• Hari ini: October 19, 2026
Nasional

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS  UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

(RP. Frans Funan, SVD)


"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).

    Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.

    Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah  sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.

    Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.

    Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri. 

    Maka  imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak  menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.

    Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.

    Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.

    Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah,  bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.

    Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.

    Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman  Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).

Opini

SUARA KERAS, HATI YANG LEMBUT

SUARA KERAS, HATI YANG LEMBUT

Catatan Reflektif Empat Puluh Tahun Imamat Rm. Aloysius Kosat, Pr.

Yasinta Carla Bria

 

    Seratus lima imam hadir dalam perayaan Ekaristi syukur empat puluh tahun imamat Rm. Aloysius Kosat, Pr., di Usapi Baamfaun, tanah kelahirannya, pada 19 Oktober 2026. Di tengah kebersamaan para imam dan umat, Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., memimpin perayaan yang menghadirkan lebih dari sekadar kenangan. Empat dasawarsa pengabdian dibawa kembali ke hadapan altar sebagai ungkapan syukur atas panggilan yang terus diperjuangkan. Sabda Yesus menjadi pusat permenungan: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:28).

    Empat puluh tahun bukan sekadar angka. Ada pengorbanan yang tidak tercatat, kesulitan yang dilalui dan doa yang hanya diketahui Tuhan. Namun kedalaman imamat tidak terutama ditentukan oleh panjangnya pengabdian melainkan oleh kesetiaan menghidupi panggilan. Seorang imam tidak menjadi besar karena lamanya melayani tetapi karena hidupnya semakin menjadi pelayanan.

    Dalam kata pembukaannya, Uskup menyampaikan ungkapan yang begitu kuat menggambarkan pribadi sang yubilaris: “Romo Alo ini, suaranya keras tetapi hatinya selembut salju.” Di balik ketegasan terdapat perhatian. Di balik disiplin tersimpan tanggung jawab. Kepribadian ini memperlihatkan bahwa ketegasan dan kelembutan tidak harus bertentangan. Ketegasan menjaga prinsip, kelembutan menjaga manusia. Keduanya memperoleh martabat ketika dijalankan dengan kasih.

    Kesetiaan tersebut berakar pada nilai-nilai keluarga, ditempa oleh pengalaman dan dimatangkan melalui berbagai tugas perutusan. Bagi Rm. Alo, kesiapan diutus bukan sekadar kesediaan berpindah tempat melainkan keberanian menyerahkan diri kepada kebutuhan pelayanan. Seorang imam tidak hanya belajar menerima tempat tugas tetapi juga mencintai manusia yang dipercayakan kepadanya.


    Dalam sambutannya, Rm. Alo mengenang perjalanan pastoral di Paroki Betun, Besikama, Maubesi, Santa Theresia Kefamenanu hingga Seon. Namun yang menarik bukan semata-mata deretan tempat pengabdian itu. Sang yubilaris justru memberi perhatian besar pada pendidikan asrama. Beliau bahkan menyebut sejumlah orang yang pernah dibinanya. Kenangan tersebut menyimpan pesan penting bahwa pelayanan tidak hanya meninggalkan sejarah tetapi juga membentuk manusia. Seorang imam dapat meninggalkan tempat tugasnya tetapi nilai yang pernah ditanam dapat terus hidup dalam diri mereka yang dididiknya.

    Asrama, dalam pengalaman pastoral itu, bukan sekadar tempat tinggal. Asrama menjadi sekolah kehidupan untuk melahirkan kader-kader berkualitas untuk Gereja dan bangsa. Di sana disiplin dibentuk, tanggung jawab dilatih, kemandirian ditumbuhkan dan kebersamaan dipelajari. Pendidikan tidak selesai ketika seseorang mampu menjawab soal tetapi ketika pengetahuan membentuk cara hidup. Sekolah mencerdaskan pikiran, pembinaan karakter mendewasakan manusia. Keberhasilan seorang pendidik bukan terutama ketika anak-anak patuh di hadapannya melainkan ketika mereka tetap hidup dengan nilai-nilai baik setelah berjalan sendiri.

