• Hari ini: October 18, 2026
Nasional

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS  UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

(RP. Frans Funan, SVD)


"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).

    Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.

    Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah  sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.

    Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.

    Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri. 

    Maka  imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak  menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.

    Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.

    Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.

    Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah,  bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.

    Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.

    Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman  Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).

Opini

DUA PULUH TAHUN, SATU JAWABAN CINTA

DUA PULUH TAHUN, SATU JAWABAN CINTA

Catatan Kaki Perjalanan: Dari Tanah Kering Kami Bernyanyi

18 Oktober 2006 – 18 Oktober 2026

 

    Dua puluh tahun telah berlalu. Waktu mengubah banyak hal. Usia bertambah. Tempat pengabdian berganti. Pengalaman meninggalkan jejaknya. Namun ada satu pertanyaan yang tetap tinggal di kedalaman hati, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:17). Pertanyaan Yesus kepada Petrus itu menjadi pintu masuk perjalanan imamat saya. Bukan karena saya telah memiliki kasih yang sempurna melainkan karena saya percaya bahwa Tuhan mengenal hati manusia, bahkan ketika manusia belum sepenuhnya mengenal dirinya sendiri. Maka di hadapan altar, saya memilih sebuah jawaban sederhana sebagai motto tahbisan, “Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau.” Dua puluh tahun kemudian, kalimat itu tetap menjadi tempat saya pulang. Terutama ketika langkah mulai lelah, harapan diuji dan kesetiaan harus diperjuangkan dalam diam.

    Pada 18 Oktober 2006, di Gereja Santa Theresia Kefamenanu, saya menerima tahbisan imamat melalui penumpangan tangan Mgr. Anton Pain Ratu, SVD. Bersama Rm. Apolinaris Bouk, Pr., Rm. Primus Seran, Pr., dan sejumlah saudara seangkatan, kami menjadi angkatan imam terakhir yang ditahbiskan pada masa kepemimpinan beliau sebagai Uskup Atambua, sebelum tongkat kegembalaan diteruskan kepada Mgr. Dominikus Saku, Pr. Hari itu menjadi salah satu simpul penting dalam sejarah hidup saya. Tangan seorang gembala ditumpangkan di atas kepala tetapi sesungguhnya seluruh kehidupan sedang diserahkan ke dalam tangan Tuhan. Saya belum mengetahui seluruh jalan yang akan dilalui. Namun satu hal mulai saya pahami yakni tahbisan berlangsung sehari, sedangkan kesetiaan harus ditulis sepanjang hidup.

    Paroki Kiupukan menjadi tanah pertama tempat benih imamat itu ditanam. Selama dua tahun sebagai imam muda, saya belajar bahwa kehidupan umat sering kali lebih luas daripada halaman buku teologi. Di sana iman tidak selalu hadir dalam rumusan yang indah. Kadang iman berbicara melalui air mata, kerja keras, doa sederhana dan ketabahan menghadapi kesulitan. Ada penderitaan yang tidak membutuhkan banyak penjelasan tetapi kehadiran. Ada kegembiraan yang menjadi lebih bermakna ketika dibagikan. Ada pula kehidupan yang mengajarkan bahwa kasih tidak cukup diwartakan dari mimbar. Kasih harus memiliki kaki untuk berjalan, tangan untuk bekerja dan hati untuk mendengarkan. Saya datang sebagai imam yang hendak melayani umat. Namun melalui kehidupan umat, Tuhan justru terus mendidik saya.

    Perjalanan kemudian membawa saya kembali ke Seminari Lalian pada 2009–2012. Kali ini, saya hadir sebagai pendidik bagi para siswa yang sedang menumbuhkan benih panggilan. Di sana saya menemukan bahwa mendidik bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala seorang guru ke kepala murid. Mendidik berarti menemani manusia mengenali dirinya, menemukan arah dan belajar bertanggung jawab atas masa depannya. Seorang pendidik menanam tanpa selalu mengetahui kapan benih akan tumbuh. Bahkan mungkin tidak sempat menikmati buahnya. Namun pengabdian tidak kehilangan nilai hanya karena hasilnya belum terlihat. Ada pekerjaan yang selesai ketika tugas berakhir. Ada kasih yang terus bekerja melalui kehidupan orang-orang yang pernah kita didik.

    Kini perjalanan imamat membawa saya ke ladang pengabdian lain di Sekolah Tinggi Pastoral Santo Petrus Keuskupan Atambua. Di tengah kehidupan akademik, saya semakin menyadari bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada kecerdasan berpikir. Pengetahuan yang luas belum tentu melahirkan kebijaksanaan. Gelar akademik tidak dengan sendirinya membentuk kepribadian. Iman yang fasih dibicarakan belum tentu menjadi tindakan. Karena itu saya menyimpan sebuah harapan sederhana yakni mahasiswa tidak hanya bertumbuh menjadi manusia yang berilmu tetapi juga beriman, berkarakter, kreatif dan mandiri. Sebab pendidikan yang berhasil bukan hanya membuat seseorang mampu menjawab pertanyaan tetapi juga sanggup menjawab tantangan kehidupan.

