menegaskan
eksistensi, identitas, dan peran yang dijalani dalam kehidupan. Namun, di sisi
lain, kehadiran yang sama dapat menjadi penyebab memudarnya, bahkan lenyapnya,
"aku" yang lain—baik dalam bentuk harapan, relasi, kesempatan, maupun
identitas yang pernah dimiliki. Pertanyaan tentang makna kehadiran yang
menyebabkan "aku" yang lain pergi menuju ketiadaan bukan sekadar
persoalan kehilangan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang konsekuensi
dari setiap pilihan, tindakan, dan keberadaan manusia itu sendiri. Sebab,
mungkin dalam setiap kehadiran, selalu ada sesuatu yang harus ditinggalkan, dan
dalam setiap kehilangan, selalu tersimpan kemungkinan untuk memahami makna
keberadaan dengan cara yang lebih utuh.
Meninggalnya
dr. Icha di Kabupaten Timor Tengah Utara tidak hanya menyisakan duka bagi
keluarga dan rekan sejawat, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai
hubungan antara tekanan yang diduga dialaminya dengan keputusan mengakhiri
hidup. Secara spontan, ketika mendengar peristiwa yang kurang lazim ini justru muncul
pertanyaan ko bisa? Ya sebuah pertanyaan yang justru tidak sekedar heran namun
mengarah kesangsian akan kematangan rasionalitas juga mental karena mendiang
merupakan seorang dokter. Keyakinannya bhawa, pendidikan hingga mengggapai
gelar dokter bukanlah perjalanan yang mudah lagi murah. Jaminan validnya bagi seseorang untuk
memperoleh gelar dokter tentunya tentu tidak gampang. Sebut saja, kecakapan
intelektual menjadi syarat dasar yang tidak bisa dikompromi. Oleh karena itu,
secara pribadi, saya meyakini bahwa seorang dokter pasti mampu menganalisis
bahkan membuat keputusan yang logis; baik terhadap peristiwa yang berhubungan
pasiennya, apalagi dengan dirinya sendiri apalagi tentang hidupnya.
Bahawasannya, percikan api rasionalitas seyogianya menajdi jalan menemukan
solusi dibalik kemelut ketakutan yang terus menghantui. Selain kecakapan
intelekutal, perjalanan panjang menuju panggung kedokteran tentu telah menjadi
bagian penting seorang almh.dr. Icha memiliki mental dan kematangan jiwa yang
bisa diandalkan. Namun, ini adalah keyakinan subjektivitas saya yang saya
dasarkan pada apa yang dikabarkan via media (tentu kurang detail).
Kembali
lagi ke fakta kematian mendiang dr. Icha dan respon publik akhir – akhir ini.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perhatian publik semakin besar karena muncul
informasi mengenai kehadiran beberapa anggota DPRD dalam peristiwa yang diduga
melibatkan teguran atau intimidasi terhadap dr. Icha.
Pertama-tama,
penting ditegaskan bahwa kehadiran anggota DPRD dalam agenda keluarga lantas
memberikan komentar terhadap pelayanan di rumah sakit layaknya keluarga yang
khawatir lalu panik tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kesalahan hukum.
Demikian pula, adanya dugaan intimidasi tidak otomatis berarti intimidasi
tersebut menjadi penyebab kematian seseorang. Kedua hal itu memerlukan
pembuktian melalui penyelidikan yang objektif.
Namun
demikian, kehadiran pejabat publik memiliki dimensi yang berbeda dibandingkan
kehadiran warga biasa. Anggota DPRD adalah pejabat yang memiliki kewenangan
politik, pengaruh sosial, dan posisi yang dapat menimbulkan tekanan psikologis
bagi pihak yang berhadapan dengan mereka. Oleh karena itu, sekalipun tidak ada
ancaman fisik, cara berbicara, pilihan kata, jumlah orang yang hadir, dan
konteks kehadiran dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan situasi
tersebut.
