SUARA KERAS, HATI YANG LEMBUT
Catatan Reflektif Empat Puluh Tahun Imamat Rm.
Aloysius Kosat, Pr.
Yasinta Carla Bria
Seratus
lima imam hadir dalam perayaan Ekaristi syukur empat puluh tahun imamat Rm.
Aloysius Kosat, Pr., di Usapi Baamfaun, tanah kelahirannya, pada 19 Oktober 2026. Di tengah kebersamaan para imam dan
umat, Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., memimpin perayaan yang
menghadirkan lebih dari sekadar kenangan. Empat dasawarsa pengabdian dibawa
kembali ke hadapan altar sebagai ungkapan syukur atas panggilan yang terus
diperjuangkan. Sabda Yesus menjadi pusat permenungan: “Anak Manusia datang
bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:28).
Empat puluh
tahun bukan sekadar angka. Ada pengorbanan yang tidak tercatat, kesulitan yang
dilalui dan doa yang hanya diketahui Tuhan. Namun kedalaman imamat tidak
terutama ditentukan oleh panjangnya pengabdian melainkan oleh kesetiaan
menghidupi panggilan. Seorang imam tidak menjadi besar karena lamanya melayani
tetapi karena hidupnya semakin menjadi pelayanan.
Dalam kata
pembukaannya, Uskup menyampaikan ungkapan yang begitu kuat menggambarkan
pribadi sang yubilaris: “Romo Alo ini, suaranya keras tetapi hatinya selembut
salju.” Di balik ketegasan terdapat perhatian. Di balik disiplin tersimpan
tanggung jawab. Kepribadian ini memperlihatkan bahwa ketegasan dan kelembutan
tidak harus bertentangan. Ketegasan menjaga prinsip, kelembutan menjaga
manusia. Keduanya memperoleh martabat ketika dijalankan dengan kasih.
Kesetiaan tersebut berakar pada nilai-nilai keluarga, ditempa oleh pengalaman dan dimatangkan melalui berbagai tugas perutusan. Bagi Rm. Alo, kesiapan diutus bukan sekadar kesediaan berpindah tempat melainkan keberanian menyerahkan diri kepada kebutuhan pelayanan. Seorang imam tidak hanya belajar menerima tempat tugas tetapi juga mencintai manusia yang dipercayakan kepadanya.
Dalam sambutannya, Rm. Alo mengenang perjalanan pastoral di Paroki Betun, Besikama, Maubesi, Santa Theresia Kefamenanu hingga Seon. Namun yang menarik bukan semata-mata deretan tempat pengabdian itu. Sang yubilaris justru memberi perhatian besar pada pendidikan asrama. Beliau bahkan menyebut sejumlah orang yang pernah dibinanya. Kenangan tersebut menyimpan pesan penting bahwa pelayanan tidak hanya meninggalkan sejarah tetapi juga membentuk manusia. Seorang imam dapat meninggalkan tempat tugasnya tetapi nilai yang pernah ditanam dapat terus hidup dalam diri mereka yang dididiknya.
Asrama,
dalam pengalaman pastoral itu, bukan sekadar tempat tinggal. Asrama menjadi
sekolah kehidupan untuk melahirkan kader-kader berkualitas untuk Gereja dan bangsa. Di sana disiplin dibentuk, tanggung jawab dilatih,
kemandirian ditumbuhkan dan kebersamaan dipelajari. Pendidikan tidak selesai
ketika seseorang mampu menjawab soal tetapi ketika pengetahuan membentuk cara
hidup. Sekolah mencerdaskan pikiran, pembinaan karakter mendewasakan manusia.
Keberhasilan seorang pendidik bukan terutama ketika anak-anak patuh di
hadapannya melainkan ketika mereka tetap hidup dengan nilai-nilai baik setelah
berjalan sendiri.