    Dari kegelisahan dan permenungan itulah lahir sebuah rumah kecil bernama RBK yakni Ruang Belajar Konsep–Ruang Belajar Kehidupan. Rumah ini mungkin tidak besar secara fisik tetapi menyimpan cita-cita yang melampaui dindingnya. Saya ingin pengetahuan tidak berhenti sebagai penghuni ruang kelas. Pengetahuan harus memiliki keberanian untuk turun ke tanah, bersentuhan dengan pekerjaan, menghadapi kenyataan dan menemukan maknanya dalam kehidupan.

    Di Ruang Belajar Konsep, mahasiswa diajak membaca, berpikir, bertanya, memahami teori dan membangun penalaran yang jernih. Mereka belajar mengenal dunia melalui ilmu pengetahuan, menguji gagasan serta membedakan pendapat dari argumentasi. Namun saya semakin percaya bahwa memahami kehidupan melalui buku belum sama dengan memahami kehidupan melalui pengalaman. Ada pengetahuan yang dapat dijelaskan di depan papan tulis. Ada pula kebijaksanaan yang baru tumbuh ketika manusia berani menyentuh kenyataan. Ruang kelas mengajarkan mahasiswa memahami kehidupan. Namun kehidupan sendiri mengajarkan apakah pemahaman itu sungguh memiliki arti.

    Perjalanan belajar tidak boleh berhenti di balik meja. Mahasiswa perlu memasuki Ruang Belajar Kehidupan, tempat pengetahuan bertemu tanah, pikiran berjumpa pekerjaan dan cita-cita diuji oleh kenyataan. Di sana mereka belajar meraba tanah, meraba hidup dan meraba Tuhan. Meraba tanah berarti berani menyentuh sumber kehidupan, menghargai kerja dan memahami bahwa hasil tidak datang tanpa usaha. Meraba hidup berarti belajar dari pengalaman, menerima keterbatasan, menemukan kemampuan diri dan bertumbuh melalui tanggung jawab. Meraba Tuhan berarti membuka kepekaan iman untuk mengenali kehadiran-Nya dalam ciptaan, kerja, keheningan dan hubungan dengan sesama. Ketiganya menjadi satu perjalanan pembelajaran yakni dari sentuhan tangan menuju kesadaran hati, dari pengalaman menuju pemaknaan, dari tanah menuju kedalaman iman.

    Di rumah kecil itu, mahasiswa belajar bahwa tangan yang biasa memegang pena juga perlu mengenal beratnya linggis dan tofa. Mereka mengolah tanah, menanam, merawat sayuran dan menyaksikan bagaimana kehidupan bertumbuh dari kesabaran. Tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah bagi manusia yang sedang belajar menjadi dewasa. Tanah tidak bertanya tentang gelar, kepandaian atau kedudukan seseorang. Tanah hanya menanggapi tangan yang tekun mengolahnya. Di hadapan tanah, semua orang kembali menjadi murid. Di hadapan kehidupan, kerendahan hati menjadi awal kebijaksanaan.

    Ruang Belajar Kehidupan bukan hanya tempat bekerja dengan otot. Di tengah kehijauan sayur, mahasiswa juga dapat memetik gitar, bernyanyi dan menikmati kesunyian tanah dengan olah rasa-olah pikir-olah diri/hati-olah raga. Di sana, suara gitar bertemu desir angin. Nada-nada sederhana mengalir di antara tanaman yang sedang bertumbuh. Mereka belajar bahwa kehidupan membutuhkan kerja keras tetapi juga keindahan. Membutuhkan ketekunan tetapi juga kegembiraan. Membutuhkan keheningan untuk mendengarkan diri sendiri, sekaligus keberanian untuk mengekspresikan kemampuan. Tangan yang memegang linggis dan tofa adalah tangan yang sama yang dapat memetik gitar. Tangan yang memegang pena di kelas adalah tangan yang sama memegang tanah di kebun. Keduanya sedang belajar menciptakan kehidupan yakni, yang satu mengolah tanah, yang lain menyuburkan rasa dan pikir serta hati.

    Saya ingin mahasiswa memahami bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari fasilitas yang mewah. Kadang kreativitas justru tumbuh di tengah kesederhanaan, ketika manusia belajar menggunakan apa yang tersedia. Di antara sayuran, tanah, alat kerja, gitar dan suara, mereka belajar mengenali bakat serta mengolah potensi diri. Mereka boleh memiliki pikiran yang tinggi tetapi kaki harus tetap berpijak di tanah. Mereka boleh memiliki cita-cita yang jauh tetapi tangan tidak boleh takut bekerja. Mereka boleh bernyanyi tentang masa depan tetapi juga harus berani menyiapkan masa depan itu dengan keringat sendiri, memasak di tungku api sambil menikmati hangatnya asap. Sebab masa depan tidak cukup dinyanyikan dengan suara yang merdu. Masa depan juga harus dibangun dengan tangan yang mau bekerja.