Dari
perspektif psikologi, tekanan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diucapkan,
tetapi juga oleh siapa yang mengucapkannya dan dalam kondisi apa ucapan itu
disampaikan. Seseorang dapat mengalami stres yang sangat berat ketika merasa
reputasi, pekerjaan, atau masa depannya sedang dipertaruhkan. Jika individu
tersebut sebelumnya telah berada dalam kondisi psikologis yang rentan, sebuah
peristiwa yang tampak biasa bagi orang lain dapat menjadi pemicu yang sangat
berat.
Namun, ilmu
psikologi juga mengajarkan bahwa bunuh diri hampir selalu merupakan hasil
interaksi berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut dapat meliputi tekanan
pekerjaan, konflik interpersonal, kondisi kesehatan mental, kelelahan
emosional, pengalaman hidup sebelumnya, serta adanya atau tidak adanya dukungan
sosial. Karena itu, secara ilmiah tidak tepat menyimpulkan bahwa satu peristiwa
saja pasti menjadi penyebab utama tanpa analisis yang mendalam.
Dalam
konteks hukum, yang harus dibuktikan bukan hanya apakah intimidasi terjadi,
tetapi juga apakah terdapat hubungan sebab-akibat yang cukup kuat antara
tindakan tersebut dan kematian korban. Pembuktian ini memerlukan pemeriksaan
saksi, bukti komunikasi, analisis forensik digital, serta keterangan ahli
psikologi dan kedokteran forensik. Jika hubungan kausal itu tidak dapat
dibuktikan, maka menyatakan seseorang bertanggung jawab atas kematian orang
lain menjadi tidak berdasar secara hukum.
Kasus ini
juga menjadi pengingat mengenai pentingnya etika dalam penggunaan kekuasaan.
Pejabat publik memiliki hak menjalankan fungsi pengawasan, tetapi pelaksanaan
fungsi tersebut harus menjunjung profesionalisme, proporsionalitas, dan
penghormatan terhadap martabat setiap orang. Di sisi lain, tenaga kesehatan
juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayanan sesuai standar profesi.
Hubungan antara pengawas dan pihak yang diawasi seharusnya dibangun melalui
dialog dan mekanisme yang jelas, bukan melalui pendekatan yang berpotensi
menimbulkan rasa takut.
Terlepas
dari bagaimana hasil penyelidikan nantinya, kasus dr. Icha membuka ruang
refleksi yang lebih luas lagi konkrit. Bahwasannya, institusi kesehatan perlu
memperkuat sistem perlindungan bagi tenaga medis yang menghadapi tekanan atau
konflik. Lembaga legislatif juga perlu memastikan bahwa fungsi pengawasan
dijalankan dengan etika dan tanpa tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai intimidasi
(Tambah lagi kunjungan saat itu, bukanlah agenda pengawasan atau kunjungan
kerja melainkan mengunjungi sanak keluarga yang sakit). Lebih disayangkan lagi,
karena datang sebagai keluarga namun yang ditonjolkan adalah power anggota
DPRnya sehingga teradapat kesan adanya abuse of power. Pada saat yang
sama, masyarakat perlu menahan diri untuk tidak menjatuhkan vonis kepada pihak
mana pun sebelum proses hukum selesai.
Kasus dr.
Icha bukan hanya persoalan tentang ada atau tidak adanya intimidasi, melainkan
juga tentang bagaimana kekuasaan, tekanan psikologis, kesehatan mental, etika
profesi, dan proses hukum saling beririsan. Dugaan keterlibatan anggota DPRD
merupakan aspek penting yang patut diselidiki secara tuntas. Namun, apakah
dugaan intimidasi tersebut menjadi faktor yang menyebabkan kematian dr. Icha
merupakan pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui pembuktian yang
komprehensif, berdasarkan fakta dan keterangan para ahli, bukan semata-mata
berdasarkan persepsi atau opini publik.
Pada
akhirnya, apa pun hasil penyelidikan, pelajaran terpenting dari kasus ini
adalah bahwa setiap bentuk komunikasi yang melibatkan relasi kuasa harus
dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dalam situasi tertentu, kata-kata dan
tindakan yang dianggap biasa oleh satu pihak dapat menjadi beban psikologis
yang sangat berat bagi pihak lain. Karena itu, empati, etika, dan penghormatan
terhadap martabat manusia harus selalu menjadi dasar dalam setiap pelaksanaan
kewenangan.