    Ketegasan Rm. Alo juga tampak ketika memberi pengajaran kepada umat. Hal ini diangkat oleh Rm Lusius Tae Mau, Pr sebagai pengkotbah dalam perayaan ini dengan ungkapan Bahasa Meto, “Hom nao he misa mes-mes me ho mnao he mfesek onle sabuik” (Engkau pergi doa sendiri-sendiri, tapi bila ke pesta seperti semut). Artinya Ketika orang berdoa, kehadiran manusia tidak banyak, namun Ketika hajatan pesta kehadiran manusia begitu banyak. Ungkapan sederhana ini menyentuh persoalan yang lebih dalam daripada kehadiran dalam ibadat. Manusia sering memiliki banyak waktu untuk sesuatu yang menyenangkan tetapi begitu sedikit waktu untuk sesuatu yang memberi makna. Teguran itu mengajak umat menata kembali prioritas hidup dan kedekatan dengan Tuhan.

    Di balik ketegasan tersebut, kesederhanaan tetap menjadi kekuatan pelayanan. Rm. Alo memberi bukan karena selalu memiliki kelebihan melainkan karena bersedia berbagi dari apa yang dimilikinya. Di sinilah kasih memperoleh wujud yang paling manusiawi. Kebaikan tidak menunggu seseorang memiliki banyak hal. Kebaikan dimulai ketika hati bersedia memberikan sesuatu.

    Uskup menghubungkan empat puluh tahun imamat dengan empat puluh tahun perjalanan Israel di padang gurun. Perbandingan ini mengandung kedalaman rohani. Padang gurun bukan sekadar tempat kekurangan melainkan ruang pemurnian dan pembentukan kesetiaan. Demikian pula imamat. Ada musim yang subur, ada masa yang gersang. Ada keberhasilan yang menggembirakan, ada pengorbanan yang tidak segera berbuah. Kesetiaan bukan berarti jalan selalu mudah melainkan hati tidak kehilangan arah ketika perjalanan menjadi sulit.


    Perayaan empat puluh tahun imamat Rm. Alo akhirnya menjadi cermin bagi para imam, pendidik, keluarga dan seluruh umat. Kewibawaan tidak harus dibangun melalui kekuasaan. Ketegasan tidak boleh kehilangan kelembutan. Pendidikan tidak cukup menghasilkan kecerdasan tanpa karakter. Pelayanan pun tidak boleh berubah menjadi keinginan untuk dihormati. Yesus telah memperlihatkan jalan yang berbeda. Sang Guru berlutut dan membasuh kaki para murid-Nya. Dalam Kerajaan Allah, kebesaran menemukan martabatnya justru ketika seseorang bersedia merendahkan diri untuk melayani.

    Barangkali warisan paling berharga dari empat puluh tahun imamat Rm. Alo bukan terutama banyaknya pekerjaan yang diselesaikan atau tempat yang pernah dilayani. Warisan itu hidup dalam manusia yang pernah didampingi, anak-anak asrama yang pernah dibina dan nilai-nilai yang terus bertumbuh melampaui masa pengabdiannya. Pelayanan yang bermakna tidak selalu meninggalkan bangunan besar. Kadang warisan terbesarnya adalah manusia yang bertumbuh menjadi pribadi yang baik.

    Imamat bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di hadapan umat. Melainkan seberapa rendah hatinya bersedia membungkuk untuk melayani. Dan ketika suara yang keras suatu hari menjadi lirih, semoga kasih yang pernah disuarakannya tetap bergema. Bukan hanya dalam kenangan tetapi dalam karakter, tanggung jawab dan kehidupan generasi yang pernah dibentuknya.

Sebab suara dapat berhenti terdengar tetapi kehidupan yang dibentuk oleh kasih akan terus berbicara bahkan setelah sang pendidik selesai mengucapkan kata-katanya.

Cerpen

SEPI BERSAMA

SEPI BERSAMA

(Oktoviana Irianti Berek)

 

Awalnya, hubungan Ara dan Axel terasa seperti sebuah candaan.

Mereka bertemu di waktu yang sama-sama membosankan. Tidak ada niat serius, tidak ada perasaan yang benar-benar tumbuh. Ara menerima Axel hanya karena ia tidak ingin merasa sepi. Baginya, memiliki pacar hanyalah cara agar ada seseorang yang bisa diajak chatting saat malam terasa kosong.