    Untuk mempertemukan Ruang Belajar Konsep dan Ruang Belajar Kehidupan, saya memperkenalkan sebuah jembatan bernama PILAR: Paham, Implementasi, Latih, Analisis/Refleksi dan Rutin. Mahasiswa diajak memahami sebelum bertindak, menerapkan pengetahuan dalam pekerjaan, melatih keterampilan melalui pengalaman, merefleksikan keberhasilan maupun kegagalan, lalu membangun kebiasaan baik melalui ketekunan. PILAR bukan sekadar urutan pembelajaran. Bagi saya PILAR merupakan jalan pembentukan manusia seutuhnya. Sebab karakter tidak tumbuh hanya karena seseorang mengetahui arti kebaikan. Karakter terbentuk ketika kebaikan dilatih hingga menjadi kebiasaan. Kemandirian pun tidak lahir dari keinginan untuk berhasil tetapi dari keberanian memulai, bekerja dan bertanggung jawab. Ilmu menolong manusia memahami dunia. Kerja mengajarkan cara menghidupinya. Refleksi membantu manusia menemukan maknanya.

    Pengalaman mendampingi mahasiswa bersentuhan dengan tanah membawa permenungan saya kepada cakrawala yang lebih luas. Saya hidup dan berkarya di Timor, tanah yang akrab dengan musim kering, bebatuan dan perjuangan mempertahankan kehidupan. Di sini manusia belajar membaca langit, menunggu hujan, mengolah tanah dan menjaga hubungan dengan sesamanya. Tanah yang tampak keras ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran. Dari pergulatan inilah tumbuh ketertarikan saya untuk menggali Teologi Tanah Kering Timor atau Teologi Pah Meto, yang kini sedang saya kerjakan tentang kehidupan masyarakat Atoni Pah Meto.

    Saya mulai bertanya, mungkinkah tanah yang kering juga menjadi tempat bertumbuhnya pemahaman tentang Tuhan? Mungkinkah kehidupan masyarakat yang bergulat dengan keterbatasan menyimpan kebijaksanaan teologis yang belum cukup kita dengarkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya memasuki dunia kehidupan Atoni Pah Meto. Saya berusaha memahami bagaimana manusia mengalami kebersamaan, mengatur tanggung jawab, memberi dan menerima, menghadapi perbedaan serta merawat hubungan dalam kehidupan komunitas. Di sana kasih persaudaraan tidak cukup dipahami sebagai ungkapan yang indah. Kasih perlu dibaca melalui tindakan nyata, termasuk ketika kebersamaan diuji oleh beban, ketegangan dan keterbatasan manusia.

    Dalam bahasa Meto, tindakan meraba dikenal melalui kata lab. Dari pengalaman konkret meraba tanah, saya menemukan sebuah jalan permenungan tentang pengetahuan dan kehidupan. Lab naijan (meraba tanah); mlab 'monik (meraba hidup) dan mlab Usi Neno (meraba Tuhan). Bagi saya ungkapan-ungkapan ini membuka kemungkinan untuk memahami pengetahuan bukan semata-mata sebagai kegiatan pikiran tetapi juga sebagai keterlibatan manusia dengan dunia yang menopang kehidupannya. Manusia tidak hanya mengetahui karena melihat dari kejauhan. Manusia juga belajar karena mendekat, menyentuh, mengalami dan membangun hubungan. Tanah menjadi tempat manusia belajar tentang kehidupan. Kehidupan membuka pertanyaan tentang makna. Dan pencarian makna membawa manusia memasuki permenungan tentang Tuhan. Tangan yang meraba tanah dapat menjadi awal perjalanan hati untuk mengenali kedalaman kehidupan.

    Di sinilah Ruang Belajar Kehidupan dan Teologi Pah Meto menemukan titik perjumpaannya. Keduanya berangkat dari keyakinan bahwa pengalaman manusia layak didengarkan dan direnungkan. Ketika mahasiswa mengolah tanah, mereka tidak sedang menggantikan teologi dengan pekerjaan fisik. Mereka sedang belajar bahwa iman juga menuntut tanggung jawab terhadap ciptaan dan kehidupan. Ketika mereka bekerja bersama, mereka belajar bahwa manusia membutuhkan sesamanya. Ketika mereka menikmati keheningan dan memetik gitar di antara tanaman, mereka belajar bahwa kehidupan bukan hanya persoalan menghasilkan sesuatu, tetapi juga kemampuan mensyukuri apa yang telah diberikan. Tanah menjadi ruang belajar. Kerja menjadi latihan karakter. Keheningan menjadi kesempatan berefleksi. Dan kehidupan menjadi tempat iman mencari wujudnya.

    Teologi Pah Meto sendiri masih merupakan perjalanan pencarian. Saya tidak ingin tergesa-gesa menjadikan setiap praktik budaya sebagai kesimpulan teologis. Pengalaman masyarakat perlu didengarkan terlebih dahulu. Suara mereka harus mendapat tempat sebelum peneliti memberikan penafsiran. Namun melalui proses itulah saya semakin menyadari bahwa teologi tidak hanya berkembang dalam percakapan akademik. Teologi juga dapat menemukan pertanyaan-pertanyaannya di sekitar tungku, kebun, dalam perjumpaan keluarga, di tengah pekerjaan bersama dan dalam pergulatan manusia mempertahankan hubungan. Tanah kering tidak selalu berarti kehidupan yang miskin makna. Kadang justru di tempat yang paling keras, manusia belajar betapa berharganya kehadiran orang lain.