Rest In Peace dr.Icha.
SEPI
BERSAMA
(Oktoviana Irianti Berek)
Awalnya, hubungan Ara dan Axel
terasa seperti sebuah candaan.
Mereka bertemu di waktu yang
sama-sama membosankan. Tidak ada niat serius, tidak ada perasaan yang
benar-benar tumbuh. Ara menerima Axel hanya karena ia tidak ingin merasa sepi.
Baginya, memiliki pacar hanyalah cara agar ada seseorang yang bisa diajak chatting
saat malam terasa kosong.
Semua bermula dari obrolan
ringan yang terasa biasa saja. Ara sempat membuka Instagram Axel dan mencoba
mengenalnya lebih jauh. Namun semakin ia melihat kehidupan Axel, semakin ia
merasa laki-laki itu bukan tipe yang ia inginkan. Axel dikenal liar, sering
mabuk, dan hidup tanpa arah yang jelas. Tetapi entah kenapa, hubungan itu tetap
berjalan.
Mungkin karena Axel terlalu
serius. Dan mungkin karena Ara terlalu egois untuk menghentikannya sejak awal.
Beberapa minggu mereka sempat
hilang kabar. Namun setelah itu, mereka kembali chatting seperti biasa. Axel
mulai menunjukkan keseriusannya. Ia benar-benar ingin menjadikan Ara sebagai
pacarnya, sedangkan Ara masih menganggap semua itu hanya hubungan untuk
mengusir bosan.
Cara Ara membalas pesan selalu
singkat dan dingin. Tidak ada perhatian berlebih, tidak ada effort seperti
pasangan pada umumnya. Hingga suatu hari Axel berkata pelan kepadanya, “Kamu
itu seperti tidak menganggap kalau kita pacaran.”
Ara hanya diam. Karena
sebenarnya Axel benar.
Ara memang tidak pernah
benar-benar membuka hati untuknya.
Hari demi hari berlalu. Axel
tetap bertahan meskipun Ara terus bersikap cuek. Sampai akhirnya, hari yang
mengubah semuanya datang.
Hari Senin pagi setelah upacara
kampus selesai, Ara berjalan pulang ke asrama bersama temannya. Di tengah
perjalanan, mereka bertemu Axel. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tubuhnya
terlihat lemah. Ternyata semalaman Axel mabuk dan tidak tidur, tetapi tetap
memaksakan diri datang ke kampus.
Axel menghentikan langkah Ara di
jalan.
Ara hanya menatapnya sekilas,
menjawab seperlunya, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Dalam hati, rasa
risih Ara semakin besar. Ia memang tidak suka laki-laki pemabuk.
Saat itu Ara sadar bahwa ia
tidak bisa terus menjalani hubungan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.
Pernah suatu kali Ara berkata
kepada Axel, “Aku tidak akan minta putus. Tapi aku akan buat kamu tidak betah
dengan sifatku.”
Dan ternyata, ucapan itu
benar-benar terjadi.
Pada hari Selasa, 26 Mei 2026,
hubungan mereka berakhir. Bukan Ara yang meminta putus, melainkan Axel sendiri.
Namun bahkan di akhir hubungan
itu, Axel masih meminta maaf. “Takutnya selama ini aku buat kamu malu,”
katanya.
Ara hanya tersenyum kecil dan
menjawab pelan, “Aman saja. Tidak apa-apa.”
Karena jauh di dalam hatinya,
Ara tahu bahwa selama ini ia juga tidak pernah benar-benar hadir dalam hubungan
itu.
Kadang seseorang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan bahwa hubungan tanpa ketulusan hanya akan berubah menjadi luka. Dan dalam kisah Ara dan Axel, mereka sama-sama belajar bahwa rasa sepi bukan alasan untuk mempertahankan seseorang.