Semua bermula dari obrolan ringan yang terasa biasa saja. Ara sempat membuka Instagram Axel dan mencoba mengenalnya lebih jauh. Namun semakin ia melihat kehidupan Axel, semakin ia merasa laki-laki itu bukan tipe yang ia inginkan. Axel dikenal liar, sering mabuk, dan hidup tanpa arah yang jelas. Tetapi entah kenapa, hubungan itu tetap berjalan.

Mungkin karena Axel terlalu serius. Dan mungkin karena Ara terlalu egois untuk menghentikannya sejak awal.

Beberapa minggu mereka sempat hilang kabar. Namun setelah itu, mereka kembali chatting seperti biasa. Axel mulai menunjukkan keseriusannya. Ia benar-benar ingin menjadikan Ara sebagai pacarnya, sedangkan Ara masih menganggap semua itu hanya hubungan untuk mengusir bosan.

Cara Ara membalas pesan selalu singkat dan dingin. Tidak ada perhatian berlebih, tidak ada effort seperti pasangan pada umumnya. Hingga suatu hari Axel berkata pelan kepadanya, “Kamu itu seperti tidak menganggap kalau kita pacaran.”

Ara hanya diam. Karena sebenarnya Axel benar.

Ara memang tidak pernah benar-benar membuka hati untuknya.

Hari demi hari berlalu. Axel tetap bertahan meskipun Ara terus bersikap cuek. Sampai akhirnya, hari yang mengubah semuanya datang.

Hari Senin pagi setelah upacara kampus selesai, Ara berjalan pulang ke asrama bersama temannya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Axel. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tubuhnya terlihat lemah. Ternyata semalaman Axel mabuk dan tidak tidur, tetapi tetap memaksakan diri datang ke kampus.

Axel menghentikan langkah Ara di jalan.

Ara hanya menatapnya sekilas, menjawab seperlunya, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Dalam hati, rasa risih Ara semakin besar. Ia memang tidak suka laki-laki pemabuk.

Saat itu Ara sadar bahwa ia tidak bisa terus menjalani hubungan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.

Pernah suatu kali Ara berkata kepada Axel, “Aku tidak akan minta putus. Tapi aku akan buat kamu tidak betah dengan sifatku.”

Dan ternyata, ucapan itu benar-benar terjadi.

Pada hari Selasa, 26 Mei 2026, hubungan mereka berakhir. Bukan Ara yang meminta putus, melainkan Axel sendiri.

Namun bahkan di akhir hubungan itu, Axel masih meminta maaf. “Takutnya selama ini aku buat kamu malu,” katanya.

Ara hanya tersenyum kecil dan menjawab pelan, “Aman saja. Tidak apa-apa.”

Karena jauh di dalam hatinya, Ara tahu bahwa selama ini ia juga tidak pernah benar-benar hadir dalam hubungan itu.

Kadang seseorang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan bahwa hubungan tanpa ketulusan hanya akan berubah menjadi luka. Dan dalam kisah Ara dan Axel, mereka sama-sama belajar bahwa rasa sepi bukan alasan untuk mempertahankan seseorang.

***Mahasiswi Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua

Daerah

RUA VII PERPETAKI DITUTUP, PENGURUS BARU DILANTIK DI NAESLEU

KOLKITA-Kefamenanu, Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik (PERPETAKI) menutup rangkaian Hari Studi dan Rapat Umum Anggota (RUA) VII melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, Pater Vinsensius Wun, SVD, di Gereja Santo Yohanes Pemandi Naesleu, Kefamenanu, Minggu (18/10/2026). Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum pelantikan Badan Pengurus Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik (PERPETAKI) periode 2026–2029.

    Misa penutupan dihadiri Pastor Paroki Naesleu, Rm. Gabriel Alos, Pr., bersama para imam konselebran, Ketua Yayasan Snuna, Rm. Gabriel Bouk, Pimpinan PERPETAKI, RD. Dr. Florens Maxi Un Bria, para pimpinan Sekolah Tinggi Pastoral se-Indonesia beserta pengurus, sivitas akademika STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, serta umat Paroki Naesleu. Paduan suara gabungan mahasiswa tingkat I–III STP Santo Petrus turut memeriahkan perayaan Ekaristi.

    Dalam perayaan tersebut, Pater Vinsen menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pimpinan perguruan tinggi Katolik dari berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, perjumpaan tersebut menjadi kehormatan tersendiri bagi Gereja lokal.