    Di sinilah perjalanan imamat, pendidikan dan penelitian mulai bertemu dalam satu garis permenungan. Di altar, saya belajar menerima kasih sebagai rahmat. Di tengah umat, saya belajar menerjemahkan kasih menjadi pelayanan. Di ruang kelas, saya berusaha menumbuhkan kasih melalui pendidikan. Di RBK, saya mengajak mahasiswa menghidupi kasih melalui kerja, kreativitas dan tanggung jawab. Sementara melalui Teologi Pah Meto, saya sedang belajar mendengarkan bagaimana pengalaman manusia, budaya dan kehidupan bersama dapat membuka jalan bagi refleksi iman. Semuanya berangkat dari satu keyakinan bahwa kasih kepada Tuhan tidak boleh berhenti sebagai pengakuan bibir. Kasih harus menemukan tubuhnya dalam kehidupan.

    Semakin jauh perjalanan ini berlangsung, semakin saya memahami bahwa tanah kering juga dapat menjadi cermin kehidupan imamat. Tidak setiap musim membawa hujan. Tidak setiap usaha segera menghasilkan buah. Ada harapan yang tumbuh perlahan. Ada pekerjaan yang menuntut kesabaran panjang. Ada kegagalan yang memaksa seseorang memulai kembali. Namun tanah mengajarkan satu kebijaksanaan yakni benih tidak bertumbuh hanya karena ditanam. Benih membutuhkan pemeliharaan, ketekunan dan kesediaan menunggu. Demikian pula panggilan. Kesetiaan bukanlah keadaan ketika segala sesuatu berjalan baik melainkan keberanian untuk tetap merawat apa yang dipercayakan Tuhan bahkan ketika musim kehidupan sedang kering.

    Dua puluh tahun imamat tidak membuat saya merasa telah selesai belajar. Sebaliknya semakin banyak pengalaman, semakin jelas pula keterbatasan diri. Ada keputusan yang mungkin kurang bijaksana. Ada kesempatan yang belum dimanfaatkan dengan baik. Ada harapan yang belum tercapai. Ada kelemahan yang terus meminta diperbaiki. Namun justru dalam ketidaksempurnaan itulah motto tahbisan saya memperoleh makna yang semakin manusiawi. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus tentang kasih, pertanyaan itu diberikan kepada seorang murid yang pernah menyangkal-Nya. Yesus tidak memulai dengan menghitung kegagalan Petrus. Yesus membuka kembali jalan kasih dan mempercayakan tugas penggembalaan kepadanya. Kerapuhan bukan akhir dari panggilan. Selama kasih masih bersedia belajar, selalu ada jalan untuk kembali.

    Saya tidak ingin mengukur dua puluh tahun imamat hanya dari panjangnya masa pelayanan, banyaknya pekerjaan atau karya yang pernah dirintis. Semua itu dapat dicatat sebagai sejarah tetapi belum tentu menjadi ukuran terdalam sebuah kehidupan. Yang lebih penting ialah apakah kehadiran saya telah membawa sedikit terang bagi seseorang yang kehilangan arah. Apakah ilmu yang saya bagikan telah membantu mahasiswa berdiri di atas kakinya sendiri. Apakah pelayanan saya telah memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh. Apakah penelitian yang sedang saya kerjakan sungguh menghormati kehidupan masyarakat yang menjadi sumber pengetahuan. Dan terutama, apakah melalui semuanya itu, kasih Kristus semakin memperoleh tempat dalam diri saya.

    Pada usia imamat yang kedua puluh ini, saya semakin percaya bahwa manusia tidak menjadi besar karena banyaknya hal yang berhasil dikumpulkan tetapi karena kesediaannya menjadikan hidup sebagai pemberian. Pengetahuan menjadi berharga ketika dibagikan. Iman menjadi hidup ketika diwujudkan. Pendidikan menjadi bermakna ketika memerdekakan. Penelitian menjadi luhur ketika menghormati martabat manusia. Dan imamat menemukan kedalamannya ketika seluruh karya itu tidak lagi berpusat pada diri sendiri melainkan menjadi jalan bagi kehidupan orang lain.

    Saya bersyukur kepada Tuhan yang tidak pernah berhenti memanggil, sekalipun jawaban saya belum selalu sempurna. Saya mengenang dengan hormat para gembala yang menuntun perjalanan panggilan ini. Saya berterima kasih kepada saudara-saudara imam, umat, para pendidik, rekan kerja, mahasiswa, dan masyarakat yang telah membuka ruang kehidupan mereka bagi saya. Teristimewa untuk mama dan bapak yang tahun ini merayakan ulang tahun pernikahan ke 53. Dan juga saudara-saudari, anak-anak dan cucu-cucu. Melalui begitu banyak perjumpaan, saya belajar bahwa tidak seorang pun bertumbuh sendirian. Di balik perjalanan seseorang selalu ada tangan yang menopang, doa yang tidak terdengar, pengorbanan yang tidak tercatat dan kasih yang bekerja tanpa meminta nama.