***Mahasiswi Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua
KOLKITA, Oelnitep – Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dilaksanakan mahasiswa Semester IV Kelas D, STP St. Petrus Keuskupan Atambua di Kapela Oelnitep pada selama dua hari, Sabtu-Minggu, (6-7/06/2026).
Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Selama dua hari, mahasiswa tidak hanya terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan dan kebersamaan, tetapi juga hidup bersama umat dengan tinggal di rumah-rumah keluarga setempat. Pengalaman ini menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar, berbagi dan merasakan secara langsung kehidupan umat dalam suasana persaudaraan yang hangat.
Kegiatan diawali pada hari Sabtu dengan keberangkatan mahasiswa dari kampus menuju Oelnitep dalam dua gelombang. Setibanya di lokasi, mahasiswa bersama anak-anak di Kapela, melaksanakan kerja bakti dengan membuat taman di depan kapela, khususnya di sekitar papan nama kapela. Selain itu, mahasiswa dan anak-anak mempersiapkan arena Malam Pentas Seni yang dipusatkan di lapangan kapela. Malam harinya berlangsung pentas seni yang menampilkan berbagai kreativitas mahasiswa, OMK, anak-anak, dan umat dalam suasana penuh sukacita dan kekeluargaan.
Selain mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, para mahasiswa juga ditempatkan di rumah-rumah umat untuk tinggal bersama keluarga setempat. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat berinteraksi secara lebih dekat dengan umat, mengikuti kehidupan sehari-hari mereka, mendengarkan berbagai kisah perjuangan hidup serta merasakan keramahan dan semangat persaudaraan yang kuat di tengah umat Oelnitep.
Pada hari Minggu, mahasiswa bertugas memimpin koor, lector dan pemazmur dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Setelah misa, kegiatan dilanjutkan dengan pertandingan bola voli putra-putri dan futsal putra-putri yang melibatkan mahasiswa, Orang Muda Katolik (OMK), serta umat setempat. Sore harinya, seluruh mahasiswa kembali ke kampus dengan membawa pengalaman dan kenangan yang berharga.
Bagi mahasiswa berinisial MNN, kegiatan di Oelnitep menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena memberikan kesempatan untuk belajar bekerja sama, berinteraksi langsung dengan umat serta merasakan kuatnya semangat kebersamaan. Menurutnya, malam kreasi menjadi momen yang paling berkesan karena melalui berbagai penampilan seni, mahasiswa dan umat dapat saling mengenal, menunjukkan bakat serta mempererat persaudaraan dalam suasana yang penuh kegembiraan.
Sementara itu, OT mengungkapkan bahwa pengalaman hidup bersama umat memberikan banyak pelajaran tentang semangat hidup, kerja keras dan nilai-nilai pemberdayaan. Ia mengaku terkesan melihat bagaimana umat Oelnitep tetap berusaha membangun kehidupan, mendidik anak-anak serta menjaga kebersamaan meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Dari kunjungan ke rumah-rumah umat dan kebersamaan yang terjalin selama tinggal bersama keluarga setempat, ia belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang mendengar, memahami dan belajar dari pengalaman hidup umat.
Pengalaman berbeda dibagikan oleh ST. Ia mengisahkan bahwa pada awal kegiatan sempat terjadi kesalahpahaman dengan beberapa teman. Namun, melalui kerja bersama menanam bunga, mereka belajar pentingnya saling memahami dan menjaga kebersamaan. Pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika tinggal bersama keluarga angkat yang menerima dirinya dengan penuh kasih. Keramahan keluarga tersebut membuatnya merasa seperti berada di rumah sendiri. Ia juga mengaku kagum melihat semangat umat dan bakat anak-anak Oelnitep yang aktif dalam berbagai kegiatan gerejani.
Hal senada disampaikan GPB. Menurutnya, kegiatan di Oelnitep menjadi ruang pembelajaran yang sangat berarti untuk mengembangkan sikap disiplin, tanggung jawab, kerja sama dan kepedulian terhadap sesama. Ia juga merasa terkesan dengan keluarga tempat ia tinggal karena meskipun sebelumnya tidak saling mengenal, hubungan persaudaraan dapat tumbuh melalui percakapan, cerita dan kebersamaan yang sederhana. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa persaudaraan sejati tidak selalu dibangun dari hubungan darah tetapi juga dari keterbukaan hati.