Ketegasan
Rm. Alo juga tampak ketika memberi pengajaran kepada umat. Hal ini diangkat
oleh Rm Lusius Tae Mau, Pr sebagai pengkotbah dalam perayaan ini dengan ungkapan
Bahasa Meto, “Hom nao he misa mes-mes me ho mnao he mfesek onle
sabuik” (Engkau pergi doa sendiri-sendiri, tapi bila ke pesta seperti semut).
Artinya Ketika orang berdoa, kehadiran manusia tidak banyak, namun Ketika hajatan
pesta kehadiran manusia begitu banyak. Ungkapan sederhana ini menyentuh
persoalan yang lebih dalam daripada kehadiran dalam ibadat. Manusia sering
memiliki banyak waktu untuk sesuatu yang menyenangkan tetapi begitu sedikit
waktu untuk sesuatu yang memberi makna. Teguran itu mengajak umat menata
kembali prioritas hidup dan kedekatan dengan Tuhan.
Di balik
ketegasan tersebut, kesederhanaan tetap menjadi kekuatan pelayanan. Rm. Alo
memberi bukan karena selalu memiliki kelebihan melainkan karena bersedia
berbagi dari apa yang dimilikinya. Di sinilah kasih memperoleh wujud yang
paling manusiawi. Kebaikan tidak menunggu seseorang memiliki banyak hal.
Kebaikan dimulai ketika hati bersedia memberikan sesuatu.
Uskup menghubungkan empat puluh tahun imamat dengan empat puluh tahun perjalanan Israel di padang gurun. Perbandingan ini mengandung kedalaman rohani. Padang gurun bukan sekadar tempat kekurangan melainkan ruang pemurnian dan pembentukan kesetiaan. Demikian pula imamat. Ada musim yang subur, ada masa yang gersang. Ada keberhasilan yang menggembirakan, ada pengorbanan yang tidak segera berbuah. Kesetiaan bukan berarti jalan selalu mudah melainkan hati tidak kehilangan arah ketika perjalanan menjadi sulit.
Perayaan empat puluh tahun imamat Rm. Alo akhirnya menjadi cermin bagi para imam, pendidik, keluarga dan seluruh umat. Kewibawaan tidak harus dibangun melalui kekuasaan. Ketegasan tidak boleh kehilangan kelembutan. Pendidikan tidak cukup menghasilkan kecerdasan tanpa karakter. Pelayanan pun tidak boleh berubah menjadi keinginan untuk dihormati. Yesus telah memperlihatkan jalan yang berbeda. Sang Guru berlutut dan membasuh kaki para murid-Nya. Dalam Kerajaan Allah, kebesaran menemukan martabatnya justru ketika seseorang bersedia merendahkan diri untuk melayani.
Barangkali
warisan paling berharga dari empat puluh tahun imamat Rm. Alo bukan terutama
banyaknya pekerjaan yang diselesaikan atau tempat yang pernah dilayani. Warisan
itu hidup dalam manusia yang pernah didampingi, anak-anak asrama yang pernah
dibina dan nilai-nilai yang terus bertumbuh melampaui masa pengabdiannya. Pelayanan
yang bermakna tidak selalu meninggalkan bangunan besar. Kadang warisan
terbesarnya adalah manusia yang bertumbuh menjadi pribadi yang baik.
Imamat bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di hadapan umat. Melainkan seberapa rendah hatinya bersedia membungkuk untuk melayani. Dan ketika suara yang keras suatu hari menjadi lirih, semoga kasih yang pernah disuarakannya tetap bergema. Bukan hanya dalam kenangan tetapi dalam karakter, tanggung jawab dan kehidupan generasi yang pernah dibentuknya.
Sebab suara dapat berhenti terdengar tetapi kehidupan yang dibentuk oleh kasih akan terus berbicara bahkan setelah sang pendidik selesai mengucapkan kata-katanya.
Tag
Berita Terkait
LEBENSWELT TABUA: KOSMOLOGI KEBERSAMAAN ATONI PAH METO DALAM CERMIN FENOMENOLOGI ALFRED SCHUTZ
Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru
Jajak Pendapat Online