    Kini, ketika menoleh ke belakang, saya melihat dua puluh tahun bukan sebagai monumen keberhasilan. Saya melihatnya sebagai sebidang tanah kehidupan yang telah disentuh rahmat Tuhan. Ada bagian yang subur. Ada bagian yang masih berbatu. Ada benih yang telah tumbuh. Ada pula yang belum memperlihatkan tunasnya. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang patut disyukuri sekaligus direnungkan. Sebab tugas seorang pekerja bukan memaksa setiap benih segera berbuah melainkan setia mengolah tanah yang dipercayakan kepadanya.

    Dari altar tahbisan di Kefamenanu, pelayanan di Kiupukan, ruang pembinaan Seminari Lalian, ruang kuliah STP Santo Petrus, rumah kecil RBK, hingga pencarian makna di tanah kering Pah Meto, saya menemukan satu benang merah yang terus menyatukan perjalanan ini yakni kasih harus dipelajari, dikerjakan, direnungkan dan dihidupi. Kasih bukan sekadar perasaan yang menghangatkan hati. Kasih adalah kesetiaan yang memiliki tanggung jawab. Kasih adalah keberanian untuk tetap hadir. Kasih adalah pekerjaan yang mungkin tidak selalu terlihat tetapi memberi kehidupan.

    Dua puluh tahun lalu, saya berdiri di hadapan altar dengan jawaban seorang imam muda. Hari ini saya ingin mengucapkan jawaban yang sama dengan hati yang telah lebih banyak disentuh kehidupan. Barangkali semangatnya tidak lagi sebergejolak dulu tetapi semoga akarnya semakin dalam. Barangkali langkahnya tidak selalu cepat tetapi semoga arahnya tetap benar. Barangkali tangan ini belum menghasilkan banyak hal tetapi semoga tidak pernah kehilangan kerelaan untuk bekerja.

    Sebab, imamat bukan terutama tentang seberapa jauh seseorang telah berjalan melainkan tentang kepada siapa seluruh perjalanan itu dipersembahkan.

    Dan kelak, ketika suara ini tidak lagi kuat mengajar, tangan ini tidak lagi mampu mengolah tanah, buku-buku harus ditutup dan seluruh pekerjaan menemukan batasnya, saya berharap masih tersisa satu hal yang tidak ikut menjadi tua yakni kasih yang pernah saya janjikan kepada Tuhan.

    Biarlah karya-karya menjadi kenangan. Biarlah waktu menyimpan sejarahnya. Biarlah tanah menerima kembali segala yang berasal darinya. Namun semoga hati tetap mampu memberikan jawaban yang sama. “Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau.”

    Karena dua puluh tahun imamat bukanlah kisah tentang betapa besar kasih saya kepada Tuhan melainkan tentang betapa setianya Tuhan mengasihi saya bahkan ketika saya masih terus belajar mencintai-Nya.

 

Kefamenanu, 18 Oktober 2026
Dalam syukur atas dua puluh tahun rahmat imamat, di bawah pohon, ruang depan rumah itu, RBK, 15.45-Minggu 18 Oktober 2026

Cerpen

SEPI BERSAMA

SEPI BERSAMA

(Oktoviana Irianti Berek)

 

Awalnya, hubungan Ara dan Axel terasa seperti sebuah candaan.

Mereka bertemu di waktu yang sama-sama membosankan. Tidak ada niat serius, tidak ada perasaan yang benar-benar tumbuh. Ara menerima Axel hanya karena ia tidak ingin merasa sepi. Baginya, memiliki pacar hanyalah cara agar ada seseorang yang bisa diajak chatting saat malam terasa kosong.

Semua bermula dari obrolan ringan yang terasa biasa saja. Ara sempat membuka Instagram Axel dan mencoba mengenalnya lebih jauh. Namun semakin ia melihat kehidupan Axel, semakin ia merasa laki-laki itu bukan tipe yang ia inginkan. Axel dikenal liar, sering mabuk, dan hidup tanpa arah yang jelas. Tetapi entah kenapa, hubungan itu tetap berjalan.

Mungkin karena Axel terlalu serius. Dan mungkin karena Ara terlalu egois untuk menghentikannya sejak awal.

Beberapa minggu mereka sempat hilang kabar. Namun setelah itu, mereka kembali chatting seperti biasa. Axel mulai menunjukkan keseriusannya. Ia benar-benar ingin menjadikan Ara sebagai pacarnya, sedangkan Ara masih menganggap semua itu hanya hubungan untuk mengusir bosan.

Cara Ara membalas pesan selalu singkat dan dingin. Tidak ada perhatian berlebih, tidak ada effort seperti pasangan pada umumnya. Hingga suatu hari Axel berkata pelan kepadanya, “Kamu itu seperti tidak menganggap kalau kita pacaran.”

Ara hanya diam. Karena sebenarnya Axel benar.

Ara memang tidak pernah benar-benar membuka hati untuknya.

Hari demi hari berlalu. Axel tetap bertahan meskipun Ara terus bersikap cuek. Sampai akhirnya, hari yang mengubah semuanya datang.

Hari Senin pagi setelah upacara kampus selesai, Ara berjalan pulang ke asrama bersama temannya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Axel. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tubuhnya terlihat lemah. Ternyata semalaman Axel mabuk dan tidak tidur, tetapi tetap memaksakan diri datang ke kampus.

Axel menghentikan langkah Ara di jalan.