Bagi SKS, keramahan umat Oelnitep menjadi kesan yang paling kuat. Ia mengaku sangat senang karena umat menerima mahasiswa dengan penuh kehangatan, membuka rumah mereka serta berbagi cerita dan pengalaman hidup. Momen yang paling berkesan baginya adalah Malam Pentas Seni ketika anak-anak Oelnitep menampilkan berbagai acara termasuk tarian mereka dengan penuh percaya diri. Menurutnya, penampilan tersebut mengajarkan bahwa kehidupan menjadi indah ketika setiap orang mampu saling memberi warna bagi sesamanya.
Sementara itu, MYMN menilai bahwa kegiatan di Oelnitep memberikan kesempatan untuk belajar hidup bersama dalam keberagaman. Tinggal bersama keluarga umat dan mengikuti berbagai kegiatan bersama masyarakat membuatnya belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, serta semangat melayani. Selain itu, pengalaman doa bersama dan keterlibatan dalam liturgi membantu dirinya memperdalam kehidupan rohani dan menyadari pentingnya hidup dalam iman serta pelayanan kepada sesama.
Secara umum, para mahasiswa sepakat bahwa PkM di Oelnitep bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan sebuah pengalaman hidup yang mempertemukan mereka dengan nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, pelayanan dan iman yang nyata. Tinggal bersama keluarga-keluarga umat memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat, merasakan kehangatan keluarga sederhana serta belajar dari semangat hidup dan iman yang mereka miliki.
Kehangatan umat, semangat anak-anak dan OMK, keramahan keluarga-keluarga yang menerima mahasiswa di rumah mereka, serta kebersamaan yang terjalin selama dua hari menjadi kenangan yang akan terus mereka bawa dalam perjalanan hidup dan pelayanan mereka di masa depan.
PkM di Oelnitep mungkin telah berakhir, tetapi pelajaran tentang persaudaraan, pelayanan dan kemanusiaan yang mereka temukan akan tetap hidup dalam hati para mahasiswa. (YB)
Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.
Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.
Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.
Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.
“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.
Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.
Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.
Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)
Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik
TUMBUH
TEDUH
(Ani)
Hari ini usiamu genap satu
Langkahmu masih selembut embun pagi
Tawamu masih sebening langit sehabis hujan
Namun waktu diam-diam mulai menulis
Jalan panjang untuk hidupmu
Di hari permandianmu
Sebuah pohon kecil ditanam
Di tanah sunyi belakang Kapela
Akar-akarnya belajar memeluk bumi
Seperti dirimu belajar memeluk dunia
Kelak, ketika batangnya tumbuh kuat
Semoga hatimu pun bertumbuh teduh
Amplop putih itu
Tidak lahir dari kemewahan
Hanya cinta sederhana
Yang memilih tinggal
Disimpan rapi, dijaga sunyi
Berubah menjadi baju bahkan jubah
Yang menghangatkan tubuhmu
Pada musim-musim kehidupan
Nak,
Kelak dunia tidak selalu lembut
Ada suara yang melukai
Ada kehilangan tanpa aba-aba
Ada jalan panjang
Yang membuat kaki ingin berhenti
Namun lihatlah pohon itu
Tidak tumbuh dalam tepuk tangan
Tidak besar dalam pujian
Hanya bertahan
Dalam hujan, dalam panas
Dalam sepi panjang
Begitulah hidup seharusnya
Tetap baik meski dunia kadang keras
Tetap lembut meski hati pernah patah
Tetap menjadi cahaya meski malam terasa panjang
Semoga kelak
Langkahmu tidak hanya mencari tinggi
Tetapi juga mencari arti dan makna
Semoga tanganmu menjadi rumah ramah
Bagi orang-orang lelah dan tak berdaya
Semoga suaramu membawa tenang
Bagi hati yang lesu bahkan gaduh
Suatu hari nanti
Kau mungkin kembali
Berdiri dekat pohon itu
Melihat batangnya membesar
Menyadari satu hal sederhana
Bahwa sejak usia pertamamu
Ada cinta yang ditanam bersamamu
Tumbuh diam-diam
Berakar sangat dalam
Tidak mati oleh waktu
Selamat ulang tahun pertama
Anak kecil kesayanganku
Semoga hidupmu bertumbuh
Seteduh pohon itu
Setulus amplop putih itu
Setenang doa-doa
Yang diam-diam menjagamu
Seumur hidupmu
***Untuk dikenang, malam di pinggir
hutan,
dua mama satu motor plus hadiah,
laptop dan kata Ani, cinta tak pernah
mati
Jumat, 29 Mei 2026.