    “Misa ini adalah suatu kehormatan besar bagi Keuskupan Atambua khususnya umat Paroki Naesleu, karena pada hari ini hadir di tengah-tengah kita orang-orang penting yang datang dari perguruan tinggi agama Katolik seluruh Indonesia,” ungkapnya.


    Salah satu agenda penting dalam misa penutupan ialah pelantikan Badan Pengurus PERPETAKI periode 2026–2029. Prosesi diawali dengan pembacaan berita acara hasil pemilihan oleh Dr. Anselmus Yata Mones, S.Fil., M.Pd., selaku panitia pemilihan. Pemilihan badan pengurus baru berlangsung di Hotel Livero, Jumat (17/10/2026).  

    Pengurus baru PERPETAKI periode 2026-2029 dilantik oleh Dewan Pembina PERPETAKI Dr. Drs. Paulus Setyo Istandar Tan, BA, M.Th dari STPK St. Yohanes Rasul Jayapura. Momentum tersebut menandai dimulainya tanggung jawab kepengurusan baru dalam memperkuat kerja sama, mutu pendidikan dan arah pengembangan perguruan tinggi agama Katolik di Indonesia.

    Badan pengurus baru yang dilantik sebagai berikut: Dr. Florens Maxi UN Bria, S. Ag, M. Sos (Ketua) dari STIPAS Keuskupan Agung Kupang, Dr. Sunarso. S.T. M.Eng (Sekretaris) dari STAKAT Negeri Pontianak, Dr. Agustinus Sem Porak, M.Hum (Bendahara) dari STIKPAR Toraja, Dr Dominikus Doni Ola (Anggota) dari STP Dian Mandala Gunung Sitoli Nias dan Philipus Benitius Metom, S.Ag. M.Hum (Anggota).

    Rangkaian acara juga diisi dengan sambutan Ketua STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Ketua PERPETAKI terpilih, serta Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua.

    Misa penutupan menjadi puncak rangkaian kegiatan PERPETAKI yang berlangsung sejak Kamis (15/10/2026). Kegiatan diawali dengan penjemputan peserta dan misa pembukaan di Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu.


    Pada Jumat (16/10/2026), peserta mengikuti seminar ilmiah bertema, “Membangun Peradaban Ekologis melalui Pendidikan Katolik untuk Indonesia Emas 2045” di Aula Mgr. Sulama, STP Santo Petrus Keuskupan Atambua.

    Tema tersebut menempatkan pendidikan Katolik dalam tanggung jawab membentuk manusia yang berkarakter, memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta mampu membangun hubungan yang bertanggung jawab dengan alam dan sesama.

    Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peresmian dan pemberkatan Gua Santa Maria Fatima di lingkungan kampus STP Santo Petrus. Pada malam harinya, para anggota PERPETAKI melaksanakan Rapat Umum Anggota di Hotel Livero, Kefamenanu.

    Kegiatan nasional ini mendapat dukungan Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, A.M. Adiyarto Sumardjono, S.E., M.Hum., serta seluruh anggota PERPETAKI.

    Berakhirnya Hari Studi dan RUA VII PERPETAKI tidak hanya menandai pergantian kepengurusan organisasi tetapi juga mempertegas tanggung jawab perguruan tinggi Katolik dalam membentuk generasi yang beriman, berkarakter dan peduli terhadap keberlanjutan kehidupan.

    Dari Kefamenanu, semangat membangun peradaban ekologis melalui pendidikan Katolik diharapkan terus berkembang menjadi komitmen bersama menuju Indonesia Emas 2045. (ES/AO)

Internasional

Internasional

PAUS FRANSISKUS MEMPROMULGASIKAN ENSIKLIK BARU: "DILEXIT NOS", TENTANG HATI KUDUS YESUS

Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.

Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.

Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.

“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.

Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.

Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.

Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)


Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik

Puisi

J E J A K K A S I H

J E J A K    K A S I H

Catatan akhir hari ini-KU

 

Dua puluh tahun silam
di keheningan altar
saya menitipkan hati yang rapuh
kepada Cinta yang tak pernah rapuh

Sejak itu,
waktu mengajari saya membaca Injil
pada wajah-wajah sederhana
pada luka yang merindukan pelukan
pada kesetiaan yang tumbuh tanpa tepuk tangan

Di antara buku dan wajah-wajah muda
saya belajar menabur cahaya
Di ruang konsep, pikiran membuka cakrawala
di ruang kehidupan, tangan menyentuh kenyataan
Sebab ilmu membutuhkan kaki untuk melangkah
dan iman membutuhkan hati untuk mengasihi

Di antara pena, linggis dan tofa
gitar bernyanyi di kehijauan sayuran
Keringat menyirami cita-cita
kesunyian merawat kedalaman
dan tanah mengajari mimpi
agar tumbuh tanpa kehilangan kerendahan hati

Dari tanah kering 
saya belajar mengeja rahasia kehidupan
batu tak selalu mematahkan akar
kemarau tak selalu menguburkan harapan
dan kasih masih mampu berbunga
di tanah yang kehilangan hujan

Kini, dua puluh tahun berlalu
Saya bukan pohon yang selesai berbuah
hanya penanam kecil
yang masih belajar setia kepada musim

Ada doa yang belum sempurna
ada harapan yang belum berbunga
ada tangan yang mulai lelah
tetapi belum ingin berhenti memberi

Kelak,
ketika pena kehilangan aksara
gitar menyimpan nada terakhir
dan tangan kembali menjadi tanah
semoga kasih tetap tinggal
sebagai jejak paling sunyi
dari seluruh perjalanan

Tuhan,
jika hari ini Engkau kembali bertanya
jawaban saya masih sama
meski kini lebih lirih
dan lebih dalam

“Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau”

Sebab,
dua puluh tahun akhirnya mengajari saya
Bukan tangan saya yang begitu kuat menggenggam-Mu
melainkan tangan-Mu
yang tak pernah melepaskan saya 

***Di bawah pohon depan rumah ini, menuju akhir hari ini, tabe ma nek seunbanit namfau USI 
Renungan

BATU PENJURU

BATU PENJURU

Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

    Ada ironi yang halus dalam Injil ini. Para penggarap kebun anggur bukanlah orang asing. Mereka justru dipercaya mengelola milik tuannya. Namun kepercayaan itu perlahan berubah menjadi rasa memiliki. Mereka mulai bertindak seolah-olah kebun itu adalah hasil jerih payah mereka sendiri. Setiap utusan yang datang dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai pengingat. Bahkan anak pemilik kebun pun dibunuh demi mempertahankan apa yang sebenarnya bukan milik mereka (Mat. 21:33–39). Itulah sebabnya Yesus menutup perumpamaan ini dengan mengutip Mazmur, "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru" (Mat. 21:42).

    Banyak orang mengira batu penjuru adalah batu pertama yang diletakkan ketika membangun rumah. Bukan. Batu pertama hanya menandai dimulainya pembangunan. Batu penjuru menentukan arah seluruh bangunan. Di atas batu itulah garis, sudut dan keseimbangan bangunan diukur. Jika batu pertama bersifat simbolis, batu penjuru bersifat menentukan.

    Secara eksegetis, batu penjuru adalah batu yang menentukan arah dan kekokohan seluruh bangunan. Ketika batu itu ditolak, bangunan kehilangan pusatnya. Demikian pula hidup manusia, saat Kristus disingkirkan dari pusat kehidupan, segala sesuatu mungkin masih tampak berdiri tetapi perlahan kehilangan arah dan makna.

    Sering kali kita tidak menolak Kristus dengan kata-kata melainkan dengan cara hidup. Kita memberi ruang bagi-Nya pada hari Minggu tetapi keputusan-keputusan penting justru ditentukan oleh ambisi, gengsi, keuntungan atau penilaian orang lain. Kristus tidak lagi menjadi batu penjuru melainkan hanya batu hiasan yang diletakkan di sudut kehidupan. 

    Sabda hari ini mengundang kita untuk mengembalikan Yesus ke tempat yang semestinya, pusat hati, pusat keluarga, pusat pelayanan, dan pusat setiap pilihan hidup. Sebab hidup yang dibangun di atas Kristus mungkin tetap menghadapi badai tetapi tidak akan kehilangan fondasinya. Ketika Kristus menjadi batu penjuru, hidup bukan hanya kokoh tetapi juga menjadi tempat di mana orang lain dapat menemukan harapan dan mengalami kasih Allah.


Renungan HMB XXVIIA, hutan keramat, 04/10/2026

Serba Serbi

Serba Serbi

KEJUJURAN MENGANTAR PERTUMBUHAN

Setiap tahun akademik menawarkan sebuah cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka, melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil. Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.