Ara hanya menatapnya sekilas, menjawab seperlunya, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Dalam hati, rasa risih Ara semakin besar. Ia memang tidak suka laki-laki pemabuk.

Saat itu Ara sadar bahwa ia tidak bisa terus menjalani hubungan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.

Pernah suatu kali Ara berkata kepada Axel, “Aku tidak akan minta putus. Tapi aku akan buat kamu tidak betah dengan sifatku.”

Dan ternyata, ucapan itu benar-benar terjadi.

Pada hari Selasa, 26 Mei 2026, hubungan mereka berakhir. Bukan Ara yang meminta putus, melainkan Axel sendiri.

Namun bahkan di akhir hubungan itu, Axel masih meminta maaf. “Takutnya selama ini aku buat kamu malu,” katanya.

Ara hanya tersenyum kecil dan menjawab pelan, “Aman saja. Tidak apa-apa.”

Karena jauh di dalam hatinya, Ara tahu bahwa selama ini ia juga tidak pernah benar-benar hadir dalam hubungan itu.

Kadang seseorang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan bahwa hubungan tanpa ketulusan hanya akan berubah menjadi luka. Dan dalam kisah Ara dan Axel, mereka sama-sama belajar bahwa rasa sepi bukan alasan untuk mempertahankan seseorang.

***Mahasiswi Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua

Daerah

RUA VII PERPETAKI DITUTUP, PENGURUS BARU DILANTIK DI NAESLEU

KOLKITA-Kefamenanu, Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik (PERPETAKI) menutup rangkaian Hari Studi dan Rapat Umum Anggota (RUA) VII melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, Pater Vinsensius Wun, SVD, di Gereja Santo Yohanes Pemandi Naesleu, Kefamenanu, Minggu (18/10/2026). Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum pelantikan Badan Pengurus Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik (PERPETAKI) periode 2026–2029.

    Misa penutupan dihadiri Pastor Paroki Naesleu, Rm. Gabriel Alos, Pr., bersama para imam konselebran, Ketua Yayasan Snuna, Rm. Gabriel Bouk, Pimpinan PERPETAKI, RD. Dr. Florens Maxi Un Bria, para pimpinan Sekolah Tinggi Pastoral se-Indonesia beserta pengurus, sivitas akademika STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, serta umat Paroki Naesleu. Paduan suara gabungan mahasiswa tingkat I–III STP Santo Petrus turut memeriahkan perayaan Ekaristi.

    Dalam perayaan tersebut, Pater Vinsen menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pimpinan perguruan tinggi Katolik dari berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, perjumpaan tersebut menjadi kehormatan tersendiri bagi Gereja lokal.

    “Misa ini adalah suatu kehormatan besar bagi Keuskupan Atambua khususnya umat Paroki Naesleu, karena pada hari ini hadir di tengah-tengah kita orang-orang penting yang datang dari perguruan tinggi agama Katolik seluruh Indonesia,” ungkapnya.


    Salah satu agenda penting dalam misa penutupan ialah pelantikan Badan Pengurus PERPETAKI periode 2026–2029. Prosesi diawali dengan pembacaan berita acara hasil pemilihan oleh Dr. Anselmus Yata Mones, S.Fil., M.Pd., selaku panitia pemilihan. Pemilihan badan pengurus baru berlangsung di Hotel Livero, Jumat (17/10/2026).  

    Pengurus baru PERPETAKI periode 2026-2029 dilantik oleh Dewan Pembina PERPETAKI Dr. Drs. Paulus Setyo Istandar Tan, BA, M.Th dari STPK St. Yohanes Rasul Jayapura. Momentum tersebut menandai dimulainya tanggung jawab kepengurusan baru dalam memperkuat kerja sama, mutu pendidikan dan arah pengembangan perguruan tinggi agama Katolik di Indonesia.

    Badan pengurus baru yang dilantik sebagai berikut: Dr. Florens Maxi UN Bria, S. Ag, M. Sos (Ketua) dari STIPAS Keuskupan Agung Kupang, Dr. Sunarso. S.T. M.Eng (Sekretaris) dari STAKAT Negeri Pontianak, Dr. Agustinus Sem Porak, M.Hum (Bendahara) dari STIKPAR Toraja, Dr Dominikus Doni Ola (Anggota) dari STP Dian Mandala Gunung Sitoli Nias dan Philipus Benitius Metom, S.Ag. M.Hum (Anggota).

    Rangkaian acara juga diisi dengan sambutan Ketua STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Ketua PERPETAKI terpilih, serta Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua.

    Misa penutupan menjadi puncak rangkaian kegiatan PERPETAKI yang berlangsung sejak Kamis (15/10/2026). Kegiatan diawali dengan penjemputan peserta dan misa pembukaan di Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu.


    Pada Jumat (16/10/2026), peserta mengikuti seminar ilmiah bertema, “Membangun Peradaban Ekologis melalui Pendidikan Katolik untuk Indonesia Emas 2045” di Aula Mgr. Sulama, STP Santo Petrus Keuskupan Atambua.

    Tema tersebut menempatkan pendidikan Katolik dalam tanggung jawab membentuk manusia yang berkarakter, memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta mampu membangun hubungan yang bertanggung jawab dengan alam dan sesama.

    Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peresmian dan pemberkatan Gua Santa Maria Fatima di lingkungan kampus STP Santo Petrus. Pada malam harinya, para anggota PERPETAKI melaksanakan Rapat Umum Anggota di Hotel Livero, Kefamenanu.

    Kegiatan nasional ini mendapat dukungan Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, A.M. Adiyarto Sumardjono, S.E., M.Hum., serta seluruh anggota PERPETAKI.

    Berakhirnya Hari Studi dan RUA VII PERPETAKI tidak hanya menandai pergantian kepengurusan organisasi tetapi juga mempertegas tanggung jawab perguruan tinggi Katolik dalam membentuk generasi yang beriman, berkarakter dan peduli terhadap keberlanjutan kehidupan.

    Dari Kefamenanu, semangat membangun peradaban ekologis melalui pendidikan Katolik diharapkan terus berkembang menjadi komitmen bersama menuju Indonesia Emas 2045. (ES/AO)

Internasional

Internasional

PAUS FRANSISKUS MEMPROMULGASIKAN ENSIKLIK BARU: "DILEXIT NOS", TENTANG HATI KUDUS YESUS

Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.

Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.

Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.

“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.

Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.

Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.

Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)


Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik

Puisi

J E J A K K A S I H

J E J A K    K A S I H

Catatan akhir hari ini-KU

 

Dua puluh tahun silam
di keheningan altar
saya menitipkan hati yang rapuh
kepada Cinta yang tak pernah rapuh

Sejak itu,
waktu mengajari saya membaca Injil
pada wajah-wajah sederhana
pada luka yang merindukan pelukan
pada kesetiaan yang tumbuh tanpa tepuk tangan

Di antara buku dan wajah-wajah muda
saya belajar menabur cahaya
Di ruang konsep, pikiran membuka cakrawala
di ruang kehidupan, tangan menyentuh kenyataan
Sebab ilmu membutuhkan kaki untuk melangkah
dan iman membutuhkan hati untuk mengasihi

Di antara pena, linggis dan tofa
gitar bernyanyi di kehijauan sayuran
Keringat menyirami cita-cita
kesunyian merawat kedalaman
dan tanah mengajari mimpi
agar tumbuh tanpa kehilangan kerendahan hati

Dari tanah kering 
saya belajar mengeja rahasia kehidupan
batu tak selalu mematahkan akar
kemarau tak selalu menguburkan harapan
dan kasih masih mampu berbunga
di tanah yang kehilangan hujan

Kini, dua puluh tahun berlalu
Saya bukan pohon yang selesai berbuah
hanya penanam kecil
yang masih belajar setia kepada musim

Ada doa yang belum sempurna
ada harapan yang belum berbunga
ada tangan yang mulai lelah
tetapi belum ingin berhenti memberi

Kelak,
ketika pena kehilangan aksara
gitar menyimpan nada terakhir
dan tangan kembali menjadi tanah
semoga kasih tetap tinggal
sebagai jejak paling sunyi
dari seluruh perjalanan

Tuhan,
jika hari ini Engkau kembali bertanya
jawaban saya masih sama
meski kini lebih lirih
dan lebih dalam

“Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau”

Sebab,
dua puluh tahun akhirnya mengajari saya
Bukan tangan saya yang begitu kuat menggenggam-Mu
melainkan tangan-Mu
yang tak pernah melepaskan saya 

***Di bawah pohon depan rumah ini, menuju akhir hari ini, tabe ma nek seunbanit namfau USI 
Renungan

BATU PENJURU

BATU PENJURU

Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

    Ada ironi yang halus dalam Injil ini. Para penggarap kebun anggur bukanlah orang asing. Mereka justru dipercaya mengelola milik tuannya. Namun kepercayaan itu perlahan berubah menjadi rasa memiliki. Mereka mulai bertindak seolah-olah kebun itu adalah hasil jerih payah mereka sendiri. Setiap utusan yang datang dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai pengingat. Bahkan anak pemilik kebun pun dibunuh demi mempertahankan apa yang sebenarnya bukan milik mereka (Mat. 21:33–39). Itulah sebabnya Yesus menutup perumpamaan ini dengan mengutip Mazmur, "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru" (Mat. 21:42).

    Banyak orang mengira batu penjuru adalah batu pertama yang diletakkan ketika membangun rumah. Bukan. Batu pertama hanya menandai dimulainya pembangunan. Batu penjuru menentukan arah seluruh bangunan. Di atas batu itulah garis, sudut dan keseimbangan bangunan diukur. Jika batu pertama bersifat simbolis, batu penjuru bersifat menentukan.

    Secara eksegetis, batu penjuru adalah batu yang menentukan arah dan kekokohan seluruh bangunan. Ketika batu itu ditolak, bangunan kehilangan pusatnya. Demikian pula hidup manusia, saat Kristus disingkirkan dari pusat kehidupan, segala sesuatu mungkin masih tampak berdiri tetapi perlahan kehilangan arah dan makna.