PIKULAH DAN BELAJARLAH
Za. 9:9–10; Mat. 11:25–30
Setiap orang
memikul "kuk" dalam hidupnya. Ada yang memikul kuk karena ekonomi
yang semakin sulit. Ada orang tua yang memikul beban mendidik anak-anaknya. Ada
imam atau biarawan/ti yang berjuang mempertahankan hidup imamat dan janji kaul
kesetiaannya. Ada pasangan suami-istri yang sedang berjuang mempertahankan
keluarganya. Ada kaum muda yang gelisah memikirkan masa depan. Ada pula yang
tersenyum di depan banyak orang, tetapi diam-diam sedang memikul luka yang
tidak diketahui siapa pun.
Sering kali
kita berdoa, "Tuhan, angkatlah beban ini." Namun, Injil hari ini
memberikan jawaban yang mungkin tidak kita duga. Yesus tidak berkata, "Aku
akan menghapus semua bebanmu." Sebaliknya, Ia berkata, "Pikullah kuk
yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku."
Mengapa Yesus
justru berbicara tentang kuk? Pada zaman Yesus, kuk adalah balok kayu yang
dipasang pada leher dua ekor lembu agar keduanya menarik bajak bersama-sama.
Kuk memang tidak menghilangkan pekerjaan yang berat, tetapi membuat pekerjaan
itu dapat dijalani bersama. Lembu yang lebih kuat membantu lembu yang lebih lemah
sehingga keduanya dapat terus melangkah.
Di sinilah
letak keindahan sabda Yesus. Ketika Yesus berkata, "Pikullah kuk-Ku,"
Yesus tidak sedang menambahkan beban baru. Yesus sedang berkata, "Jangan
lagi memikul hidupmu sendirian. Biarkan Aku berjalan bersamamu." Inilah
yang sudah dinubuatkan Nabi Zakharia. Mesias yang dijanjikan bukanlah raja yang
datang dengan kereta perang dan pasukan bersenjata. Ia datang mengendarai
seekor keledai, lambang kerendahan hati dan kedamaian. Raja ini tidak
menaklukkan manusia dengan kekuatan tetapi memenangkan hati manusia dengan
kasih.
Yesus adalah
Raja seperti itu. Ia tidak memerintah dari kejauhan. Ia turun masuk ke dalam
kehidupan manusia. Ia mengenal air mata, kelelahan, penolakan bahkan
penderitaan. Karena itu, ketika Yesus berkata, "Marilah kepada-Ku,"
Ia mengundang kita datang kepada Pribadi yang mengerti penderitaan kita bukan
sekadar memahami secara teori.
Lalu Yesus
menambahkan satu kalimat yang sering kita lewatkan: "Belajarlah
kepada-Ku." Belajar apa? Yesus tidak berkata, "Belajarlah bagaimana
menjadi kaya." Ia juga tidak berkata, "Belajarlah bagaimana menjadi
berkuasa." Yang Yesus katakan justru, "Belajarlah kepada-Ku, karena
Aku lemah lembut dan rendah hati." Inilah pelajaran seumur hidup seorang
murid Kristus.
Sering kali
kita ingin mengubah dunia tetapi lupa mengubah hati sendiri. Kita ingin orang
lain berubah tetapi sulit belajar sabar. Kita ingin dihormati tetapi enggan
merendahkan diri. Kita ingin menang dalam setiap perdebatan tetapi lupa bahwa
kasih sering kali lebih kuat daripada kemenangan.