Jika kita membaca data-data evaluasi diri secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.

Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu, ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.

1. Pelajaran Besar dari Data

Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa, tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil, konsisten dan berulang.

Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa “tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.

Ketiga, distraksi digital adalah musuh terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri waktu belajar.

2. Apa Maknanya?

Melihat kejujuran mahasiswa, kita diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik, ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).

Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka pintu perubahan.

Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…, Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.

3. Titik Balik

Melalui data ini kita belajar satu hal penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan diam di tengah hiruk-pikuk.

Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi menumbuhkan manusia.

4. Puncak Refleksi

Di tengah kelemahan dan pergulatan yang tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah perjalanan spiritual.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu ditolong”.

Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah” (Roma 12:2).

Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.

Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan pemulihan yang tak pernah dibayangkan.

Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.


**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.


Cerita Bersambung

Cerita Bersambung

MALAM JUMAT YANG PANJANG (Part. 5)

MALAM JUMAT YANG PANJANG

MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)

Oleh: Lena Salu


    Terhitung sudah hampir tujuh bulan aku menjalani rutinitas perkuliahan dengan efektif sampai aku tak menyangka waktu terasa begitu singkat dan pendek. Kebiasaan nongkrong ngopi di pojok cafe dan pesta bareng teman-teman kampusku di klub-klub hampir tak pernah kudatangi. Mungkin aku takkan pernah merindukan momen-momen itu lagi, atau belum waktunya tuk kupikirkan sebagai salah satu SKS tambahan dalam roster harianku yang terus mengejarku untuk menyelesaikan tugasku yang hampir serumit rumus kalkulus. Yang ada sekarang di depanku hanyalah laptop ditemani tumpukan buku cetak beserta catatan-catatan yang tak pernah berkurang dari galeri kamarku.
    Kesibukanku semakin tampak gila membuatku bahkan tak sempat membaca balasan surat dari sahabatku...  yang sudah seminggu dihantar pak pos. Surat itu masih utuh tersegel rapi dalam keranjang surat di bilikku. Aku tak pernah melirik ke sana dan menyempatkan sedikit waktu tuk membacanya. Entah aku yang salah atau aku yang hampir lupa? Aku tak dapat menyalahkan pak pos. Entahlah, aku hanya bisa sedikit menyalahkan diriku yang sama sekali lupa akan hal ini.
    Kuraih amplop kecil itu dengan cepat dan lantas tak memperhatikan lagi perangko di depannya yang sebenarnya adalah hal pertama yang biasanya kulakukan sebelum membukanya setiap kali aku mendapatkan surat. Aku selalu mengoleksinya sebagai sesuatu yang paling berharga dan berarti bagiku. Kali ini aku melanggarnya dan cepat-cepat menggunting sudutnya. Kutarik surat kecil di dalamnya dan kaki ini ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Aku mendapati sebuah Rosario merah dan juga sebuah flashdisk Michy Mouse berbentuk lucu dengan gantungan hati.
    Waoooww kutarik napas dalam dan sedikit menahan diriku yang berguncang hebat. Apakah ini? Aku bertanya dalam hati dan menebak isi dari flashdisk tersebut. Mengapa baru hari ini aku termotivasi untuk membuka amplop ini? Sedangkan waktunya sudah hampir seminggu yang lalu. Ohhh aku membayangkan berapa lama ia menunggu balasanku dari jauh. Mungkinkah ia menyesalinya dan menganggapku manusia dan sahabat yang paling tidak beradab dalam pandangannya? Akankah ia menyeretku keluar dari daftar sahabatnya yang pernah ia jumpai di atas planet bumi ini dan membiarkanku mengembara tanpa tujuan yang pasti?
    Ohhh semoga tak seperti yang sedang berputar-putar  dalam fantasiku saat ini. Aku berharap ia masih menanti sebuah amplop kecil yang akan ku kirimkan beberapa hari kedepannya setelah aku menyelesaikannya. *****

 Teruntukmu Celine, di bilik penantian

Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.

Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.

Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu  disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.

Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.


NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.

Aku yang mengasihimu dari jauh,

(.................)

********** 

Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.

Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.

Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.

Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.

*********

Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.

Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.

Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.

************

Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.

Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.

Video