    Sering kali kita tidak menolak Kristus dengan kata-kata melainkan dengan cara hidup. Kita memberi ruang bagi-Nya pada hari Minggu tetapi keputusan-keputusan penting justru ditentukan oleh ambisi, gengsi, keuntungan atau penilaian orang lain. Kristus tidak lagi menjadi batu penjuru melainkan hanya batu hiasan yang diletakkan di sudut kehidupan. 

    Sabda hari ini mengundang kita untuk mengembalikan Yesus ke tempat yang semestinya, pusat hati, pusat keluarga, pusat pelayanan, dan pusat setiap pilihan hidup. Sebab hidup yang dibangun di atas Kristus mungkin tetap menghadapi badai tetapi tidak akan kehilangan fondasinya. Ketika Kristus menjadi batu penjuru, hidup bukan hanya kokoh tetapi juga menjadi tempat di mana orang lain dapat menemukan harapan dan mengalami kasih Allah.


Renungan HMB XXVIIA, hutan keramat, 04/10/2026

Serba Serbi

Serba Serbi

KEJUJURAN MENGANTAR PERTUMBUHAN

Setiap tahun akademik menawarkan sebuah cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka, melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil. Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.

Jika kita membaca data-data evaluasi diri secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.

Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu, ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.

1. Pelajaran Besar dari Data

Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa, tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil, konsisten dan berulang.

Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa “tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.

Ketiga, distraksi digital adalah musuh terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri waktu belajar.

2. Apa Maknanya?

Melihat kejujuran mahasiswa, kita diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik, ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).

Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka pintu perubahan.

Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…, Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.

3. Titik Balik

Melalui data ini kita belajar satu hal penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan diam di tengah hiruk-pikuk.

Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi menumbuhkan manusia.

4. Puncak Refleksi

Di tengah kelemahan dan pergulatan yang tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah perjalanan spiritual.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu ditolong”.

Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah” (Roma 12:2).

Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.

Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan pemulihan yang tak pernah dibayangkan.

Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.


**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.


Cerita Bersambung

Cerita Bersambung

MALAM JUMAT YANG PANJANG (Part. 5)

MALAM JUMAT YANG PANJANG

MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)

Oleh: Lena Salu


    Terhitung sudah hampir tujuh bulan aku menjalani rutinitas perkuliahan dengan efektif sampai aku tak menyangka waktu terasa begitu singkat dan pendek. Kebiasaan nongkrong ngopi di pojok cafe dan pesta bareng teman-teman kampusku di klub-klub hampir tak pernah kudatangi. Mungkin aku takkan pernah merindukan momen-momen itu lagi, atau belum waktunya tuk kupikirkan sebagai salah satu SKS tambahan dalam roster harianku yang terus mengejarku untuk menyelesaikan tugasku yang hampir serumit rumus kalkulus. Yang ada sekarang di depanku hanyalah laptop ditemani tumpukan buku cetak beserta catatan-catatan yang tak pernah berkurang dari galeri kamarku.
    Kesibukanku semakin tampak gila membuatku bahkan tak sempat membaca balasan surat dari sahabatku...  yang sudah seminggu dihantar pak pos. Surat itu masih utuh tersegel rapi dalam keranjang surat di bilikku. Aku tak pernah melirik ke sana dan menyempatkan sedikit waktu tuk membacanya. Entah aku yang salah atau aku yang hampir lupa? Aku tak dapat menyalahkan pak pos. Entahlah, aku hanya bisa sedikit menyalahkan diriku yang sama sekali lupa akan hal ini.
    Kuraih amplop kecil itu dengan cepat dan lantas tak memperhatikan lagi perangko di depannya yang sebenarnya adalah hal pertama yang biasanya kulakukan sebelum membukanya setiap kali aku mendapatkan surat. Aku selalu mengoleksinya sebagai sesuatu yang paling berharga dan berarti bagiku. Kali ini aku melanggarnya dan cepat-cepat menggunting sudutnya. Kutarik surat kecil di dalamnya dan kaki ini ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Aku mendapati sebuah Rosario merah dan juga sebuah flashdisk Michy Mouse berbentuk lucu dengan gantungan hati.
    Waoooww kutarik napas dalam dan sedikit menahan diriku yang berguncang hebat. Apakah ini? Aku bertanya dalam hati dan menebak isi dari flashdisk tersebut. Mengapa baru hari ini aku termotivasi untuk membuka amplop ini? Sedangkan waktunya sudah hampir seminggu yang lalu. Ohhh aku membayangkan berapa lama ia menunggu balasanku dari jauh. Mungkinkah ia menyesalinya dan menganggapku manusia dan sahabat yang paling tidak beradab dalam pandangannya? Akankah ia menyeretku keluar dari daftar sahabatnya yang pernah ia jumpai di atas planet bumi ini dan membiarkanku mengembara tanpa tujuan yang pasti?
    Ohhh semoga tak seperti yang sedang berputar-putar  dalam fantasiku saat ini. Aku berharap ia masih menanti sebuah amplop kecil yang akan ku kirimkan beberapa hari kedepannya setelah aku menyelesaikannya. *****

 Teruntukmu Celine, di bilik penantian

Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.

Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.

Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu  disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.

Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.


NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.

Aku yang mengasihimu dari jauh,

(.................)

********** 

Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.

Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.

Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.

Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.

*********

Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.

Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.

Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.

************

Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.

Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.

Video