Yesus
mengajarkan bahwa hati yang lemah lembut bukanlah hati yang lemah. Justru hanya
orang yang kuat yang mampu mengampuni, bersabar dan tetap mengasihi ketika
disakiti. Karena itu Yesus berkata, "Kuk yang Kupasang itu enak dan
beban-Ku pun ringan."
Apakah menjadi
murid Kristus berarti hidup tanpa masalah? Tidak. Orang beriman tetap mengalami
sakit, kehilangan, kegagalan bahkan salib. Yang berubah bukan selalu keadaan
hidup kita. Yang berubah adalah cara kita menjalaninya. Seseorang yang memikul
beban sendirian mudah putus asa. Tetapi orang yang berjalan bersama Kristus
menemukan kekuatan yang tidak dimilikinya sebelumnya.
Hari ini
mungkin Tuhan tidak langsung mengangkat semua persoalan kita. Namun, Ia
memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia memberikan diri-Nya sendiri. Dan
ketika Kristus berjalan bersama kita, beban yang sama tidak lagi terasa sama. Karena
kasih selalu membuat beban menjadi lebih ringan. Maka pulanglah sebentar dengan
satu pertanyaan sederhana, selama ini saya memikul beban hidup bersama siapa?
Jika beban
yang dipikul hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita akan cepat lelah. Tetapi
jika bersama Kristus, kita akan tetap mampu melangkah, sebab Dialah Raja yang
lemah lembut, yang tidak pernah membiarkan seorang murid berjalan sendirian.
Karena Dia selalu mengajak kita saat demi saat, "Marilah kepada-Ku, semua
yang letih lesu dan berbeban berat; Aku akan memberikan kelegaan
kepadamu." (Mat. 11:28).
Beban hidup tidak selalu menjadi lebih ringan karena berkurang, tetapi karena dipikul bersama Kristus. Dan Kristus Tuhan tidak selalu mengangkat salib kita, tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita memikulnya sendirian. Di situlah kuk Kristus menjadi ringan dan hati menemukan kelegaan. Semoga kita berani datang kepada-Nya, memikul kuk bersama-Nya, dan setiap hari belajar memiliki hati yang semakin serupa dengan hati Kristus. Amin.
***Renungan HMB XIV, samping hutan di batas kota, 5 Juli 2026
Setiap tahun akademik menawarkan sebuah
cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka,
melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil.
Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut
tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan
keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah
daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka
sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.
Jika kita membaca data-data evaluasi diri
secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik
semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan
menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik
emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang
besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.
Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu,
ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang
perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.
1.
Pelajaran Besar dari Data
Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga
pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan
diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa,
tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi
kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil,
konsisten dan berulang.
Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar
yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa
“tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka
membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.
Ketiga, distraksi digital adalah musuh
terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi
pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri
waktu belajar.
2.
Apa Maknanya?
Melihat kejujuran mahasiswa, kita
diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog
humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I
accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik,
ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).
Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan
sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka
pintu perubahan.
Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti
ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…,
Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah
ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka
jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.
3.
Titik Balik
Melalui data ini kita belajar satu hal
penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah
kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit
menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju
sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan
diam di tengah hiruk-pikuk.
Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik
hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi
menumbuhkan manusia.
4.
Puncak Refleksi
Di tengah kelemahan dan pergulatan yang
tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah
perjalanan spiritual.
Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam,
dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui
kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu
ditolong”.
Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi
undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk
diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah” (Roma 12:2).
Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi
peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen
untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.
Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah
tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat
keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia
matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi
kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan
pemulihan yang tak pernah dibayangkan.
Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.
**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.
MALAM JUMAT YANG PANJANG
MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)
Oleh: Lena Salu
Teruntukmu Celine, di bilik penantian
Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.
Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.
Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.
Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.
NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.
Aku yang mengasihimu dari jauh,
(.................)
**********
Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.
Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.
Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.
Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.
*********
Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.
Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.
Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.
************
Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.
Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.